Seperti kelas pada normalnya, kelas Savana juga pasti mengalami keramaian dan keributan di setiap waktu jam olahraga. Hari ini, tepat pukul 08.00 WIB, kelas Savana memiliki jadwal untuk berolahraga.
Seperti apa yang sudah dikatakan diawal, kelas Savana saat ini sedang riuh ramai penuh keributan hanya karena perkara ganti baju. Baik kaum adam maupun hawa saat ini sedang beribut untuk memperebutkan kelas sebagai tempat ganti baju mereka. Heran. Padahal kamar mandi di SMA Nusa Bangsa juga terbilang banyak dan sangat bersih. Kelas Savana juga letaknya tak terlalu jauh dari kamar mandi. Namun, entah kenapa mereka lebih suka berganti pakaian di dalam kelas.
Perebutan ini sudah sering kali terjadi bahkan sebelum Savana pindah di SMA Nusa Bangsa dan berada di kelas XI MIPA 3 ini. Meskipun terbilang Savana baru masuk di kelas XI MIPA 3 dan gadis itu baru saja melihat pertengkaran diantara teman-teman baru sekelasnya ini, Savana jujur saja sama sekali tak merasa heran dengan apa yang terjadi di depannya. Savana merasa sangat wajar melihat pertengkaran dan keributan antara kaum laki-laki dan perempuan yang saling berebut ruang kelas itu.
Karena, di sekolah Savana yang dulu pun, sudah sering terjadi hal demikian. Bedanya, di kelas Savana yang ada di sekolahnya yang dulu itu, teman-temannya berebut dengan rusuh dan serius. Pasti di ujung-ujungnya akan terjadi pertengkaran yang nyata.
Namun disini, di kelas XI MIPA 3 ini, Savana sama sekali tak melihat tanda-tanda pertengkaran yang sangat serius. Savana malah enjoy menikmati drama perebutan yamg tersaji di depan mata gadis itu.
Ayu dan Tere. Maskot di kelas XI MIPA 3 yang terkenal sangat bar-bar itu yang saat ini maju paling depan melawan Andi dan Tino, dengan Andi sebagai ketua kelas dan Tino sebagai wakilnya.
Ayu, Tere, Andi dan Tino nampak saling berpandangan dengan raut wajah serius. Mereka bertatapan sembari mata mereka dibuat memicing. Teman-teman sekelas yang lain sudah bersorak ramai menonton pertunjukan yang ada di depannya. Mereka berteriak dan bertepuk tangan riuh. Meramaikan kegiatan yang sedang berlangsung.
Namun berbeda hal dengan Savana. Gadis cantik itu, nampaknya memang berminat dengan drama tersebut. Namun dia memilih duduk santai sambil menonton. Bukannya itu lebih menyenangkan?
"Lo gak bisa ya An, seenaknya ngatur-ngatur kaya gitu. Harusnya lo sebagai ketua itu bersikap adil. Minggu kemarin kan udah anak-anak cowok yang ganti baju di kelas, sekarang gantian anak cewek lah. Jangan egois gitu," ujar Ayu memulai perdebatan. Gadis itu nampak berbicara serius, menuntut namun juga disertai sedikit rengekan. Ya, memang seperti itulah yang terjadi, mau bagaimanapun juga, pasti akan berakhir dengan si cewek merengek. Kalau tidak begitu, memang apa yang akan dilakukan? Adu jotos? Yakali Andi dan Tino sudi untuk lawan Ayu dan Tere. Mereka pasti jelas menolak. Mereka tak akan mau melawan perempuan.
Bahkan melawan Lula yang memiliki ilmu bela diri pun mereka tak mau. Mau bagaimanapun juga, tenaga laki-laki dan perempuan itu berbeda. Andi dan Tino itu laki-laki, Ayu dan Tere perempuan, apalagi mereka tak ada ilmu bela diri apapun. Apa yang akan Ayu dan Tere lakukan? Menjambak Andi dan Tino? Menjewer telinga mereka? Atau menampar mereka? Rasanya, Andi dan Tino bisa melawan semua itu dengan mudah.
Sekalipun yang menjadi lawan Andi dan Tino itu Lula, seperti yang sudah kubilang diawal. Itu jelas tetap tak akan sebanding. Mereka tak memiliki tenaga yang sama. Walaupun Lula bisa bela diri sekalipun.
"Gue bukannya gak adil atau egois Ay. Cuma lo sama temen-temen lo emang gak takut buat ganti di kelas? Temen-temen cewek emang gak takut gitu kalo semisal ada yang ngintipin mereka waktu ganti baju di kelas? Kelas gak menjamin aman untuk anak cewek Ay," ujar Andi memberi tahu. Andi tak sepenuhnya berkata seperti itu hanya untuk membuat Ayu dan Tere juga teman-teman perempuan di kelasnya yang lain merasa takut atau parno. Namun Andi juga mengatakan sebuah kenyataan. Bukannya kenyataannya memang begitu? Berganti pakaian di ruang kelas memang sangat tidak dianjurkan. Dan itu memang sangat bahaya dan memiliki resiko diintip yang sangat besar. Jadi, Andi tak bohong kan?
Dan Savana nampak mengangguk setuju dengan apa yang Andi ucapkan. Itulah alasan kenapa Savana juga selalu enggan jika disuruh ganti baju di kelas. Resiko yang dikatakan Andi itu selalu menghantui pikirannya sedari dulu. Tanpa mau mengambil resiko yang tinggi, Savana memilih untuk berganti pakaian di tempat yang seharusnya, di kamar mandi. Masa bodo dengan teman-temannya yang tetap ngeyel ingin berganti pakaian di kelas. Mereka sepertinya tak berpikir lebih jauh lagi tentang resiko yang berbahaya itu.
Namun, lagi-lagi alasan itu yang digunakan Andi untuk mengelak. Sudah sedari awal Andi menggunakan trik alasan itu. Dan saat ini, Ayu dan Tere tak akan terperdaya lagi dengan trik seperti itu. Lihat saja, mereka sekarang tak akan ngalah hanya karena alasan yang sama.
"Basi tahu An. Lo udah gunain alasan itu berkali-kali di setiap debat kaya gini. Apa sih maksud lo? Bahaya? Tahu kok gue, kita semua tahu. Tapi lo mikir gak? Kenapa disaat anak cewek dilarang untuk ngelakuin karena bahaya beresiko diintip, terus kenapa anak cowok tetep ngelakuin itu? Emangnya anak cowok gak beresiko diintip? Lo pernah mikir kaya gitu gak An?" sekarang giliran Tere yang menyahut. Gadis itu nampak sangat berapi-api. Dan apa yang gadis itu katakan. Sempat membuat Andi dan Tino langsung kicep seketika. Anak-anak cowok yang tadinya sangat hiperbola dengan perkataan Andi langsung diam di tempat. Mereka mendadak berpikir. Bukannya apa yang dikatakan Tere itu benar?
Kalau anak perempuan beresiko diintip, itu juga tak ayal bisa saja membuat anak laki-laki beresiko diintip pula. Kenapa baru terpikir sekarang?
"Eh iya juga ya, kalo cewek-cewek diintip, sama aja dong kaya kita," ujar salah satu anak cowok di kelasnya. "Kita juga bisa diintip," tambah cowok itu lagi.
"Iya woi, gue baru kepikiran sekarang," sahut cowok lain.
"Wah parah. Setelah berkali-kali kita ganti di kelas dan kita baru sadar soal ini? Bahaya ini bahaya!" cowok yang lainnya lagi menyahuti.
Sekarang giliran barusan cewek-cewek bersorak bangga jawaban yang Tere berikan. Namun itu tak berselang lama ketika Tino mulai bersuara.
"Cewek sama cowok itu beda Re. Lo tahu kan anak cowok mau shirtless di depan kelas atau bahkan di lapangan sekalipun atau kalo nggak di tempat umum pun, itu gak akan jadi masalah. Tapi kalo cewek? Mana bisa kaya gitu?" ujar Tino menjawab. "Cowok cuma punya sedikit hal yang harus dilindungi dari dirinya kalo cewek? Banyak. Pake banget. Jadi lo tahu kan kalo itu sulit?" tambahnya lagi.
Semuanya jelas tentu saja paham dengan apa yang dikatakan oleh Tino itu. Mereka tahu perempuan mempunyai lebih banyak area di tubuhnya yang harus di lindungi sedangkan laki-laki hanya memiliki sedikit. Dan itu juga benar adanya bahwa laki-laki shirtless di tempat umum itu juga memang tak menjadi masalah besar.
Beberapa saat hening. Ayu dan Tere tak bisa menjawab lagi. Keduanya masih berpikir, bahkan anak-anak lain pun ikut membantu Ayu dan Tere untuk memikirkan jawabannya. Karena apa? Itu karena mereka tak mau lagi kalah untuk ke sekian kalinya.
Mereka berpikir keras sebelum jam yang sudah di tentukan itu bisa membuat mereka kalah. Savana hanya diam dan duduk memperhatikan. Suasana yang tadinya sangat ramai itu mendadak benar-benar hening. Bahkan anak cowok pun terikut hening.
Mata Savana menatap teman perempuan di kelasnya satu persatu. Mereka nampak sangat berpikir keras, bahkan Lula pun melakukan hal yang sama. Ah, sepertinya Lula juga salah satu peminat ganti baju di kelas. Savana bingung, apa sih yang membuat mereka seserius ini? Apa yang membuat mereka berpikir keras padahal di otak Savana bahkan sudah tersimpan satu jawaban yang tanpa Savana suruh otaknya berpikir, jawaban itu langsung tercipta dengan sendirinya begitu mendengar apa yang dikatakan Tino.
Savana yang sedari tadi hanya duduk diam itu akhirnya berdiri. Berdirinya gadis itu bahkan langsung mengundang banyak perhatian dari anak-anak kelasnya.
"Mmm Sava boleh bantu jawab nggak?" tanya Savana pelan. Takut dikira ikut campur karena dia adalah anak baru.
Anak-anak perempuan di kelasnya langsung menjawab perkataan Savana dengan semangat. Berbeda dengan anak laki-laki yang nampak berkeringat dingin di tempatnya. Takut jawaban Savana bisa membuat Andi dan Tino kicep seketika.
"Boleh Va boleh," sahut teman-teman perempuannya.
Savana mengangguk. Gadis itu lalu menarik napas pelan sebelum berbicara. "Jadi, maaf nih ikut campur. Cuma Sava mau bilang, memang bener, anak cewek sama cowok itu beda. Bener juga cowok shirtless di lapangan atau tempat umum lain itu fine-fine aja. Kita semua tahu itu. Hanya saja, untuk anak cewek bukannya ada solusi lain untuk mengatasi itu? Kita-kita anak cewek bisa kok double baju kita pake kaos biasa. Itu juga bisa buat gak beresiko tinggi kan? Bahkan kalian mana tahu kalo anak cewek selalu pakai celana tambahan dan itu justru semakin membuat aman. Jadi, apa yang harus di khawatirin?" ujar Savana tenyata benar-benar membuat anak kelas terdiam. "Justru yang cowok lah yang harus dikhawatirin. Anak cowok memangnya pakai celana tambahan? Sava yakin sih enggak. Dan kalian pernah mikir nggak kalo itu beresiko cukup tinggi untuk anak cowok sendiri?" ujar Savana lagi. Kali ini gadis itu kembali duduk. Semua yang Savana lakukan diawasi oleh anak-anak kelasnya. Lali gadis itu nampak mengambil seragam olahraga dari dalam tasnya.
"Sava sih cuma mau bilang gitu ya. Terserah deh kalian mau dengerin enggak. Terserah juga kalian mau nyimpulin yang mana yang menang. Sava mau pamit ganti dulu," ujar gadis itu kemudian berdiri lalu berlalu pergi.
Anak-anak kelas nampak masih cengo dengan apa yang Savana katakan. Bahkan disaat Savana mulai menghilang di balik pintu pun mereka masih menatapnya. Menatap pintu yang baru saja dilalui Savana. Namun tidak untuk Lula, gadis itu adalah orang yang sadar paling awal, dia dengan cepat mengambil seragam yang ada di tasnya lalu berlalu pergi mengejar Savana. Dia tak mau Savana sendirian.
"Sadar woi sadar," ujar Lula berteriak sebelum gadis itu berlalu pergi meninggalkan kelas.
Semua seketika kembali ke dunia asli. Semua yang dikatakan Sava benar. Jadi, sekarang tak ada lagi yang bisa membuat anak cowok itu kembali mengelak.
"Jadi?" tanya Ayu dengan alis gadis itu yang terangkat naik dan juga salah satu sudut bibirnya terangkat naik pula. Smirk.
"Fine. Kita ganti baju di kamar mandi," ujar Andi pasrah.
Dan begitulah akhirnya, perdebatan kali ini dimenangkan oleh anak cewek. Setelah sedari awal anak cewek tak pernah menang sekalipun.
Thanks Savana!