Maia terkejut kala sebuah tangan kekar meraih tubuhnya dan mendaratkan sebuah ciuman pada bibirnya. Ciumannya itu terasa sangat kasar, seperti ada penyaluran amarah dan kecewa di dalamnya. Dengan sisa tenaga yang dimiliki, Maia mendorong tubuh kekar tersebut hingga sedikit terhuyung kebelakang. Ia hendak beranjak dari tempat tidur itu tetapi kekuatannya tidak banyak, minuman laknat itu telah membuatnya benar-benar lemah. Bahkan hanya untuk bergerak dan berdiri saja ia berulangkali limbung. Ketika itu, samar-samar ia melihat pria itu kembali mendekat. Kali ini, ia pasrah dan tidak bisa berkutik lagi. Kedua tangannya dicekal kuat oleh pria tersebut, dan tubuhnya dikukung hingga ia tak bisa bergerak lagi.
“Menyerahlah, Sayangku. Malam ini kamu milikku,” ucapnya diiringi tawa jumawa.
Maia memejamkan mata seraya menggigit bibir bawahnya kala bibir tebal itu mulai bergerak mencium dan menyusuri tiap jengkal tubuhnya. Tubuh Maia bergetar hebat, nafasnya naik turun, ini adalah kali pertamanya ia merasakan sentuhan seduktif seorang pria di area sensitifnya.
“Engh!” Sebuah lenguhan lembut akhirnya lolos juga.
Maia tidak bisa lagi menahan dirinya, sentuhan yang orang asing itu berikan sungguhlah nikmat luar biasa, membuat ia mabuk kepayang dan terbang di awang-awang. Maia bahkan bisa merasakan kenikmatan yang selama ini belum pernah ia rasakan. Tanpa Maia sadari, ia kini sudah terlena oleh permainan panas pria asin tersebut.
Bagas tersenyum jumawa kala melihat gadis di bawahnya sudah mulai terbawa dengan permainan nakalnya. “Elle, malam ini kau akan menjadi milikku seutuhnya,” batin Bagas.
Cengkraman tangan Bagas mulai terlepas, tangannya terulur membelai-belai tubuh gadisnya, sementara bibirnya masih sibuk mencumbu, meninggalkan maha karya luar biasa pada setiap inci tubuh Maia yang terjamah olehnya. Sepersekian menit selanjutnya, ia meloloskan gaun Maia serta menanggalkan seluruh pakaiannya sendiri.
Dua bukit dengan puncak yang menantang dengan kulit seputih kapas menjadi pemandangan indah nan menggairahkan bagi Bagas. Ini juga pertama kali baginya menyentuh tubuh wanita seperti ini. Bagas yang terpenuhi kabut gairah tidak tinggal diam, ia langsung menerkam mangsanya membabi buta. Dan berakhir menenggelamkan pusakanya ke dalam lembah hangat lembab milik Maia.
Malam itu, benteng pertahanan yang Maia jaga selama dua puluh empat tahun lamanya roboh begitu saja dengan sukarela. Ya, lelaki di atas tubuhnya kini berhasil merampas kesuciannya saat ini. Setetes air mata mengalir melalui sudut mata Maia. Ada rasa sakit, perih dan sesak kala sebuah benda mulai menerobos masuk ke dalam intinya.
“Ssh!” ringis Maia ketika Bagas mulai menggerakkan pinggulnya.
Bagas mengulurkan tangannya, mengusap lembut pipi Maia kemudian menghapus air mata Maia. “Tenanglah, Sayang! Aku akan melakukannya dengan hati-hati. Rasa sakit ini hanya sementara saja, percayalah,” bisik Bagas lembut sembari mengulum bibir Maia.
Benar saja! Apa yang dikatakan pria asing itu nyata adanya, setelah rasa sakit dan perih Maia mulai merasakan rasa nyaman dan nikmat yang luar biasa. Maia berulang kali melenguh penuh kenikmatan, Bagas sangat puas mendengarnya.
Terhitung empat kali banyaknya Bagas mengulang kegiatan panasnya dan berhenti pukul tiga dini hari kala gadis di bawahnya mengibarkan bendera putih dan memejamkan mata yang diiringi dengkuran halus. Bagas menjatuhkan tubuhnya tept di samping gadisnya, menempelkan bibirnya singkat pada dahi dan juga bibir Maia kemudian menarik selimut dan memeluk tubuh polos yang telah memberinya kenikmatan surgawi mala mini.
“Terima kasih, Sayang. Aku sangat mencintaimu,” bisik Bagas sebelum memejamkan matanya.
***
Sinar mentari pagi menerobos masuk melalui celah-celah gorden yang tidak tertutup sempurna, Maia menyilangkan sebelah tangannya menutupi area mata. Ia lantas perlahan menggosok-gosok matanya hendak menilik kearah jam. Namun, niatnya urung ketika mata indah itu mengungkap jika itu bukanlah ruangan kamarnya. Seketika ia mengangkat kepalanya, hendak memastikan kebenaran penglihatannya.
“Aw, ssh!” Maia memegangi kepalanya yang terasa pusing sekali, ia melirik ke arah perut, memeriksa benda apa gerangan yang saat ini menimpanya hingga terasa berat sekali. Maia membelalakkan mata kala melihat tangan kekar memeluk perutnya erat. Maia perlahan menoleh ke sisi ranjang, ia melihat sebuah kaki terbuka dengan bulu lebat yang menandakan itu adalah seorang pria. Bola mata Maia bergerak menyusuri hingga ia melihat sesosok pria yang ia kenali sedang tidur damai dengan posisi tengkurap, kepalanya miring menghadap kearah Maia. Tentu saja Maia dengan cepat mengenalinya.
“P-pak Ba-gas,” ucap Maia lirih sembari membekap mulutnya.
Maia mengatur nafasnya yang memburu, ia berpikir sejenak mencari jalan keluar dari kemalangannya saat ini. Maia menghela nafas dalam. Ia perlahan menyingkirkan lengan Bagas dan bergerak turun dari ranjang. Dengan langkah tertatih ia memungut semua pakaian miliknya, mengenakannya secepat kilat dan berjalan keluar dari sana secara hati-hati. Ia menempelkan kartu yang ia bawa pada pintu kamar tersebut namun tertulis tidak cocok. Ia tidak memiliki banyak waktu, ia mencari keberadaan kunci kartu ruangan tersebut yang ternyata tergeletak di atas meja ruang tamu ia segera membuka pintu, kemudian meletakkan kembali kartu pada tempatnya dan berjalan cepat keluar.
Dengan penampilannya saat ini, Maia tidak mungkin bisa pulang. Ia pun mencari keberadaan kamar yang semalam ia sewa lalu memutuskan tinggal disana satu hari lagi.
“Sial! Kenapa bisa aku sampai salah kamar seperti tadi malam?” rutuk Maia menyalahkan dirinya sendiri.
“Untung saja aku cepat keluar dari sana sebelum Bos besar bangun, bisa jadi petaka kalau dia sampai melihatku disana.”
Maia masuk ke dalam kamar mandi, merendam tubuhnya yang terasa remuk dengan air hangat. Sementara Bagas, ia baru terbangun ketika jam makan siang tiba. Itu pun terbangun akibat panggilan dari Jo sang sekretaris pribadi. “Ya, Jo?” sapanya dengan suara khas bangun tidur.
“Tuan, ini sudah jam makan siang. Apakah Tuan ingin saya memesankan sesuatu untuk Tuan?” tanya Jo dari seberang sana.
“Iya, Jo. Atur saja seperti biasa.”
Bagas meletakkan ponselnya, ia tersenyum mengingat malam panasnya dengan Elle sang kekasih hati, ia tak menyangka jika kali ini Elle akan pulang dan memberinya kejutan seperti malam tadi. Ia menolehkan kepalanya ke samping hendak memeriksa keberadaan Elle tetapi ia terkejut tidak melihat siapapun di sampingnya. Ia buru-buru bangkit dari tempat tidurnya, memeriksa segala sudut ruangan tetapi tetap tidak menemukan Elle disana.
“Aneh! Jelas semalam Elle kemari, aku tak mungkin berhalusinasi kan?” gumam Bagas merasa heran.
Bagas berjalan menuju ke arah ranjang, tangannya terulur menyibak selimut, ia memeriksa bagian seprei. Ia tersenyum puas mendapati bercak merah di sprei putih tersebut. “Dia benar-benar kemari,” tuturnya sembri mengulum senyum.
“Tapi kenapa ia tidak menungguku? Apakah dia kembali lagi ke Paris karena ada pekerjaan?” tanyanya dalam hati.
"Sebaiknya aku meneleponnya saja," putusnya.
Bagas meraih ponselnya, ia mendial nomor Elle untuk bertanya secara langsung tetapi nomor sang kekasih tidak aktif. Ia pun berpikir jika sang kekasih sedang berada di pesawat. Nomor tidak aktif dan jarang berbalas pesan adalah hal yang biasa bagi Bagas dan Elle. Ia tak menaruh curiga atau berpikir yang macam-macam kepada kekasihnya itu karena ia paham bagaimana pekerjaan sang kekasih di luar sana.
Bagas memutuskan untuk mandi, ia membersihkan tubuhnya yang terasa lengket kemudian berganti pakaian. Tak lama setelahnya Jo datang, ia membawa dua orang pelayan.
"Siang, Tuan." Jo tersenyum ramah menyapa Bosnya.
"Hem," balas Bagas yang memilih duduk di kursi meja makan karena telah merasa lapar.
Salah seorang pelayan menata makanan di atas meja dan melayani Bagas. Satu orang lainnya membersihkan tempat itu, ia terlihat memunguti baju kotor Bagas dan merapikan tempat tidur. Seketika Bagas teringat akan sesuatu hal ketika si pelayan hendak membawa spreinya keluar.
"Tunggu!" seru Bagas.
"Ya, Tuan?" tanyanya berbalik badan sembari menunduk.
"Jo, tolong beritahu dia saya mau seprei itu dan bantal tidurnya dibawa pulang! Tidak perlu dicuci ataupun disemprot dengan pengharum pakaian, saya mau tetap seperti itu saja." Bagas memberi titah kepada Jo untuk mengambil seprei dan bantal yang semalam ia pakai.
"Baik, Tuan." Jo menuruti perintah Tuannya tanpa bertanya apapun. Meski sebenarnya ia heran mengapa harus demikian.
Bagas keluar dari kamar hotel miliknya, ia berjalan masuk ke dalam lift khusus kemudian segera masuk ke dalam mobil pribadinya bersama Jo. Ia duduk di kursi penumpang sembari memangku bantal yang semalam dipakai tidur oleh gadisnya. Sepanjang perjalanan ia memejamkan mata, mencium wangi rose yang menempel pada bantal tersebut.