CHAPTER 17

1151 Kata
Lula hari ini benar-benar menghabiskan waktunya dengan sangat baik di rumah Savana. Lula baru tahu, Savana ternyata memang hanya tinggal sendirian di rumah. Mama gadis itu adalah seorang wanita karir yang jarang di rumah dan untuk Papanya, entahlah Lula tak tahu. Setelah seharian penuh hadis itu bermain dengan sangat asik di rumah Savana entah itu mereka menonton film bersama, berenang bersama, memasak bersama, ataupun hanya sekedar bercerita-cerita ringan bersama. Semuanya mereka lakukan tadi. Dan itu bemar-benar terasa sangat asik ketika Lula melakukannya bersama dengan Savana. Karena jujur saja, Savana adalah gadis yang memang polos dan lugu, namun gadis itu sangat asik ketika diajak melakukan suatu permainan bersama. Lula sudah mencobanya secara langsung. Bahkan saat ini, jam menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Sekarang sudah waktunya Lula untuk pulang. Untuk yang menebak Lila masih ada di rumah Savana, ya kalian benar. Kenyataannya memang begitu, Lula masih ada di rumah Savana. Keduanya bahkan baru saja menyelesaikan menonton salah satu film bergenre horor. Dan satu lagi fakta yang terbongkar oleh Lula. Ternyata, gadis polos dan lugu yang memiliki tingkah sepeti anak kecil tak selalu menakuti sesuatu yang berbau horor ataupun sesuatu lain yang biasa di takuti gadis pada umumnya. Savana bahkan justru lebih berani daripada Lula. Ya, bukannya berani gimana-gimana juga sih karena beberapa kali terkejut saat jump scare. Namun terkejutnya mereka masih di batas normal. Beruntungnya mereka menonton film di rumah. Kalau saja di bioskop, pasti mereka akan diusir karena terlalu berisik. "Wah usah jam setengah sebelas malem aja nih Qil," ujar Lula setelah melihat jam yang melingkar di tangannya. Gadis itu lalu membuka ponselnya dan benar saja, jam di ponselnya juga jam menunjukkan pukul setengah sebelas malam. "Gak nyadar banget ternyata udah semalem ini," ujar gadis itu lagi. Savana baru saja men-scroll laptopnya untuk mencari film baru yang rencananya ingin dia tonton bersama dengan Lula karena mereka baru saja menamatkan satu film. Mendengar apa yang dikatakan Lula, Savana mengangkat kepalanya. Gadis itu lalu ikut mengecek jam yang ada di ponsel miliknya. Ya, memang sudah menunjukkan pukul setengah sebelas. Bahkan sudah lebih sekitar tiga menit. Karena mengetahui jam yang sudah larut malam, Savana mengurungkan niatnya untuk mencari film baru yang akan gadis itu tonton dengan Lula. Savana pikir, sekarang sudah jam untuknya tidur. Savana juga tak mau kalau sampai Lula begadang hanya karena menemaninya menonton film. Lagipula, besok masih jam sekolah. Sepatutnya mereka saat ini pergi dan bersiap untuk tidur. Kalau saja sampai Reno tahu Savana belum tidur jam segini, cowok itu pasti akan langsung datang menemui Savana dan menemani gadis itu agar bisa tidur dengan cepat. Reno pasti akan menemani Savana sampai Savana tidur dengan nyenyak. Ya, seperti itulah Reno. Selalu merawat Savana dengan baik. Savana benar-benar beruntung mempunyai sahabat dekat seperti Reno. Savana lalu langsung merapikan semua-semua yang tadi mereka gunakan untuk menonton film. Mulai dari gadis itu menutup laptopnya, menggulung kabel charger nya, merapikan bekas tempat makanan dan minuman yang tadi sudah dia habiskan isinya dengan Lula. Sampai gadis itu juga mengambili bekas popcorn yang tak sengaja terjatuh tadi. Lula yang melihat Savana berkemas itupun menghampirinya untuk berniat membantu. Dan berakhirlah mereka membersihkan ruangan itu pada tengah malam ini. Setelah semuanya dirasa lumayan bersih, mereka akhirnya memutuskan untuk masuk kedalam kamar Savana. Mereka berdua merebahkan tubuhnya menghadap langit-lamgit kamar Savana. "Huft," Lula menghembuskan napasnya pelan. "Hari ini seru banget ya. Kita lakuin banyak hal. Gue sama lo jadi lebih kenal lagi Va," ujar Lila kemudian. For your information, Lula memang seperti itu jika sedang bersama dengan Savana. Terkadang memang menggunakan lo-gue. Namun terkadang juga menggunakan aku-kamu. Dan sesekali juga menggunakan nama. Itu semua terjadi karena Lula belum terbiasa menggunakan panggilan aku-kamu atau nama kepada seseorang. Maka dari itu Lula merasa sangat asing san terkadang gadis itu sering lupa-lupa harus memanggil Savana dengan kata-kata yang lebih lembut mengingat hadis itu sangat polos. Jadi, ketika Lula ingat, gadis itu akan berbicara dengan bahasa dan nada yang sangat lembut kepada Savana. Namun ketika lupa, gadis itu akan kembali menggunakan lo-gue kepada Savana. "Iya Lula, Sava seneng deh. Akhirnya kita bisa main bareng," ujar Lula dengan tulus. "Oh iya, kapan-kapam kita harus main sama anak-anak kelas lainnya nih. Kita harus bareng-bareng satu kelas pokoknya," ujarnya lagi. Gadis itu memberi saran berupa rencana. Dan saran itu di terima dengan baik oleh Lula. Tentu saja gadis itu setuju seratus persen. Pasti itu akan sangat menyenangkan. Lula membayangkan mereka pergi berlibur bersama di sebuah kota, atau mereka pergi camping bersama. Pasti itu akan sangat seru dan menyenangkan. "Ide bagus Sava. Pasti nanti gue bakalan bilang ke anak-anak so rencana lo. Mereka pasti juga setuju. Kita soalnya emang belum pernah buat liburan sendiri sama anak satu kelas sih," ujar Lula memberitahu. "Mmm kayanya kalo kita liburan bareng waktu liburan semester ini seru sih Va. Iya gak?" ujar Lula lagi. Gadis itu pikir, pasti akan sangat menyenangkan ketika rencana itu bisa dilaksanakan dengan cepat. Dan ya, memang seperti itu sih pada kenyataannya. Lebih cepat lebih baik. Lebih cepat lebih asik. Savana mengangguk antusias. Gadis itu sangat setuju dengan apa yang dikatakan Lula. "Sava setuju banget tau La. Sava juga udah gak sabar nih. Gak mau nunggu lama-lama," ujarnya senang. "Nanti kamu bilang ini ke temen-temen sekelas ya? Biar bisa planning juga dan harap-harap satu kelas bisa semua. Soalnya kalo ada aja satu yang gak bisa, kayanya bakalan sedih banget deh kalo kita bahagia, seneng-seneng, terus temen kita yang satu itu gak ikut," ujarnya lagi dengan nada sendu di akhirnya. "Iya Va, habis ini langsung gue chat mereka kok," ujar Lula menjawab. Sejenak hening, hanya suara malam ya g terdengar. Sampai Lula kembali bersuara. "Oh iya, ini udah malem banget Va. Gue kayanya harus pulang deh," ujar gadis itu lagi setelah melihat jam yang melingkar di tangannya menunjukkan pukul setengah satu pagi. Lula bangkit untuk duduk di tepi ranjang Savana. Diikuti dengan sang pemilik kamar yang juga ikut beranjak duduk. Savana menatap Lula bingung. Kenapa gadis itu harus pulang? Bukannya dia bilang sedang sendirian di rumah? Apa tidak lebih baik Lula menginap di rumahnya saja malam ini? Lagipula, ini sudah terlalu larut. Akan sangat bahaya jika Lula pulang sendirian. "Kenapa harus pulang La? Lula bisa nginep di rumah Sava aja kok. Ada banyak kamar kosong disini. Daripada Lula sendirian di rumah kan?" ujar Savana. "Lagian ini udah larut banget La. Gak baik kamu pulang selarut ini sendirian," ujar Savana lagi. Baru saja Lula membuka mulutnya. Gadis itu bahkan belum sempat mengeluarkan suara sama sekali. Namun dengan cepat Savana menyelanya. "Gal ada tapi lagi ya La. Ini pernyataan bukan pertanyaan. Ini perintah," ujar Savana dengan wajah yang dibuat serius-serius galak yang sialnya malah jatuh ke menggemaskan di mata Lula. Tak ada menyeramkan ya dama sekali. "Udah cepet, siap-siap tidur," lanjut Savana kemudian. Lula hanya mengangguk pasrah karena itu. Baiklah, malam ini, dia akan menginap di rumah Savana Arabella.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN