PART 12. Nekat

1237 Kata
Handphone masih bergetar di atas meja, Sheila terdiam kaku, apa yang akan dikatakannya jika dia mengangkat panggilan itu? Ricky tepat berada di sampingnya, akan sangat berbahaya jika dia mendengar langsung segala rayuan busuk Jonathan, sedangkan baru tadi dia menjelaskan bahwa pria itu hanya mengantar jemput nya selama ini, tak lebih dari itu. Kepercayaan Ricky bisa berangsur luntur, jika setiap perkataan tak sesuai kenyataan. "Kenapa tak kamu angkat saja, siapa tahu penting?" Ricky melanjutkan, setelah menyuap kembali mulutnya, sama sekali tak terpikir siapa nama di balik nomor itu. Sheila menoleh ragu, mengangguk kecil, lalu handphone digapainya. "Kau baik-baik saja? Aku sangat khawatir kau sendirian di sana". Langsung saja pernyataan menyebalkan itu diungkapkan, Sheila berdecak, nafsu makannya hilang seketika. "Ya, aku sedang.." "Tak lama lagi aku sampai, tunggulah kita akan makan di luar". "Tak perlu, aku sudah.." "Jordy yang memintaku untuk melihatmu, berdandanlah secantik mungkin". Seketika Sheila menutup telefon, Ricky menghentikan suapan selanjutnya. "Jonathan. Kamu harus sembunyi". Sheila bangkit, mencengkram tangan Ricky kuat, ketakutan hebat merenggut ketenangan itu begitu saja. "Kenapa? Dimana dia sekarang?" Ricky turut bangkit, wajahnya berangsur tegang, sesekali menengok lurus ke pintu ruangan tamu. "Tak lama lagi dia datang, ayo cepat naik!" Sheila tergesa menyeret lengan itu, membawanya kembali ke kamarnya. Itu adalah tempat paling aman, tak satu pun pria pernah berpijak di sana sebelumnya. "Tapi untuk apa dia kesini, bahkan kamu tak menjelaskan padaku maksud kedatangannya". "Tak perlu penjelasan untuk orang seperti dia, dia melakukan apa saja sesuai kemauan Papi", bibir mungil itu sedikit gemetar, yang jelas hanya itu alasan yang benar. Keduanya bergegas menaiki tangga, kemudian masuk ke dalam kamar. Pintu ditutup dengan hati-hati tanpa suara. Sheila mendekat, berdiri di hadapan Ricky tak berjarak. "Kali ini tolong aku, jangan menampakkan diri di depannya, jika tidak kamu dan aku akan tamat, percayalah!", kata Sheila dengan penuh penekanan, Ricky harusnya tahu akibat jika peringatan itu dilanggarnya. "Aku akan mengusirnya perlahan, sebisa mungkin". "Baiklah, jangan biarkan dia menyentuhmu". "Tak akan, kamu harus.." "Berteriaklah sekuat yang kamu bisa, aku akan menghabisinya", api di mata Ricky begitu menyala, tak ada lagi seorang pun kecuali mereka, bisa saja pria tersebut melakukan perbuatan tak senonoh pada Sheila. Sheila membuka pintu, Jonathan berdiri di sana. Dia sedang mengamati sebuah motor bergaya Japstyle yang terparkir sembarangan di depan rumah, Ricky tak sempat memasukannya ke dalam garasi, mengingat keduanya yang terburu masuk ke rumah tadi. "Kau pengguna motor?" Jonathan mengelus janggutnya, mengernyit keheranan. "Emm, tidak. Aku tadi.." Jonathan segera membaca gerak-gerik wanita itu, kemudian masuk dengan seenaknya. Beberapa sudut telah dia datangi, apakah ada orang lain di sana. Tak lama, dia memperhatikan lantai rumah, yang menyisakan jejak lumpur sepatu dengan motif yang berbeda, kemudian mengikutinya. Jonathan mengangguk perlahan. "Apa yang kau cari?" Sheila menahan gugupnya yang tak tertolong, malaikat maut seakan mendatanginya, ingin mati saja rasanya. Jonathan tak menanggapi, kemudian langkah dengan suara boots yang berdecit di lantai itu mengarah ke ruang keluarga. Dia terhenti tepat di meja makan, kedua tangannya berkacak pinggang, ada sesuatu yang mustahil di sana. Sheila tak mungkin makan di dua piring secara bersamaan, porsi yang tersisa masih cukup banyak. Sangat janggal, tubuh se-indah itu tak akan sudi menghabiskannya sendirian. Sheila mengikutinya dari belakang, Jonathan masih memperhatikan apa yang ditemukan. Sheila menelan ludah dengan susah payah, bagaimana jika dia ketahuan membawa seseorang di sana, terlebih seorang pria? Masa depannya akan lenyap di tangan Jordy malam itu juga, artinya dia akan pasrah untuk segala yang dikorbankannya selama ini. Jonathan berbalik, menatap Sheila dengan senyuman sinis, seolah dia mampu menebak apa yang dilakukannya sebelum dirinya datang, ada seseorang yang sedang dia sembunyikan. "Dengan siapa kau di rumah ini? Motor dan makanan itu?" Jonathan mengangkat satu alisnya, menanti jawaban Sheila yang pasti akan mengacau, jika hal itu terbongkar dia akan menang telak atas kebohongan ini. "Aku sendirian, temanku mampir setelah aku mengajaknya kemari", Sheila semakin susah mengatur nafasnya sendiri, deru jantung ingin meledakkan dadanya. "Oh, begitu?" Senyuman sinis itu berlarut drastis menjadi curiga, Jonathan berlari menaiki tangga dan masuk ke kamar Sheila dengan paksa. Suara pintu terbanting kasar di sana. "Apa yang kau lakukan? Ini rumahku, dan kau tak berhak melakukan semua ini!" Sheila meneriaki pria itu, bergegas menyusulnya. "Pergi dari kamarku!" Sheila meraih tangan Jonathan kasar, menariknya keluar sekuat tenaga. Namun kekuatan wanita sepertinya tak akan berarti, tubuh berotot itu hanya terguncang sejengkal, lalu kembali menarik diri ke tempat semula. "Bersabarlah, sayang. Sebentar lagi kau akan menjadi milikku", Jonathan menghempaskan tubuh Sheila, kemudian memeriksa beberapa benda yang memungkinkan seseorang bisa bersembunyi di dalamnya. Sheila terduduk lemah, mungkin saatnya dia menyerah, hanya tangis lirih yang bisa dia perbuat sekarang ini. Jonathan membuka pintu, dimana sebuah balkon luas berada di baliknya, setengah tubuhnya berada di luar, tangan dikepalnya begitu waspada. Perlahan dia menarik tubuhnya kembali, seketika sebuah sabuk melingkar ketat di lehernya, seseorang mencekiknya dari belakang. Tarikan kuat semakin dibuatnya, hingga Jonathan tak mampu menahan, sampai akhirnya terseret ke luar kamar. Beberapa detik nadi nya tersumbat, nafas tersengal hingga tak sedikit pun kesempatan udara dihelanya. Tubuh gagah itu perlahan melemah, lalu dibiarkan terjungkal begitu saja. Untungnya masih di lantai dua, jika saja jatuh ke bawah, mungkin wajahnya bisa hancur tak karuan. Ricky tersenyum puas, Sheila hanya menutup mata dengan kedua tangannya rapat-rapat, dia tak menyukai kekerasan. Sempat mengurungkan langkah Ricky keluar dari toilet dengan bahasa tubuh sebisanya, Ricky telah siap dengan ikat pinggang tercengkeram di telapak tangan. Namun Jonathan akan segera berpaling, jika dia terlalu berisik, bisa saja keduanya malah baku hantam di sana, pasti semuanya akan semakin kacau. Sheila masih menahan tangis, tak bergerak dari tempatnya. Masalah baru telah timbul, bagaimana jika Jonathan mati dan Ricky dijebloskan ke penjara? Ricky merunduk, memastikan pria itu tak kebablasan. Dua jari ditempelkannya di tenggorokan, nadi masih berdenyut, Jonathan rupanya hanya pingsan. "Aku tak punya pilihan lagi", kata Ricky sembari menyeret tubuh itu, nafasnya tersengal, tenaga yang dikeluarkannya cukup besar. Sheila hanya berdiri di ambang pintu, menampakkan sedikit wajahnya. "Kamu tak perlu khawatir, sudah ku bilang, aku mempunyai kemampuan bertahan yang hebat, kamu aman bersamaku", Ricky berhenti, mengatur nafas sembari mengusap keringatnya, Sheila menatap kecewa. Bukan untuk mengasihani Jonathan, tapi Ricky tak seharusnya melakukan hal berbahaya seperti itu. Sheila merasa dirinya mampu menjaga diri, bahkan membujuk pria itu untuk keluar dari rumahnya perlahan. Namun, bukan Ricky namanya jika tak nekat. Dia memulai lagi, menyeret sekuat tenaga tubuh Jonathan yang belum juga tersadar, lalu membawanya turun dengan mengangkatnya membawa kembali ke dalam mobil. Sheila melawan gemetar tubuh yang masih hinggap, perlahan turun menyusuri tangga mengikuti arah Ricky. "Lalu apa yang akan kamu lakukan? Jika seseorang tahu, kita pasti dituduh membunuhnya!", umpat Sheila kesal, namun menahan suaranya, Ricky menoleh sejenak tanpa menggubrisnya. Mobil dibuka, dengan kasar Ricky menghempaskannya ke dalam, di bangku belakang. "Sebaiknya kita bawa ke suatu tempat yang aman, kamu yang membawa mobil, dan aku akan mengikuti dari belakang agar dia tak melihatku", kata Ricky dengan nafas tersengal. Sheila menghela nafas lelah, pembelaan Ricky kali ini begitu merepotkan keduanya. Hampir lima belas menit perjalanan, mereka sampai di sebuah tempat, dimana di sisi kanan kiri jalan terhampar pepohonan tinggi menjuntai, beralas rumput teki yang lumayan tinggi. Sangat sunyi, hanya menyisakan suara serangga malam dan aliran sungai yang cukup deras, entah dimana letaknya. Mobil berhenti di tepi jalan. Sheila turun dari mobil, Ricky telah siaga di belakang dengan motornya, menggeleng ke kiri ajakan untuk meninggalkan tempat segera. "Kamu yakin tak ada yang melihat kita?" suara Sheila melawan kuatnya hembusan angin, motor melaju sangat kencang. "Tak seorang pun di sini, tenanglah", Ricky berpaling sekejap, memberi harapan jika mereka baik saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN