Maia meneguk segelas air minum untuk membasahi tenggorokannya, ia berpikir sejenak kemudian menghembuskan nafas panjang. "Untuk saat ini Maia belum tahu harus bagaimana, tapi Maia akan pikirkan itu dan mengambil tindakan sesegera mungkin." Ketika di dalam kamar Maia berusaha menghubungi Andrew, tapi panggilan teleponnya tidak mendapat jawaban. Maia pun mengirim pesan kepada Andrew untuk meneleponnya ketika Andrew sedang senggang. Maia meletakkan kembali ponselnya di atas nakas lalu membaringkan tubuhnya yang lelah. Dia menatap ke atas, ke arah langit-langit kamarnya. Entah mengapa bayangan tawa kedua anaknya saat bersama dengan Bagas berlalu lalang di pikirannya. "Jika saja kamu belum-" Untuk sesaat Maia langsung membungkam mulutnya dan menggelengkan kepala. "Tidak! Jangan gila kamu

