CHAPTER 18

1324 Kata
Matahari mulai memunculkan dirinya, embun pagi juga sudah mulai sirna. Burung berkicau keras, ayam berkokok pun sudah berhenti. Pagi ini, jam sudah menunjukkan pukul 06.15 WIB. Lula dan Savana, kuda gadis itu sudah siap dengan seragam mereka masing-masing. Keduanya juga sudah selesai sarapan, memakan roti dan juga s**u yang mereka buat sendiri. Lula, gadis itu hari ini menggunakan seragam milik Savana. Kebetulan sekali, Savana setidaknya langsung membeli seragam dengan 2 seragam cadangan. Jadi, gadis itu memang memiliki stok seragam di rumah dan ada juga yang berada di loker sekolah. Kebetulan sekali juga, seragam milik Savana sangat pas di tubuh Lula. "Sava udah siap belum? Kalo idah kita berangkat sekarang," ujar Lula sembari membawa gelas bekas minumnya itu kedalam wastafel lalu mencucinya. Savana yang memang sudah selesai dengan kegiatannya sedari tadi itupun mengangguk. "Udah La. Sava udah selesai dari tadi. Sekarang tinggal berangkat aja," jawab gadis itu. Lula baru saja menyelesaikan kegiatan mencuci gelasnya, gadis itu Lalu meletakkan gelas yang baru saja gadis itu cuci di tempat asalnya. Setelahnya, Lula berjalan menghampiri Savana yang masih terlihat duduk di kursi makan, menunggu Lula menyelesaikan kegiatannya. "Ya udah ayo, Lula juga udah selesai nih," ujar Lula mengajak Savana untuk segera berangkat. Gadis itu Lalu langsung menyambar tas yang ada di kursi samping kursi yang dia duduki, setelah itu dia membawanya untuk dia pakai di punggungnya. "Oh iya Va, kamu gak bareng sama Reno kan?" tanya Lula tiba-tiba saat Savana dan Lula sedang berjalan beriringan keluar dari rumah Savana. "Enggak La," jawab Savana. "Tadi aku udah chat Reno, aku udah bilang sama dia kalo hari ini aku berangkat bareng kamu," ujarnya lagi, menjelaskan. "Terus? Reno jawab apa?" tanya Lula penasaran. "Ya kata dia gak apa-apa kalo aku mau bareng sama kamu. Dia bilang, yang penting harus hati-hati aja gitu," ujar Savana dengan santai. Lula hanya manggut-manggut menjawabnya. Setelahnya, tak ada lagi pembicaraan diantara mereka. Sampai pada akhirnya, Savana dan Lula pun sudah berada di luar rumah Savana. Mereka saat ini berada di teras rumah gadis itu. "Kami duluan masuk mobil aja La. Aku mau kunci pintu dulu," ujar Savana pada Lula yang langsung di angguki gadis itu tanpa protes. Lula langsung masuk kedalam mobilnya, sedangkan Savana mengunci pintu rumahnya lalu memasukkan kuncinya kedalam tas miliknya. Setelah mengunci pintu, Savana tak langsung masuk kedalam mobil Lula. Gadis itu berjalan melewati mobil Lula untuk membuka pagar rumahnya dengan lebar. Agar mobil Lula bisa keluar. Melihat pagar rumah Savana sudah terbuka lebar, Lula langsung menyalakan mesin mobilnya lalu memundurkan nya. Sementara Savana sendiri, gadis itu berdiri di samping pagar rumahnya, menunggu Lula mengeluarkan mobilnya. Kemudian, setelah mobil Lula sudah berhasil keluar, Savana langsung menutup pintu pagarnya kembali, menguncinya kemudian gadis itu langsung memasuki mobil Lula. Gadis itu duduk di jok penumpang yang ada di samping Lula. Dan tanpa disuruh, Savana lalu memasang seat belt. "Udah siap kan Va?" tanya Lula memastikan. Savana yang baru saja selesai memasang seat belt itu menjawabnya dengan anggukan singkat. "Iya La, udah kok," ujar Savana. Mendengar jawaban dari Savana, Lula tanpa pikir panjang langsung menancapkan gas, membawa mobilnya keluar dari area komplek rumah Savana menuju jalan raya untuk pergi ke sekolahnya. Beberapa menit berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 06.43 WIB. Savana dan Lula juga baru saja sampai melewati gerbang sekolah, Lula lalu memarkirkan mobilnya dengan rapi di samping beberapa mobil lainnya, Lula mematikan mesin mobilnya lalu gadis itu dan juga Savana keluar dari dalam mobil. Lula dan Savana berjalan beriringan dengan tangan Lula yang terus menggandeng tangan Savana. Gadis itu mencoba untuk waspada. Siaga dalam melindungi Savana. Kalau-kalau saja, ada yang berniat mengganggu sahabatnya, Savana. Diperjalanan menuju kelasnya, banyak sekali yang menyapa Lula maupun Savana karena Lula sendiri sejujurnya merupakan anak yang memiliki jika sosialisasi yang tinggi. Gadis itu memiliki banyak teman si ekstranya. Perlu diketahui, Lula mengikuti ekstrakurikuler karate dan pencak silat. Jadi tak heran jika kebanyakan yang mengenal dan menyapa Lula adalah seorang laki-laki. Untuk Savana sendiri, meskipun gadis itu merupakan murid baru di SMA Musa Bangsa. Justru karena itulah Savana banyak dikenal. Satu sekolah sampai heboh karena kedatangan Savana. Savana tak tahu kenapa mereka seheboh itu. Mungkin memang karena jika anak baru itu sangat mencolok kali ya. Jadi, mereka menjadi banyak mengenal anak baru. Namun yang Savana sukai dari beberapa orang di SMA Nusa Bangsa adalah mereka sangat ramah. Sebagian besar dari mereka sering menyapa Savana di hari gadis itu baru memasuki SMA Nusa Bangsa. Ya, walaupun tak sedikit pula yang terang-terangan menatap Savana benci. Namun Savana bukan tipe gadis yang terlalu peduli dengan orang yang tak menyukainya. Savana anaknya enjoy saja. Gadis itu juga tak akan balas membenci orang yang membencinya. Mungkin Savana lebih ke diam. Gadis itu akan diam kepada orang yang membencinya, namun ketika orang itu membutuhkan bantuan. Savana akan dengan siap membantunya. Seperti itulah Savana. "Weh, Lula!" panggil seorang laki-laki dengan suara yang lumayan keras membuat Lula dan bahkan juga Savana yang mendengarnya itu berhenti. Padahal yang dipanggil Lula, namun Savana dengan refleks ikut memberhentikan langkahnya. Kedua gadis itu berbalik, untuk mencari sumber suara yang terdengar seperti ada di belakang mereka. Dan terbukti, dari sana terlihat sang pelaku dari suara itu sedang berlari menghampiri Savana dan Lula. Tidak, lebih tepatnya hanya Lula. "Kenapa?" tanya Lula to the point saat laki-laki sudah berdiri di depan Savana dan Lula. Laki-laki itu masih nampak mengatur napasnya karena ngos-ngosan saat berlari menghampiri Savana dan Lula. "Sa-bar dulu La," ujar laki-laki itu sedikit terputus-putus. Laki-laki itu lalu masih mencoba mengatur napasnya. Disisi lain, Lula hanya menatap laki-laki itu malas. Sementara Savana, gadis itu menatap laki-laki itu bingung. Setelah dirasa sudah mulai tenang, laki-laki itu lalu mulai bersuara. "Itu La, tadi kata Pak Anton, beliau titip pesan ke gue. Katanya suruh sampein ke Lula, kalau nanti ekstranya masuk, Lula disuruh langsung menghadap ke beliau. Ada sesuatu yang mau dibicarakan," ujar laki-laki itu sedikit berbelit-belit. Namun untung saja Lula masih bisa menerima perkataan laki-laki itu. Lula masih bisa paham dengan apa yang dikatakan laki-laki yang ada di depannya ini. Lula nampak mengangguk singkat menjawabnya. "Iya, thanks udah lo sampein ke gue," ujarnya berterima kasih. Laki-laki itu nampak mengangguk lalu mengacungkan kedua jempolnya pada Lula. "Siap La, santai," ujarnya seraya terkekeh singkat. Laki-laki itu lalu melirik Savana sekilas, baru sadar dengan keberadaan gadis cantik itu. Tadinya, laki-laki itu kira, gadis yang ada di samping Lula adalah teman sekelas Lula yang biasa saja. Bukan luar biasa seperti ini. Maksudnya, karena Savana adalah anak baru, jadi laki-laki tak banyak waktu bisa melihat Savana. Dan sekarang, pada akhirnya laki-laki itu bisa kembali melihat Savana, bahkan dari dekat. Beruntungnya dia bisa menatap Savana dari dekat seperti ini. Lula yang sadar dengan tatapan laki-laki itu yang tak kunjung beralih dari Savana langsung mengulurkan tangannya dan menoyor kepala laki-laki itu ke belakang. "Mata lo dijaga. Kenapa ngelihatin temen gue kaya gitu lo?!" ujar Lula bertanya galak. Gadis itu menatap tajam laki-laki yang ada di depannya sembari berkacak pinggang. "Yaelah La. Lo mah gak asik, padahal gue lagi cuci mata," ujar laki-laki itu mencebikkan bibirnya kesal. Lula tak peduli, gadis itu malah bergidik jijik melihatnya. "Udah sana lo, buru. Pergi," usir Lula kemudian mendorong badan laki-laki itu menjauh darinya dan juga Savana. Ya, Lula hanya berusaha melindungi Savana dari buaya dan lelaki kardus macam laki-laki ini saja sih sebenarnya. "Yaelah La benataran doang astaga," ujar laki-laki itu. Namun Lula masih juga tak peduli. Sampai pada akhirnya laki-laki itu pasrah. "Iya La iya, ini gue pergi nih," ujarnya membuat Lula menyingkirkan tangannya dari laki-laki itu. Tau begini, dari tadi saja dia bilang seperti itu. Setelah merasa Lula mulai menjauh darinya, laki-laki itu lalu kembali menatap Savana. Dengan ancang-ancang lari, laki-laki itu bersuara. "Cantik, nanti kita ketemu lagi ya," ujarnya diakhiri dengan mengerlingkan matanya sebelah. Lula yang melihat dan mendengar itu semua mendadak menjadi emosi. "DIONNNNN!!!!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN