Bab 30.Kebanyakan perempuan memiliki sebuah pernikahan impian, begitu pula dengan Ganiya dulu. Iya, dulu. Karena sekarang baginya yang terpenting adalah dengan siapa kita akan menghabiskan sisa hidup. Sehingga ketika dia berdiri di aula hotel yang dihias sedemikian mewah, tidak ada terbesit rasa iri sedikitpun karena disampingnya berdiri seseorang yang selalu setia berada di sisinya. Sejak menghadiri akad adiknya tadi pagi sampai resepsi yang diadakan siang hari, pria itu hampir selalu berada di sampingnya, menggenggamnya. Seolah takut dia terluka karena berada di tengah orang-orang yang menyebabkan hatinya terluka parah. “Makan, yuk, lapar.” Ganiya mendongak menatap sang suami yang tengah mengedarkan pandangan. Seharusnya mereka memang seperti anggota keluarganya yang lain, menjadi pen

