Malam ini, Lula berniat untuk berkunjung ke rumah Savana. Setelah percakapan singkat mereka. Kula akhirnya memutuskan untuk bermain ke rumah Savana. Menemani gadis itu di rumahnya. Di dalan pesan, Savana berkata bahwa gadis itu berada di rumah Reno yang merupakan tetangganya. Membaca itu, Lula langsung memutuskan untuk datang ke rumah Savana.
Kenapa? Karena gadis itu sendiri saat ini juga sedang sendiri di rumah. Kedua orang tua Lula sedang berada di luar kota untuk berkunjung ke rumah saudara mereka yang sedang ada acara nikahan. Kemungkinan, orang tua Lula akan pulang keesokan harinya.
Alhasil, daripada sendirian di rumah, Lula memutuskan untuk pergi ke rumah Savana.
Beberapa menit mengendarai mobilnya sendiri sampai pada akhirnya saat ini, Lula sudah berada di depan pagar rumah Savana. Lula tak langsung masuk ke area pekarangan Savana. Gadis itu masih memarkirkan motornya di depan pagar rumah Savana. Lula juga tak langsung turun dari mobil, gadis itu masih tetap diam duduk di jok kemudinya. Gadis itu akan mengirim pesan kepada Savana, mengatakan bahwa gadis itu sudah berada di depan rumahnya.
Lula Ambarini: Aku udah ada di depan rumahmu nih Va. Di depan pagar. Kamu buruan keluar.
Tak perlu menunggu waktu lama, Savana langsung membalas pesan dari Lula
Savana Arabella: Iya La. Bentar ya, aku keluar sekarang.
Lula Ambarini: Oke sip.
Lula segera memasukkan ponselnya kedalam saku celana yang sekarang sedang dia kenakan. Gadis itu lalu menunggu Savana sembari menatap sekeliling komplek rumah Savana. Komplek rumah Savana termasuk komplek yang elite. Lula tak pernah tahu gadis itu memiliki teman yang kaya. Ya, daripada Lula, Savana memang jauh lebih kaya. Tak butuh waktu lama Kula menunggu, Savana terlihat keluar dari dalam rumahnya, gadis itu lalu membukakan pagar rumahnya untuk mobil Lula masuk.
Melihat Savana membukakan pagar untuknya, Savana pun langsung menancapkan gas nya memasuki pekarangan rumah gadis itu. Karena memang sedari tadi mesin mobil Lula masih dinyalakan.
Setelah memarkirkannya mobilnya dengan sangat rapi, Lula kemudian keluar dari mobilnya, gadis itu sedikit merapikan pakaiannya sejenak sebelum pada akhirnya menghampiri Savana yang baru saja selesai menutup kembali pintu pagar rumahnya.
"Hai Lula," sapa Savana dengan ceria. Gadis itu melambaikan tangannya pada Lula.
Lula yang melihat itu balas melambaikan tangannya pada Savana. "Hai juga Sava," ujar Lula membalas sapaan Savana.
Mereka berdua terkekeh kecil kemudian.
"Ayo Lula masuk, Savana kebetulan lagi nonton film nih tadi. Ayo kita nonton bareng," ujar Savana mengajak Lula untuk masuk ke dalam rumahnya sembari menggandeng tangan gadis itu.
"Iya," ujar Lula singkat. "Oh iya, by the way tadi kata kamu, kamu lagi di rumah Reno. Kok, sekarang udah di rumah kamu sendiri?" tanya Lula kemudian. Gadis itu cukup penasaran. Walaupun itu adalah hal simple yang tak terlalu penting, namun tetap saja, Lula ingin tahu.
"Atau gara-gara Lula mau datang ya, jadi Sava langsung pulang? Lula ganggu waktunya Sava main sama Reno dong?" ujar Lula merasa bersalah. "Maaf ya Sava," lanjut gadis itu.
Savana yang mendengar permintaan permintaan maaf Lula dan mendengar nada sedih dari suara Lula serta gadis itu yang melihat ekspresi merasa bersalah dari wajah sahabatnya itu mendadak merasa khawatir. Ini bukan karena Lula. Ini karena gadis itu sedang ingin pulang saja. Kenapa Lula menyalahkan dirinya sendiri karena ini? Ah, Savana tak bisa membiarkannya begitu saja.
"Enggak Lula. Bukan gara-gara Lula kok. Lagipula, Sava emang lagi pengen pulang aja, Sava lagi pengen nonton film. Eh kebetulan nya lagi, Lula juga berkata ingin main ke rumah Savana. Kan, Savana jadi semakin merasa senang. Jadi, gadis itu akan memiliki teman untuk menonton film bersama. "Ditambah, Lula bilang Lula mau main kesini. Sava jadi makin seneng karena Sava punya temen buat nonton film bareng, jadi ini bukan salah Lula tau," tambah gadis itu meyakinkan Lula.
Lula sedikit tak percaya dengan apa yang dikatakan Savana. Namun, mengingat Savana adalah gadis yang sangat polos, tulus dan jujur, Lula jadi tahu bahwa Savana memang sedang tidak berbohong, apalagi gadis itu memang tak pernah bisa berbohong. Savana pasti akan langsung ketahuan ketika berbohong karena gadis itu tidak pandai dalam menyembunyikan sesuatu kebohongan.
Baru beberapa hari mengenal Savana. Lula sudah banyak mengetahui sifat-sifat dan sikap-sikap Savana. Gadis itu benar-benar sangat istimewa. Masih putih bersih belum tercemari.
Savana benar-benar seistimewa itu. Lula bahkan yakin, kalau saja gadis itu adalah seorang laki-laki, pasti dia akan menyukai Savana.
Savana itu paket lengkap deh pokonya. Kalo sudah berbicara mengenai Savana, kata yang paling menggambarkan gadis itu hanyalah satu. Yaitu sempurna.
Meskipun memang tak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Namun untuk ukuran manusia biasa, Savana sudah sangat sempurna menurut Lula.
Lula sudah tak banyak bisa berkata-kata lagi. Semua anak kelasnya bahkan langsung menyayangi Savana begitu hadis itu masuk kedalam kelas mereka. Mereka semua bahkan sudah membuat kesepakatan untuk melindungi Savana bersama-sama. Mereka tak akan membiarkan Savana terluka.
Ah, Lula jadi membayangkan, bagaimana ya jika teman-teman sekelasnya tahu perihal Savana yang menyukai Geo. Apa yang akan dilakukan teman-teman sekelasnya untuk melindungi Savana?
Lula memang sengaja belum memberitahu teman-temannya perihal Savana yang menyukai Geo. Lula pikir, mungkin nanti saja gadis itu memberi tahu. Gadis itu berencana akan memberitahu teman-teman sekelasnya disaat Savana sudah mulai mengejar Geo saja.
Namun saat Lula mencoba berpikir dua kali. Sepertinya itu adalah ide yang buruk. Rasanya, ketika Lula telat memberitahu mereka soal Savana yang menyukai Geo, pasti itu akan mempengaruhi rencana mereka. Setidaknya, jika teman-teman sekelasnya mengetahui lebih awal, itu akan menjadi sangat bagus. Bukannya begitu?
Jadi, mereka memiliki banyak waktu untuk menyusun berbagai rencana dan strategi untuk melindungi gadis itu dari Geo. Ya, sepertinya harus seperti itu.
Bersyukurnya Lula berpikir sebelum benar-benar kejadian, kalau sudah terlanjur terlambat, Lula tak tahu gadis itu harus apa. Pasti dia akan menyalahkan dirinya sendiri yang begitu bodoh.
Lula mengabari teman-temannya nanti. Tak bisa sekarang. Ya, karena posisi hadis itu sedang berada di rumah Savana. Akan sangat bahaya jika Savana tahu. Dan satu lagi, Lula takut tak bisa menjelaskan secara rinci jika gadis itu masih berada di sekitar Savana karena ruang gadis itu benar-benar sempit. Gadis itu tak bisa banyak bertindak. Gadis itu tak bisa melakukan segala hal dengan bebas. Semua ruang geraknya benar-benar terbatas.
Memang seharusnya setelah ini saja Lula akan memberitahu teman-teman sekelasnya.