CHAPTER 19

1207 Kata
Jam sudah menunjukkan pukul 06.57 WIB. Namun sangat aneh ketika upacara belum juga dimulai. Saat ini Savana dan juga Lula sedang berada di dalam kelasnya. Bahkan bel dan pemberitahuan akan dimulainya upacara belum juga ada. Padahal biasanya persiapan upacara akan dilaksanakan sekitar pukul 06.45 WIB atau paling lama 06.50 WIB. Itupun akan dimulai sekitar jam saat anak-anak sudah berkumpul. Tak mau memikirkan itu, Savana dan Lula berserta teman-teman sekelas mereka memilih acuh. Mereka saat ini malah sibuk bermain bersama di kelas mereka. Siapa pikir di bangku SMA tidak ada yang bermain? Ada dong. Jelas pasti ada. Contohnya seperti di kelas Savana ini. Saat ini, satu kelas Savana sedang bermain game mafia atau biasa juga disebut game werewolf. Keduanya mempunyai cara main yang sama. Baru saja game itu dimulai beberapa menit yang lalu, namun entah karena sial atau mang karena noob. Selalu saja yang menjadi tersangka atau si mafia kalah di awal permainan. "Yaelah ketahuan lagi ketahuan lagi. Gak asik ah, noob semua noob," kompor seorang teman di kelas Savana. Dia adalah Lionel. "Lio, lo bacot mulu dah dari tadi. Coba deh sini, lo yang jadi mafia. Gue yakin lo.akan langsung kalah," sahut teman sekelas Savana yang lain dengan kesal, terlihat sekali dari raut wajah gadis itu yang nampak keruh. Dia adalah Siska. "Gue bakal menang. Lo tau itu," sahut Lionel lagi menyahuti. Cowok itu sebenarnya memang sengaja mau membuat si Siska yang terkenal sangat minim kesabaran ini ngamuk. Siska memang gadis yang sering sekali marah-marah di kelasnya. Maka dari itu, gadis ini saat ini menjabat sebagai bendahara kelas. Bukannya itu sangat cocok untuk dia? Sementara itu, saat ini Siska semakin kesal di tempatnya. Lula yang tahu dan menyadari itu merasa harus segera menghentikannya, atau telinga Savana akan segera pecah mendengar teriakan Siska. Lula sendiri tahu, Siska mungkin saat ini marah atau kesal dengan Lionel. Tapi sebenarnya, mau semarah apapun Siska pada Lionel, pasti ujung-ujungnya mereka akan selalu berakhir dengan damai. Maka dari itu kelas akan kembali tentram. Siska tahu tabiat Lionel yang suka sekali menaikkan emosinya. Jadi setiap Lionel mengejeknya, Siska mungkin kesal dan marah, namun gadis itu tak pernah mengambil hati omongan Lionel. Oke, tapi kali ini beda. Jika biasanya Lula hanya akan diam dan menikmati pertunjukan, lain halnya dengan sekarang. Sekarang sudah ada Savana di antara mereka, Lula jelas tak akan membiarkan telinga Savana sakit hanya karena mendengar teriakkan maut dari seorang Siska. Siska sudah mengambil ancang-ancang ingin berteriak. Teman-teman sekelas mereka yang tahu apa yang akan dilakukan oleh Siska pun sudah menutup telinga mereka masing-masing. Namun sebelum teriakan itu terlaksana, Lula lebih dulu bersuara. "Udahlah Sis. Lo lupa disini sekarang udah ada si polos Sava? Jangan banyak teriak-teriak ah. Gak baik juga buat pita suara lo," ujar Lula mencegah teriakan Siska. Dan berhasil, mendengar apa yang dikatakan Lula, gadis itu terlihat mengurungkan niatnya. "Simpen aja suara lo buat narik iuran kas. Itu lebih berguna tahu Sis. Dari pada teriak sekarang. Gak ada gunanya banget," lanjutnya. Ah, benar juga apa yang dikatakan Lula. Siska nampaknya harus lebih banyak tenang kedepannya. Siska nampaknya hanya akan berteriak ketika menagih uang kas sekarang. Baiklah, tak apa. Hitung-hitung menjaga pita suara. Teman-teman sekelas Savana yang sebelumnya sudah bersiap menutup telinga itu akurnya membuka telinga masing-masing mendengar Siska mulai tenang. Tak ada teriakan. Wah hebat, gadis cerewet ini mendadak anteng. "Kenapa Siska jadi diem La? Lo bilangin dia kaya gimana sampe dia bisa anteng gini?" tanya Ayu menatap Lula dengan tatapan penasaran. Pasalnya selama ini, Siska tak pernah bisa seanteng ini. "Gak gue bilangin apa-apa," jawab Lula santai. "Gue cuma ngomong aja sama dia. Kalo disini ada Sava, masa dia tega biarin telinga polos anak gue jadi korban teriakan maut," lanjut Lula lagi Ayu nampak menepuk jidatnya pelan. Gadis itu bahkan hampir saja melupakan keadaan Savana. Untung saja ada Lula. Jadi gadis manis itu polos. Lula memang ibu jadi-jadian yang baik. "Ah iya, Savana! Anak kesayangan gue," ujar Ayu mendadak heboh sendiri, gadis itu langsung menghampiri Savana yang masih anteng di tempatnya. "You okay anak Mami?" tanya Ayu yang membuat Lula bergidik jijik. Begitupula dengan teman sekelas mereka yang lain. Namun Savana, gadis itu hanya menatap Ayu dengan polos. Lalu mengangguk. "Aku baik kok. Emang aku kenapa Ay?" tanya Savana bingung. Kenapa gadis itu ditanyai soal keadaan? Padahal gadis itu sedari tadi sedang baik-baik saja. Apa yang salah dengan dirinya? Ayu jadi kikuk sendiri dibuatnya, gadis itu menggaruk tengkuknya yang diyakini pasti saat ini sebenarnya sedang tidak gatal.. Pertanyaan Savana itu benar juga ya. Bukannya Siska batal berteriak? Kenapa Ayu masih saja menanyakan kabarnya? Ya pasti baik lah. Tapi kan, niatnya Ayu tadi bukan begitu. Niatnya gadis itu hanya basa-basi. Tapi gadis itu lupa siapa yang diajak berbicara. Ini Savana, gadis polos dan manis. Mana paham dia soal itu. Savana saja, kalau ngomong asal jeplak. Semuanya murni jujur dari pikiran gadis itu. Ah tidak sih, gadis itu pasti juga akan berbasa-basi mengenai puji-memuji dengan teman-teman sekelas yang lain. Namun untuk orang yang lain, entahlah belum ada yang tahu. Melihat Ayu yang nampak kikuk itu membuat teman-teman di kelas mereka tertawa dengan bahagianya. "Ay, Ay. Lagian lo sok-sok an banget mau jadi Mami Mami jadi-jadiannya si Sava. Modelan lo aja kaya gini Ay," ujar teman sekesal Savana yang lain mencibir. Dia adalah Reta. Ayu hanya mecebikkan bibirnya kesal mendengar cibiran yang dilontarkan Reta untuknya. Namun sedetik setelah itu, wajah Ayu berubah menjadi malu-malu. "Ceilah, pake malu si emak," cibir Lionel. Emang ya, Lionel ini kerjaannya jadi tukang cibir di kelasnya. Savana yang sedari tadi hanya diam dan hanya berbicara ketika diajak berbicara itupun akhirnya bersuara setelah mendengar apa yang dikatakan Lionel. "Sava mau temenan sama Onel ah," ujar Savana tiba-tiba membuat semua orang yang tadinya sedang fokus menatap Ayu kini mulai beralih menatap Savana. Bahkan Ayu juga ikut menatap Savana. "Onel? Onel siapa Sava?" tanya Lula dengan nada suaranya yang terdengar sangat kalem. Lalu tangan Savana langsung menunjuk kearah dimana Lionel berada, semua yang ada disana pun langsung mengikuti arah tunjuk Savana dan mendapati Lionel yamg sedang terdiam cengo sembari menunjuk dirinya sendiri. Gadis itu mengangguk lalu kembali membuka suara. "Lionel. Sava mau panggilnya Onel," ujar Savana dengan senyum cerahnya. "Onel, boleh kan Sava temenan sama Onel?" tanya gadis itu lagi, dengan raut wajah yang menatap Lionel dengan polos. Melihat Savana yang menatapnya polos itu membuat Lionel menggigit bibirnya sendiri. Menahan gemas. Lalu cowok itu dengan cepat dan dengan semangat mengangguk. "Boleh dong Sava. Onel sekarang temen kamu kok," ujar Lionel dengan nada suara yang sangat lembut. Ini bahkan pertama kalinya teman sekelas mereka mendengar Lionel berbicara dengan nada suara itu. Biasanya kalau tidak marah, Lionel pasti selalu berbicara dengan nada suara yang sangat tengil. Lionel lalu langsung menatap teman sekelasnya dengan tatapan seperti mengejek. "Savana milih gue, Savana milih gue," ujar Lionel dengan badan cowok itu yang sengaja digerak-gerakkan. "Dia ada panggil gue pake nama khusus hoho hoho hoho," ujarnya cowok itu dengan sangat excited. Semua yang ada disana bergidik ngeri dan jijik melihat tingkah laku Lionel. Lain halnya dengan Savana yang nampak senang dengan tangan gadis yang tepuk tangan gembira. Semua yang ada di sana menghela napas pasrah. Semoga Savana tak ketularan gilanya Lionel.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN