bc

Sang Tokoh Cerita [Bahasa Indonesia]

book_age18+
4
IKUTI
1K
BACA
goodgirl
sweet
gorgeous
selfish
like
intro-logo
Uraian

Sang Tokoh Cerita

“Kekaguman yang besar tumbuh tanpa beralaskan. Sempat menerka banyak perasaan, nyata atau tidaknya sebuah pengharapan. Ternyata, bukan hanya aku yang terbawa suasana akan parasmu di layer kaca, ternyata itu nyata Ketika nyaris aku lupa diri Ketika kamu di sini, dihadapanku, ternyata kita pernah sedekat itu. Namun sayang, rasanya tetap jauh dan tak akan tersentuh”

Pertemuan yang indah dengan sang Idola, membuat Rania jatuh hati dengan yang tak nyata dan sulit digapai. Tapi entah mengapa, rasanya takdir dan semesta membiarkan Rania mengukir kenangan bersama Abirama, sang idolanya, namun ia datang bukan hanya tentang kekaguman, Abirama memberikan sebuah warna yang baru dihidup Rania. Meski kenyataan tak seindah kisah di layar kaca, nyatanya Rania dan Abirama memilih tetap berjuang bersama. Walau masalah datang tanpa jeda, ternyata Rania tak jatuh kepada orang yang salah. Kekaguman itu berubah menjadi cinta, ketidakmungkinan itu berubah menjadi kenyataan dan mereka berdua bersama dalam sebuah ikatan.

chap-preview
Pratinjau gratis
Prolog (Perasaan apa?)
“Tak ada kesan terbaik sampai detik kau melepaskannya, hanya luka yang tersisa hingga detik seakan terhenti” Rania mengerjapkan matanya beberapa kali, ketika tirai nya dibuka paksa oleh sahabatnya, Andira. Ia memijat-mijat keningnya yang pening akibat mabuk tadi malam. Tak biasanya ia seperti ini, bahkan ini kali pertamanya Rania meminum alkhol dan memabukan dirinya. Kejadian malam itu tak akan pernah Rania lupakan, lelaki yang menjadi harapan satu-satunya Rania untuk menjalani hidup, kini menjadi satu-satunya lelaki yang akan ia benci selama sisa hidupnya. “Bangun, tidur yang berkepanjangan nggak akan buat sakit hati lo ilang” ujar Andira sembari melangkahkan kakinya ke dapur Saat ini, mereka ada di apartement Rania yang berada di Jakarta Selatan, ya Rania tinggal sendiri di hunian ini yang diberikan oleh orang tuanya, karena Rania ingin mandiri dan juga terbilang dekat dengan kantornya saat ini. Orang tua Rania menetap di Bogor dengan adik-nya, jika tidak sibuk, biasanya Rania pulang seminggu sekali ke Bogor hanya untuk menemui orang tua dan adiknya. Rania bercermin di kamera handphone-nya, matanya terlihat sembab, terlihat seperti sedang menangis semalaman. Itu semua terjadi begitu saja. *** “Stop it! Bim, aku rasa memang kita harus selesai” pinta Rania Bima mendengus kesal, sorot matanya tajam dan nafasnya terdengar naik turun menahan emosi. Kesalahannya kali ini, sepertinya tak akan ada kesempatan ke-sekian kalinya dari Rania, ia sudah tidak ada harapan untuk kembali dimaafkan. “Hanya orang t***l yang menyia-nyiakan kesempatan secara berulang!” tegas Rania. Hatinya sangat hancur, lelaki yang mengatakan akan melamarnya bulan depan mengkhianatinya untuk ke-sekian kalinya, dan untuk saat ini Rania tidak akan pernah lagi memaafkan Bima begitu saja. Rasanya di usianya yang akan menginjak 28 tahun bulan depan, ia tak perlu lagi membuang-buang waktunya untuk lelaki yang sama sekali tidak bisa menghargai dirinya. *** “keadaan lo sekarang gimana? Lo nggak biasanya kaya gini, Ran” tegur Andira sembari membaca tabloid di sofa berwarna coklat muda “semalem, gue pulang sama siapa?” tanyanya heran Andira menaikan kedua bahunya “nggak tau, yang jelas gue nemuin lo di lobby apartement ketika lo telp gue, gue langsung kesini” Rania mendengus heran dan kembali menyesap teh hangatnya, sesaat kemudian ia mengerjap secepat kilat dan menepuk dahinya. “gue harus ke kantor sekarang, ntar malem ada awards gue lupa kalo ada meeting pagi!” gerutunya *** Rania bekerja di salah satu stasiun tv swasta, ia menjabat sebagai produser salah satu program di televisi tersebut. “Ran, idola lo pembaca nominasi loh” ujar Kinar teman sekantornya Rania mengangguk pelan dan sedikit tersenyum. “kenapa? Harusnya lo seneng dong, secara lo idolain dia udah dari jaman kapan tau kan” “dia udah punya cewe, males” kesalnya Kinar pun hanya tertawa sembari mempersiapkan berkas yang berceceran dimeja ruangan Rania yang penuh dengan berkas. “kalo dia nggak punya pacar? Emang mau sama lo?” Tanya Kinar Rania mengerutkan dahinya dan berjalan mendekati Kinar lalu berbisik “jika Tuhan menghendaki, dalam hitungan ke-tiga dia bakal jatuh ke pelukan gue” celotehnya sembari berjalan dengan cepat meninggalkan Kinar yang masih di dalam ruanganya. Namun, bukan dengan hati-hati, Rania berjalan dengan cepat dan tersandung sehingga tubuhnya terjatuh, jika saja tidak ada seorang laki-laki yang dengan sigap menangkapnya begitu saja. “AAAAAA” teriak Rania tertahan Rania menutup matanya, ia kira tubuhnya sudah terjun menyentuh lantai, namun rasanya berbeda ketika ia menghirup aroma vanilla yang menyeruak dihidungnya. Rania membuka matanya dengan perlahan, bukan lantai yang ia lihat melainkan d**a bidang seseorang yang di tutupi oleh jaket kulit hitamnya. Kinar yang masih di dalam ruangan, seketika berlari keluar ruangan karena mendengar teriakan Rania yang cukup membuat seisi ruangan itu menatapnya heran. “Gila, lo Ran yang bakal jatuh ke pelukannya” tutur Kinar Rania, yang mendengar hal itu dengan cepat menarik tubuhnya dan menatap siapa yang sedari tadi menahan tubuhnya yang tidak langsing ini. “Are u okay, mbak?” tanya seseorang lelaki itu Suara berat yang terdengar sangat nyaman ini membuat Rania tak sadarkan diri, ia sangat mengenal suaranya ini. Tubuh tegap dan tinggi yang ada dihadapannya ini sangat sempurna, apa lagi dengan rambut-rambut halus disekitaran dagu dan pipi bawahnya membuat ia semakin terlihat tampan. Abirama Aryandra, actor Indonesia yang sudah berkiprah di per-film an Indonesia dari beberapa tahun lalu, namun namanya masih terus berada diperingkat atas actor terbaik di Negara ini. Tentu saja Rania tak sadarkan diri, idoalnya saat ini sudah di hadapannya dan detik sebelumnya, ia berada dipelukannya. Kinar menyikut tubuh Rania memberikan isyarat agar terbangun dari lamunannya dan untungnya Rania tersadar dan segera mengangguk menandakan ia baik-baik saja, namun tidak dengan jantungnya. “eh, iya its okay. Nggak apa-apa kok” jawabnya Abirama tersenyum dan mengangguk lalu berbisik “lain kali, hati-hati yah” tuturnya lalu kembali berjalan dengan santai Rania menyentuh dadanya untuk mengendalikan degupan jantungnya yang berdegup 1000 kali lebih kencang dari biasanya. Kinar menggeleng-gelengkan kepalanya heran “lo nggak jatuh cinta beneran kan? Dia bukan untuk digapai, Ran” Rania menghela nafasnya lalu kembali dengan aktifitasnya dan sesekali memikirkan apa yang Kinar katakana tadi, tak ada yang salah dengan apa yang dibicarakan oleh Kinar, Abirama memang bukanlah kenyataan untuk Rania. Selama ini, ia hanya menyimpan perasaan kagumnya, namun entah mengapa beberapa kali dihadapkan oleh Abi hatinya meminta lebih, apa lagi saat ini Rania bekerja di salah satu stasiun tv yang memang sering sekali bekerja sama dengan actor tersebut. Salah satu alasan Rania untuk melamar pekerjaan di sini adalah, Abirama ya karena itu Rania memutuskan untuk resign dari stasiun televisi sebelumnya dan pindah ke Mtv ini hanya untuk bisa sesering mungkin bertemu dengan idolanya yang pada waktu itu sudah mempunyai program tetap di stasiun tv ini. Rania menjatuhkan tubuhnya di sofa malas yang berada di ruangan santai kantornya. Ia menghela nafasnya dengan lega, karena acara awards mala mini berjalan dengan lancar. Rania mengamati jam tangan di tangan kirinya, jarum jam sudah menunjukan pukul 2 pagi, ia tak mungkin pulang sendiri dalam keadaan selarut ini dan kerabatnya yang lain pun pasti masih distudio atau mungkin ada yang tertidur di kantor menunggu pagi. Beberapa saat kemudian, Rania mendengar suara langkah kaki samar-samar, namun Rania yakin sekali kerabat kantornya masih berada di studio dan hanya Rania yang lebih dulu pergi karena ia sangat lelah dan ingin meregangkan tubuhnya. Langkah kaki itu terdengar semakin cepat, Rania sedikit merasa takut karena suasana kantor sangat sepi dengan sedikit penerangan. Ia pun bergegas untuk pergi dari ruangan ini, namun ketika ia membuka pintu ruangan tersebut, ia terkejut dengan siapa ia berhadapan kini. “Mas Abi?” “Hei, masih disini?” tanyanya Rania mengangguk “ada yang perlu dibantu, Mas?” tanyanya sekali lagi Abirama tak menjawab dan segera berjalan menuju meja diruangan tersebut dan mengambil beberapa barangnya. “barang saya ketinggalan, ini mau diambil” jawabnya sembari memperlihatkan tas kecil digenggamannya Rania hanya mengangguk dan tersenyum entah apa lagi yang harus ia bicarakan. “kok belum pulang?” tanya Abirama “oh iya, saya nunggu pagi kayanya disini soalnya udah larut, kalo mas Bima kok belum pulang yah? Bukannya acara udah off sejam yang lalu?” Abirama tersenyum “tadi habis ngobrol sama mas Wira, keasikan ngobrol untuk acara opening minggu depan eh keterusan sampai jam segini” Wira adalah senior produser di dalah satu program di televisi ini. Rania lagi-lagi hanya tersenyum dan mengangguk, ia seperti kehilangan dirinya sendiri jika berhadapan dengan Abirama. “mau bareng?” tanya Abirama Rania yang mendengar itu hanya dapat mengerjapkan matanya berkali-kali tanda ia tak percaya dengan apa yang di bicarakan Abirama atau mungkin itu hanya basa-basi saja dan Rania dengan sadar harus menolaknya. “makasih mas Abi, silakan” ujarnya memberikan kode agar Abi berjalan mendahuluinya Abirama tersenyum dan tertawa “saya nggak pernah basa-basi sama orang, jadi ayo” jawabnya sembari merangkul Rania dengan ramah. Tuhan, jantung Rania sedang tidak baik-baik saja. Gemerlap lampu di gedung-gedung bertingkat membuat Jakarta semakin indah, harum kopi yang menyeruak di dalam mobil Abirama membuat siapapun yang berada didalamnya sangat nyaman dan betah. Mimpi apa Rania semalam hingga saat ini bisa duduk di kursi penumpang bersebelahan dengan Abirama, idolanya. Ia sesekali melirik Abirama yang sedang fokus menyetir, dengan kemeja hitam yang ia gulung tangannya sampai ke-siku dan dihiasi oleh jam tangan gold di pergelangan tangan kirinya. Sempurna, batin Rania mengucap. “Mas” “panggil Abi aja, A..BI” gumamnya Rania tertawa “duh nggak enak dong” “yaudah, kalo gitu jangan ngobrol sama saya” candanya membuat Rania terdiam dan kembali memperhatikan perjalanan Jakarta yang lenggang Abirama tertawa melihat tingkah Rania yang kembali diam dan tentunya ia hanya bercanda. “hei, saya bercanda tapi saya lebih seneng kalo kamu panggil saya dengan nama saja” “ oh haha kalo gitu, Mas Abi juga bisa panggil saya Rania” Abirama mengangguk pelan “oke, Rania nama yang bagus” jawabnya membuat Rania tersenyum malu “hmm iya, sorry kalo nanya begini, tapi nggak apa-apa kalau mas Abi… eh maksudnya kamu, Abi anter saya pulang?” tanya Rania terbata-bata Abirama tertawa pelan dan menaikan sebelah alisnya heran “selama nggak ada yang larang?” jawabnya Rania mengangguk tanda mengerti, tapi pertanyaannya masih berlanjut, karena yang ia ketahui diluar sana, Abirama sedang dikabarkan dekat dengan aktris cantik bernama Alexa. “hmm sorry, kalo Alexa apa nggak keberatan?” tanyanya Abirama menoleh ke arah Rania dan kembali tertawa “kamu suka nonton gossip yah?” Rania menggeleng tertawa “bukan gitu, aku Cuma nggak enak aja kalau sampai dia tau, kamu anter cewek lain pulang tengah malam gini” Mobil terhenti dilampu merah persimpangan, tangan kanan Abirama kembali merapihkan gulungan kemeja ditangan kirinya lalu menyandarkan punggungnya ke kursi mobil dan menoleh menatap Rania. “saya nggak ada apa-apa sama dia, sebatas teman kerja dan sekarang saya lagi nggak punya tanggung-jawab untuk siapapun, so saya bisa dengan bebas antar pulang siapapun. Cukup jelas kan? Jadi santai aja” jawabnya seperti ingin menjelaskan secara detail membuat Rania tersenyum sumringah Beberapa lama kemudian, mereka telah sampai di salah satu apartement dibilangan Jakarta Selatan dan Rania pun mengucapkan terimakasih, padahal ia masih ingin berlama-lama disamping Abirama, tapi rasanya akan sangat bodoh jika Rania tetap tinggal. “thanks ya, hmmm mau mampir?” tanya nya gugup Apa yang sebenarnya dikatakan oleh Rania, mana mungkin seorang Abirama datang ke apartementnya. “Nextime yah? Udah larut malam, kayanya kamu butuh istirahat” Rania mengangguk lalu membuka pintu mobilnya dan mengucapkan selamat tinggal sembari memegangi jantungnya yang berdegup lebih kencang sedari kantor.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
194.0K
bc

Kali kedua

read
222.0K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
6.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
236.4K
bc

TERNODA

read
201.8K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.2K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.8K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook