Maia memberikan kabar untuk kedua orang tuanya, bagaimana pun juga ia tak ingin jika kedua orang tuanya khawatir dengan keadaannya. Ia mengabarkan kepada ibunya jika hari ini ia menginap di hotel dekat dengan perusahaannya saja karena ia merasa lelah setelah menghadiri pesta ulang tahun perusahaannya tadi malam. Beruntung sang ibu tidak menaruh curiga kepada Maia meski sebenarnya ada firasaat yang tidak enak di hatinya.
Keesokan harinya, Maia bekerja seperti biasa. Tidak ada yang aneh, semua berjalan seperti yang ia harapkan hingga suatu hari Maia diajak Mutia untuk pergi meeting dengan si bos. Maia sempat menolak, tetapi Mutia memaksa dan memohon kepadanya karena ia merasa Maia paling unggul dari anggota lainnya. Maia pun mau tak mau mengiyakannya.
“Ayo, Mai. Kamu pasti bisa,” tutur anggota timnya yang lain memberinya semangat sebelum dirinya masuk ke dalam ruang meeting.
Maia melangkahkan kakinya dengan percaya diri masuk ke dalam ruangan meeting. Disana belum banyak orang yang datang. Maia duduk di tempat duduk yang disediakan khusus untuk divisi keuangan. Ia duduk dengan tenang meski sebenarnya ia sangat gugup bertemu dengan bosnya. Benar saja, ketika Bagas memasuki ruangan tersebut wajah Maia berubah menjadi pucat. Bayangan malam panas dengan sang bos tiba-tiba terlintas di pikirannya. Maia buru-buru menundukkan kepalanya, mengatur nafasnya dan mencoba memfokuskan diri dalam meeting.
Sementara Bagas, ia memandang heran kearah Maia yang terlihat kurang fokus dan wajahnya pucat. Apakah ia semenakutkan itu hingga karyawan yang ia dengar terkenal teladan dan menjadi idola di perusahaannya itu begitu takut bertemu dengannya.
“Aneh, dia kenapa?” batin Bagas, ia menjadi penasaran dibuatnya.
Bagas menyudahi meetingnya, ia meminta perwakilan divisi keuangan untuk menemuinya setelah meeting dibubarkan. Maia meneguk ludahnya susah payah. Ia benar-benar takut sekarang, ia pun mencari alasan kepada Mutia untuk tidak ikut menemui si bos besar.
“Maia, bos menyuruh kita keruangannya. Sebaiknya kita segera kesana saja,” ajak Mutia.
Maia menggelengkan kepalanya. “Mbak, bisa nggak Maia gak ikut saja? Bisa kan diganti oleh lainnya? Kepala Maia pusing banget, Mbak.”
Maia terpaksa berbohong demi menghindari bertemu secara pribadi dengan bosnya, Mutia memperhatikan wajah Maia yang memang terlihat pucat pun menganggukkan kepalanya. Ia memutuskan menemui Bagas sendirian. Sedangkan Maia, ia buru-buru kembali ke dalam ruangannya. Ia menghela nafas lega sembari mengusap-usap dadanya.
***
Dua minggu berlalu, Maia mulai mersakan aneh pada tubuhnya. Ia sering merasa pusing dan mual, tetapi ia belum berpikiran jauh. Ia mengira itu efek karena ia sering begadang lembur mengerjakan pekerjaan kantornya. Maklum saja, perusahaan tempatnya bekerja saat ini adalah perusahaan besar jadi untuk pekerjaan pun jangan ditanyakan lagi bagaimana banyaknya.
Siang ini setelah jam makan siang Maia dipanggil oleh Mutia menuju ke meja kerjanya, Mutia memberitahukan kepada Maia untuk mengemasi barang-barangnya. Semula Maia kira karena ia dipecat tetapi ternyata Mutia memintanya pindah ke ruangan sekretaris bos yang terletak di seberang kantor bosnya. Mutia menceritakan jika sekretaris Bos sedang cuti melahirkan, Maia diminta menggantikannya untuk sementara waktu.
“Apa? Sa-ya?” tutur Maia sembari menunjuk dirinya sendiri.
“Mbak Mutia gak salah orang? Saya orang baru disini, Mbak. Baru juga dua bulan kerjanya. Masa iya saya yang ditunjuk jadi sekretaris.” Maia berusaha bernegosiasi dengan Mutia.
Mutia mengedikkan bahunya dan terkekeh. “Tapi memang beneran kamu, Mai.”
Maia mengacak rambutnya kasar. Ia seperti cacing kepanasan sekarang. “Duh! Bisa ganti yang lain gak sih, Mbak?” Maia masih kekeh ingin bernegosiasi dengan Mutia.
“Kalau saya maunya kamu tetap disini, tapi kalau Bos sudah memberikan perintah, tidak terima bantahan Mai. Kamu tahu itu kan?”
Maia menghela nafas lalu membuangnya dengan kasar. Ia sekali lagi mengacak rambutnya membuat Mutia terkekeh geli. “Huh! Tamat sudah riwayatku, Mbak!” celetuk Maia.
“Kenapa sih kamu gak mau, Mai? Kamu cerdas, kamu menguasai semuanya dan saya yakin bos akan puas dengan pekerjaanmu lho. Ayo lah Maia, kamu pasti bisa,” tutur Mutia memberikan semangat kepada Maia.
Maia kembali menghela nafas dan menghembuskannya kasar, ia beranjak dari tempat duduknya. Berjalan menuju meja kerjanya, membereskan semua barang-barangnya dan berjalan menuju lift yang akan membawanya ke lantai ruangan kerjanya yang baru. Di hari kerjanya yang pertamanya sebagai sekretaris ia tak menemukan masalah. Dia juga beruntung tak bertemu dengan Bagas karena Bagas dikabarkan sedang keluar negeri.
Beberapa hari kemudian, Bagas mulai masuk bekerja. Ia meminta Maia datang ke ruangannya dan memberikan laporan untuknya. Maia sangat gugup, tetapi ia mencoba berpikir positif dengan membuang jauh-jauh bayangan malam panas bersama Bosnya itu.
Tok tok tok
Maia mengetuk pintu ruangan Bagas, meminta persetujuan kepada sang empunya untuk masuk ke dalam ruangan tersebut. Bagas pun menyahutinya, meminta Maia segera masuk ke dalam. Begitu pintu terbuka dan Maia berdiri di depannya Bagas, ia sedikit terkejut melihat Maia. Entah mengpa ia merasakan sesuatu di dalam dadanya berdebar. Benar kata karyawannya, perempuan di depannya itu memang cantic tanpa cela.
Maia yang merasa diperhatikan sedari tadi oleh sang bos segera menyodorkan tumpukan map yang ia bawa ke atas meja sang bos. “Pak, ini laporn yang bapak minta,” tutur Maia.
Bagas menganggukkan kepalanya, ia mencium wangi yang sama dengan wangi bantal di kamar hotelnya pagi itu. “Bukankah ini bau harum, Elle?” batinnya.
“Parfum apa yang kamu pakai?” tanya Bagas spontan.
Maia gelagapan. Ia menundukkan kepalanya, bingung menjawab apa kepada sang bos karena ia sendiri tidak tahu mereknya, itu adalah parfum pemberian ibunya. “Hanya parfum isi ulang biasa, Pak. Saya kurang ingat apa mereknya,” jawab Maia sekenanya saja.
“Jangan pakai parfum ini lagi! Saya tidak suka baunya,” tutur Bagas dengan ketus. Sejujurnya bukan itu alasannya, tetapi ia tak ingin mencium wangi parfum yang sama dengan yag Elle kenakan.
Maia menganggukkan kepalanya. “Baik, Pak. Saya permisi,” ucap Maia tanpa ada perlawanan sedikit pun.
Bagas menatap pergi punggung Maia yang menghilang di balik pintu, sejenak ia memejamkan mata. Bau harum yang masih tertinggal di ruangannya membuat Bagas kembali teringat akan adegan panasnya malam itu. Ia pun tergerak meraih ponselnya, mengirim pesan kepada Elle, tetapi lagi-lagi tak mendapatkan balasan oleh sang empunya.
Tak bisa Bagas pungkiri sejak malam itu, ia menjadi semakin tergila-gila pada Elle. Ia sering mengirimkan hadiah serta kejutan kecil untuk Elle meski Elle respon Elle tetap sama yaitu meminta maaf karena terlambat membalas pesan dan menucapkan terima kasih atas hadiah yang dikirimkan oleh Bagas kepadanya. Bagas menatap miris layar ponselnya sudah hampir empat hari Ellenya masih belum membalas pesan darinya lagi.