CHAPTER 12

1155 Kata
Pada akhirnya, Lula memilih untuk menemui Reno secara langsung. Gadis itu benar-benar tidak bisa hanya berdiam diri saja ketika gadis itu tahu, keselamatan sahabat barunya sedang terancam. Savana sedang dalam bahaya. Sebenarnya, ada dua alasan kenapa gadis itu pada akhirnya sampai memilih untuk menemui Reno secara langsung. Untuk alasan pertama, itu karena Lula tahu bahwa Reno adalah sahabat Savana, bahkan sahabat yang sangat amat dekat dengan gadis itu. Dan untuk alasan kedua, itu karena Lula tahu bahwa selain Reno adalah sahabat Savana, Reno juga merupakan sahabat dari Geo. Si pihak kedua. Dengan begitu, Lula berharap Reno bisa membantu Lula untuk mencegah Geo agar tidak menyakiti Savana. Setidaknya Lula pikir, Reno adalah sahabat Geo. Mungkin saja, Geo akan mendengarkan dan mengikuti perkataan Reno. Yah, Lula tidak tahu saja bagaimana Geo. Cowok itu benar-benar sulit di nasihati. Cowok itu hanya akan nurut ketika Mama atau Papanya yang menegurnya atau memintanya melakukan sesuatu. Geo benar-benar anak yang berbakti. Cowok itu sebenarnya memang anak yang sangat baik. Namun, karena terlalu nyaman dengan kehidupan sendirinya, cowok itu menjadi sangat sensitif ketika ada seorang gadis yang mendekatinya. Geo pikir seorang gadis hanya akan mengganggu hidupnya. Itu semua karena Geo selalu menanamkan pemikiran bahwa gadis adalah makhluk yang akan menghancurkan ketenangan hidupnya. Alhasil, Geo menjadi cowok seperti sekarang. Cowok yang tak mau berdekatan dengan seorang gadis. "Iya, gue bener-bener harus ketemu sama Reno. Gue gak mungkin diem aja setelah gue tahu keselamatan Savana lagi terancam," ujar Lula meyakinkan dirinya untuk benar-benar menemui Reno. "Apapun yang terjadi, gue akan selalu berusaha lindungi Savana," lanjut gadis itu. Lula benar-benar tulus menyayangi Savana. Gadis itu sudah menganggap Savana sebagai keluarganya. Savana memang sudah seperti adik Lula ditambah Savana adalah gadis manis yang sangat polos. Lula jadi semakin menyayangi Savana. Mana mungkin Lula tega membiarkan gadis manis dan polos seperti Savana menjadi korban dari kekejaman seorang Geo hanya karena gadis itu menaruh perasaan kepada cowok itu. Setelah Lula meyakinkan dirinya untuk benar-benar menemui Reno. Gadis itu langsung melaksanakannya. Begitu bel pulang berbunyi, Lula langsung membereskan alat tulisnya dengan cepat. Gadis itu takut tak bisa bertemu dengan Reno. Savana yang melihat Lula seperti terburu-buru itupun akhirnya bertanya. "Lula, kamu kenapa kelihatan buru-buru banget? Kamu mau kemana Lula?" tanya Savana dengan raut wajah polosnya yang tampak kebingungan. "Gue mau ke kelas XI MIPA 1 Va," ujar Lula menjawab. "Mau ketemu sama Reno, temen lo itu," lanjutnya lagi. "Loh?" beo Savana semakin bingung. "Lula kenapa mau ketemu Reno? Lula kenal sama Reno?" tanya Savana penasaran. Lula nampak menggeleng menjawabnya. "Enggak kenal Va. Gue cuma ada urusan aja sama Reno," ujar Lula. "Jadi, gue mau ketemu sama dia," lanjutnya. Savana manggut-manggut paham dengan apa yang dikatakan Lula. "Tapi La, kalo kamu mau ketemu Reno, kamu gak perlu ke kelasnya dia kok. Nanti dia juga kesini buat jemput aku. Dia janji mau samperin aku ke kelas soalnya," jelas Savana lagi memberitahu agar Lula tak perlu susah payah pergi ke kelas Reno. Lula yang mendengar perkataan perkataan Savana itu tersenyum lega. Ah, untungnya. Jadi, Lula sekarang tak perlu khawatir tak bisa bertemu Reno. Dia juga tak perlu susah payah menghampiri cowok itu di kelasnya karena justru Reno yang akan datang dikelasnya dan Sava. "Oke Sava. Thanks udah infoin itu ke gue ya," ujar Lula tak lupa untuk berterima kasih kepada Savana. Savana nampak tersenyum menanggapi ucapan terima kasih dari Lula. "Iya La. Santai aja," ujar gadis itu yang dibalas dengan senyuman dari Lula pula. Sekarang, Lula tak lagi buru-buru dalam membereskan alat tulisnya. Gadis itu nampak sedikit lebih santai daripada tadi yang nampak sangat tergesa-gesa. Setelah Savana dan Lula selesai membereskan alat tulis mereka, mereka memutuskan untuk kembali duduk manis di bangku mereka untuk menunggu Reno datang menjemput Savana. Saat mereka duduk santai di bangku masing-masing, banyak anak kelas yang menyapa mereka dan menanyakan perihal kenapa mereka tak kunjung pulang, namun Lula menjawab pertanyaan itu dengan santainya. "Eh Lula, Savana," panggil salah satu anak kelas Lula dan Sabana bernama Fitri. Gadis ini adalah gadis paling nyinyir di kelas XI MIPA 3. "Kalian gak pulang?" tanya gadis itu kemudian. Savana nampak hanya diam. Gadis itu menyerahkan semua pertanyaan dari Fitri untuk dijawab oleh Lula. "Menurut lo aja deh Fit, ya kali kita kaga pulang. Yang bener aja lo," ujar Lula dengan nada yang di buat ketus. Ya, itu hanya ketus buatan. Lula hanya bercanda dan Fitri tahu Lula sedang bercanda soal apa yang gadis itu katakan. Diantara mereka memang sudah tahu satu sama lain. Mereka sudah sangat dekat. Jadi, mereka sudah tak sungkan lagi untuk bercanda seperti itu. "Ceilah gayaan lo sok-sokan banget La. Padahal aslinya lo mau nginep disini gara-gara diusir sama Mama lo kan," ujar Fitri menjawab. Ah tidak, lebih tepatnya gadis itu sedang mencibir. "Ngaku aja deh lo La mendingan," lanjutnya lagi. "Sekata-kata lo Fit. Gue anak kesayangan emak nih. Mana mungkin emak gue tega ngusir anak kesayangannya yang cantik jelita ini," ujar Lula dengan bangganya. "Gue anak emak gue yang paling cantik nih di banding yang lain," tambahnya lagi. Fitri yang mendengar kesombongan Lula itu nampak memutar bola matanya malas. "Ya jelas lah elo anak yang paling cantik. Soalnya lo cuma punya saudara satu anjir. Lo cuma punya Kakak satu, itu aja Kakak lo cowok," ujar Fitri gregetan. "Ya terus kenapa lo kaya kesel sama gue sih? Salah gue dimana coba? Ya gue berarti gak salah dong kalo bilang gue anak Mama yang paling cantik. Kan emang gue yang tercantik," sahut Lula membalas. "Iya lo gak salah La," ujar Fitri kesal. "Lo gak salah kalo lo bilang anak Mama lo yang paling cantik soalnya, gak ada kandidat lain yang bisa jadi lawan lo," ujarnya lagi. "Halah ngomongin kandidat," Lula tampak tersenyum meremehkan. "Justru gue gak ada kandidat lain buat lawan gue itu karena gak ada yang berani sama gue. Gak ada yang mampu bersaing sama gue. "Iya deh iya La. Terserah lo aja," pasrah Fitri akhirnya. Lelah juga meladeni Lula yang banyak bicara itu. "Udah ah gue mau cabut. Lama banget nungguin lo kelar doang mah. Keburu ketemu subuh lagi ntar," ujarnya kemudian. "Ngadi-ngadi lo. Subuh mata lu bocor," umpat Lula kesal. Fitri tak lagi menjawab. Gadis itu memilih untuk berdiam diri terlebih dahulu. Sampai pada akhirnya gadis itu kembali membuka suara. "Ya udah gue cabut duluan. Mau pulang, keburu cacing gue demo minta traktiran sama lo," ujar Fitri berpamitan seraya berjalan menjauh dari kelasnya. Sepeninggalan Fitri, suasana mendadak hening. Sekarang tinggallah hanya Savana dan Lula saja yang masih berada di dalam kelas XI MIPA 3. Anak-anak lain sudah keluar sedari tadi. "Va, kenapa Reno lama banget ya?" tanya Lula pada akhirnya. Gadis itu sudah mulai bosan menunggu. Savana nampak menggelengkan kepalanya seraya menghendikkan bahunya tanda tak tahu. "Sava gak tahu deh," ujarnya. "Dia--," belum sempat Lula menyelesaikan perkataannya, terdengar suara langkah kaki yang mendekat. Diikuti dengan suara seorang laki-laki. "Sava, Reno datang," ujar cowok itu yang ternyata adalah Reno.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN