CHAPTER 13

1252 Kata
Reno mulai memasuki kelas Savana menghampiri Savana yang terlihat duduk dengan seseorang yang lumayan tak asing di mata Reno. Ah tentu saja, Reno baru ingat kalau ternyata gadis yang ada di sebelah Savana itu adalah Lula. Gadis yang kemarin Reno titipi pesan itu. "Oh hai Reno," ujar Savana tersenyum senang. Gadis itu melambaikan tangannya kearah Reno dengan semangat 45. Savana terlihat sangat ceria. Ya, memang seperti itulah dia. Justru kalau Savana tak ceria, itu yang akan menjadi pertanyaan. "Hai juga Sava," ujar Reno membalas sapaan Savana padanya. "Ayo Sava, kita pulang. Maaf ya udah buat Sava nungguin Renonya kelamaan. Reno lagi ada urusan sama temen dulu tadi," ujar Reno lagi meminta maaf. Savana nampak menggeleng sembari tersenyum kecil. "Enggak kok Reno, Sava nunggunya nggak kelamaan. Reno gak usah minta maaf sama Sava. Justru Sava yang harusnya minta maaf soal pagi tadi sama Reno. Maafin Sava ya udah buat Reno nungguin Sava lama. Maafin Sava ya udah buat Reno khawatir juga karena tingkah Sava tadi," ujar gadis itu panjang lebar dan diakhiri dengan ucapan permintaan maaf. Reno yang gemas dengan sahabatnya itu segera mendekat kearah Savana lalu tangan Reno terulur untuk mengacak rambut Savana gemas. "Uluh-uluh. Gemes banget sih sahabat Reno," ujar Reno membuat Savana terkekeh. "Reno apaan sih, bisa aja," ujar Savana masih sedikit terkekeh. "Udah ah, Reno jangan gitu dong. Sava jadi malu," tambah gadis itu lagi membuat Reno semakin gemas. "Ya udah, berarti kita satu sama Sava. Tadi pagi Sava buat Reno nunggu lama. Dan sekarang, Reno yang buat Sava nunggu lama. Berarti kita seri," ujar Reno memutuskan titik tengahnya. Savana nampaknya setuju dengan apa yang dikatakan Reno, daripada banyak berdebat juga kan? Lebih baik diputuskan secara adil seperti itu. Lula yang sedari tadi melihat kedekatan antara Savana dan Reno merasa seperti tak dianggap keberadaannya karena memang kedua sahabat itu sibuk bercanda berdua sendiri. Tanpa menghiraukan keberadaan Lula. "Ya udah, ayo pulang Sava," ajak Reno. Savana mengangguk menyetujui. Gadis itu lupa dengan keberadaan Lula yang sedari tadi menemaninya. Baru saja Reno dan Savana akan beranjak pergi dari kelas Savana. Suara deheman dari Lula berhasil membuat langkah mereka terhenti dan berganti Reno dan Savana menoleh bersama menatap sumber suara. Ya, mereka menatap Lula. Melihat Lula yang ada di belakangnya, Savana baru ingat satu hal. Lula tadi bilang ingin mengobrol dengan Reno karena memiliki urusan penting. Savana sampai lupa. Savana menepuk dahinya pelan ketika mengingat ucapan Lula beberapa saat lalu. "Oh iya!" ujar Savana. Baik Lula maupun Reno, semuanya langsung mengalihkan fokusnya untuk menatap Savana. Gadis itu saat ini sedang menoleh menatap Reno. "Reno, tadi temen Sava yang namanya Lula ini bilang ke Sava kalo dia mau ngobrol berdua sama Reno karena ada sesuatu urusan penting yang harus Lula omongin ke Reno," ujar Savana lagi kali ini menjelaskan kenapa gadis itu seperti terkejut tadi. Reno menaikkan sebelah alisnya aneh sekaligus bingung. Lula? Gadis itu ingin mengobrol dengan Reno karena ada suatu urusan penting? Ha? Bahkan Reno saja tak kenal sama sekali dengan Lula. Bagaimana bisa mereka memiliki suatu urusan penting bersama. "Ha?" beo Reno bingung. Mulut Savana mulai terbuka ingin menjawab, namun dengan cepat Lula memotong perkataan Savana. "Biar Lula ada yang jelasin ya Va," ujar Lula membuat Savana kembali menutup mulutnya dan gadis itu me mengangguk mengizinkan. "Ehem," dehem Lula mengawali. Gadis itu saat ini benar-benar menatap tepat di manik mata cowok bernama Reno itu. Reno pun sama, cowok itu menatap Lula tepat di manik mata gadis itu. "Jadi gini, sebelumnya gue mau klarifikasi dulu, gue sama lo mungkin emang belum pernah kenal sebelumnya dan mungkin lo bahkan gak pernah tahu gue ada di sekolah ini. Hanya aja, emang bener-bener suatu hal penting yang gue harus bicarain sama lo," ujar Lula tegas yang tak hanya di dengar Reno saja, namun juga dapat di dengar juga oleh Savana. Lula menarik napas kecil lagu setelah itu, gadis itu sedikit menutup mulutnya agar tak terlihat dari Savana. "Dan ini menyangkut soal Savana," lanjut Lula berbisik yang hanya bisa didengar oleh Reno saja. Bahkan suara Lula seperti tak keluar sama sekali. Reno hanya bisa membaca perkataan Lula lewat gerakan mulut gadis itu saja. Mendengar ada nama Savana yang dibawa-bawa, Reno segera mengiyakan apa yang Lula katakan tanpa pikir panjang. Asal apapun itu soal Savana, Reno akan setuju. Cowok itu bahkan setuju untuk mengobrol dengan Lula yang sebelumnya tak pernah cowok itu kenal. Ah tak apa, lagipula Lula adalah gadis yang selalu ada untuk Savana. Lula adalah sahabat dari Savana. Jadi, tak ada salahnya juga Reno mengobrol dengan Lula. Malah akan semakin bagus jika mereka bisa akrab. "Boleh deh," ujar Reno setuju, gadis itu lalu kembali mengalihkan pandangannya untuk menatap Savana. "Sava, kamu rada jauhan dikit aja. Jangan jauh-jauh banget. Reno mau ngobrol dulu sama temannya Sava. Oke?" ujar Reno meminta persetujuan Savana. Savana tersenyum manis sembari mengangkat salah satu jempol tangannya. "Oke deh," ujar Savana setuju. Savana kemudian benar-benar berjalan sedikit menjauh dari Reno. Gadis itu menuruti apa yang sahabatnya itu katakan. Setelah dirasa cukup jauh Savana berada. Reno pun mulai mendekat kearah Lula. Bertanya soal apa yang akan gadis itu katakan. "Mau ngomongin Sava soal apa?" tanya Reno to the point pada Lula. Padahal, mereka belum berkenalan secara resmi. Namun sepertinya, obrolan mereka sudah sangat serius saja. "Soal Savana suka sama Geo," ujar Lula membuat raut wajah Reno semakin serius. "Gue tahu lo pasti udah tahu soal itu. Hanya aja, gue gak tenang semenjak gue tahu perihal Savana suka sama cowok itu," lanjut Lula lagi. "Gue tahu Sava itu sahabat lo. Gue juga tahu Geo juga sahabat lo. Gue tentu aja juga jelas-jelas tahu kalau lo gak akan mungkin biarin Geo sakitin Savana," tambah Lula lagi. Apa yang gadis itu ucapkan adalah sebuah fakta. "Tapi gue gak bisa bohong kalo gue tetep khawatir sama keadaan Sava," ujarnya. "Meskipun gue baru kenal Sava, tapi gue udah anggep dia sebagai sahabat gue. Dia cewek polos, gue gak mungkin biarin cewek sepolos Sava disakiti sama cowok kaya Geo," ujar Lula kembali berkata. "Lo tahu kan Ren, gimana temen sekelas Sava? Lo tahu kan gimana kelas XI MIPA 3? Mereka punya tingkat solidaritas yang tinggi. Di kelas gue dan Sava, semuanya saling peduli satu sama lain. Kita bisa aja jaga Sava dari Geo. Tapi, apa kita bisa jamin Sava gak akan berontak kalo kita coba jauhin Sava dari Geo?" ujarnya panjang kali lebar. Reno masih terdiam mencerna apa yang dikatakan Lula. Memang yang dikatakan gadis itu semuanya adalah fakta. Mulai dari perihal Savana dan Reno adalah sahabat, sampai tingkat solidaritas di kelas Savana yang tinggi. Lula terlihat menarik napasnya pelan sebelum kembali bersuara. "Inti dari apa yang mau gue bilang saat ini adalah, gue dan temen-temen kelas gue mungkin aja ngelindungi Savana dari Geo secara fisik. Kita semua siap jadi benteng Savana dari Geo," ujar Lula mulai mengatakan garis besar dari maksudnya. "Tapi, kita semua gak bisa menjamin kita bisa lindungi Savana dari Geo secara batin. Soal hati terlalu sulit untuk gue sama temen-temen gue lindungi Ren," ujarnya lagi. "Maka dari itu, gue cuma mau minta tolong sama lo untuk ikut bantu gue sama temen-temen gue buat jagain Sava," tambah gadis itu lagi. "Lo harus bantuin kita buat jaga batin Savana dari Geo. Lo mungkin sebagai temen Geo bisa coba ngomong baik-baik sama temen lo itu untuk nggak siksa Savana terlalu kejam. Tolong jangan serang batin Savana." "Luka batin terlalu sulit untuk di sembuhkan dan itu bisa aja mengganggu psikis Savana dan mental dia. Gue gak mau Savana sampai kaya gitu," ujar Lula mulai melirih. "Tolong Ren...,"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN