"Hei, kenapa? Mengapa wajahmu lesu?" tanya Mona. Ia meletakkan majalah yang ada di tangannya ke atas meja lalu beranjak menghampiri putranya. Bagas berhenti sejenak, tetapi ia tidak menjawab. Dan kembali melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga. Masuk ke dalam kamar dan mengemasi pakaiannya lalu kembali keluar dengan menyeret sebuah koper kecil. Meski ia terlambat untuk menemui Maia ketika di sini, setidaknya ia masih memiliki kesempatan untuk menemui Maia di tanah air. "Kamu mau kemana, Sayang? Katakan sesuatu kepada Mama." Mona menghalangi jalan putranya, sebelum sosok itu kembali pergi. "Maia pulang ke Indonesia dua jam lalu, Ma. Aku terlambat." Mona menganggukkan kepalanya, ia mengerti benar bagaimana perasaan sang putra. Ia kemudian memeluk tubuh tegap Bagas dan menepuk lembut p

