CHAPTER 15

1345 Kata
Saat ini, Savana sudah berada di dalam rumah Reno. Sepeti itulah keseharian Savana. Sepulang dari sekolah, gadis itu pasti akan pergi ke rumah Reno untuk sekedar duduk-duduk saja, tidur siang, nonton, ataupun makan. Mama Sania saat ini juga sedang tidak ada di rumah. Mama Reno itu saat ini sedang menghadiri salah satu acara pernikahan kerabat Reno. "Reno, hari ini Sava belum ketemu sama Geo. Emangnya Geo gak masuk sekolah ya Ren?" tanya Savana dengan raut wajahnya yang nampak sekali sangat bertanya-tanya. Reno yang mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Savana hanya tersenyum kecil. Bingung mau berekspresi seperti apa untuk menanggapinya. "Ah enggak kok. Geo tadi masuk," ujar Reno menjawab. "Cuma tadi dia emang gak keluar kelas gitu," tambahnya. Savana nampak manggut-manggut paham. "Emangnya dia kenapa gak keluar kelas ya Ren? Geo gak ada uang saku ya? Atau kenapa?" tanya Savana lagi. Reno terkekeh kecil, tangan cowok itu terangkat untuk mengelus rambut Savana lembut. "Bawa kok Sava, cuma tadi Geo nya lagi main game. Jadi dia males ke kantin," ujarnya. "Udah ah, kenapa Sava nanyain Geo terus sih?" ujar Reno lagi, cowok itu berusaha untuk menghapus topik Geo dari pembicaraan Savana karena jujur saja cowok itu sangat malas membahas perihal Geo pada Savana. Ya, kalo Geo nya juga sama Sava mah, Reno santai aja. Tapi ini berbeda. Geo gak menyukai Savana. Dan lagi, Reno juga takut Savana akan merasakan sakit hati karena itu. Reno tak mungkin membiarkan sahabat kesayangannya ini sakit hati karena sahabatnya yang lain. Reno bahkan sampai saat ini masih memikirkan bagaimana cara agar Reno bisa melindungi Savana tanpa membuat persahabatannya dengan Geo juga hancur. Reno berada di posisi yang serba salah sekarang. Masalahnya, cowok itu berada di tengah-tengah diantara Savana dan Geo. Dia merupakan sahabat dari kedua orang itu. Namun jika boleh jujur, jika harus memilih untuk berada di pihak siapa dan membela siapa, Reno jelas akan berada di pihak Savana dan membela Savana. Selain karena gadis itu lebih dulu menjadi sahabat Reno daripada Geo, alasannya lainnya adalah karena di posisi ini memang Savana tidak salah sama sekali. Gadis itu hanya menyukai Reno. "Kan Sava pengen tau soal Geo, Ren," ujar Savana menjawab dengan tenang. Ah, andai saja Savana tahu bagaimana Geo. Ingin sekali Reno melarang gadis itu menyukai Geo. Namun, Reno sadar, dia tidak se-berhak itu untuk melarang Savana. Tugas dia hanya menjaga Savana. Bukan melarang dan mengatur kehidupan gadis itu. Reno mungkin akan sedikit meluruskan Savana ketika gadis itu memilih jalan yang salah. Namun ini soal hati, mungkinkah Reno mengaturnya? Sepertinya tidak. Cinta tak pernah salah dan cinta tak pernah bisa memilih dimana hatinya akan berlabuh. Jadi bukan salah Savana jika gadis itu menyukai Geo. Itu semua jelas di luar kendali Savana. Jadi Reno sendiripun tak bisa berbuat apa-apa. "Iya-iya, nanti Reno pasti kasih tau soal Geo kok," jawab Reno akhirnya. "Tapi nanti, setelah kamu bener-bener udah tahu gimana Geo yang sebenernya. Nanti Reno bakalan bantu kamu buat jelasin lebih lanjut," tambah Reno lagi. Savana mengernyit bingung dengan maksud dari perkataan Reno. "Maksudnya apa ya Ren? Geo yang sebenarnya? Emangnya Geo kenapa?" tanya Savana penasaran. Reno menjadi bingung ingin menjawab apa. Cowok itu nampak sekali sangat gelagapan. "Ah enggak, kapan-kapan aja bakalan Reno jelasin," ucap Reno. "Udah, sekarang Sava makan dulu. Setelah itu Sava tidur siang gih. Udah ngantuk banget kelihatannya," lanjutnya mengalihkan pembicaraan. Sebenarnya, apa yang dikatakan Reno tak sepenuhnya untuk mengalihkan pembicaraan karena pada kenyataannya, Reno dapat melihat Savana benar-benar sedang mengantuk. gadis itu beberapa kali terlihat menguap. Savana juga terlihat sedang sangat lelah. Dari wajahnya sudah terlihat dengan jelas. Dan satu lagi, Savana juga kelaparan karena sedari tadi Reno dapat mendengar suara perut Savana yang keroncongan. Jadi, tak ada yang salah dengan apa yang Reno katakan. Itu semua benar-benar fakta. "He he," Savana cengengesan mendengar apa yang Reno katakan. "Reno emang yang paling ngerti sama Sava nih. Sava jadi makin makin banget sama Reno," lanjut gadis itu diakhiri dengan kekehan singkat. Reno tersenyum kecil mendengar perkataan Savana. Cowok itu lalu mengacak rambutnya Savana gemas. "Makin makin apa nih?" tanya Reno menggoda. Savana menatap Reno dengan senyum cerahnya. "Makin makin sayang sama Reno lah! Jelas!" ujar gadis itu dengan senyum yang terukir sangat lebar. "Ha ha ha," Reno tertawa mendengar jawaban dari Savana, apalagi saat mengatakan itu, Savana terlihat sangat menggemaskan di mata Reno. Reno jadi gemas sendiri dengan gadis itu. Kenapa Savana tak pernah sekalipun terlihat tak menggemaskan? Kenapa gadis itu selalu bertingkah sangat imut seperti itu? Reno kan jadi gemas tak tertolong. "Usah ah, mendingan sekarang Sava makan dulu. Ayo ke meja makan. Di sana Mama Sania udah siapin banyak banget makanan buat Sava sama Reno makan," ajak Reno kemudian. "Mama Sania masak makanan kesukaan Savana juga loh. Spesial buat Savana nih," ujarnya lagi. Masih tetap sama, Savana senantiasa menampilkan raut wajah bahagianya. Gadis itu masih tersenyum cerah. "Wah? Iya?" ujar Savana terlihat sangat senang. "Sava mau dong," lanjut gadis itu sembari menggoyangkan lengan Reno dengan semangat. Sakin semangatnya Savana menggoyangkan lengan Reno, bahkan cowok itu sampai-sampi terhuyung ke kanan dan ke kiri gara-gara goyangan lengan yang diakibatkan Savana. Wah, tenaga gadis mungil ini ternyata tidak main-main. "Iya-iya Sava, ayo," ujar Reno sembari menyentuh tangan Savana yang menggoyangkan lengannya. Cowok itu melakukannya untuk meminimalisir agar Savana berhenti menggoyangkan lengannya. Setelah mendengar apa yang Reno katakan itu, Savana benar-benar berhenti menggoyangkan lengan Reno. Gadis itu bahkan langsung berdiri dari duduknya dengan sangat semangat. "Ayo Reno, cepetan berdiri," ujar Savana yang kali ini ganti menarik tangan Reno yang senang duduk itu untuk berdiri. Gadis itu nampaknya sangat tidak sabar. Ya, meskipun Reno nampaknya sangat teraniaya, namun cowok itu justru bahagia karena Savana masih bersikap dan bertingkah ceria seperti ini. Sangat membahagiakan. "Iya-iya ayo," Reno berdiri dari duduknya. Kali ini bukan lagi Savana yang menarik tangan Reno karena Reno berbalik menggenggam tangan Savana erat. "Udah, Savana yang tenang dong. Semangat banget kayanya tadi sampe-sampe tangan Reno ditarik-tarik terus," ujar Reno pada Savana. Savana nampak cengengesan menanggapinya. "He he he, maaf Reno. Savana kan terlalu semangat," ujar gadis itu. "Habisnya, Savana kan udah lama gak makan makanan kesukaan Savana," lanjutnya. Reno mengangguk-anggukan kepalanya membenarkan. "Makanya Sava, kalo pengen makan apa-apa itu bilang sama Mama Sania. Mama Sania pasti mau kok masakin Sava. Mama Sania kan sayang sama Sava" ujar Reno. "Iya Reno. Sava tau Mama Sania sayang sama Sava. Tapi Sava gak mau ngerepotin Mama Sania terus-terusan. Sava udah banyak banget di tolong sama keluarga Reno. Reno juga udah sering banget bantuin Sava, jagain Sava. Jadi, Sava gak enak sama Reno dan Mama Sania," ujar Savana memaparkan segala keresahan Savana. Reno nampaknya tak suka dengan apa yang Savana katakan itu. Reno tak suka Savana merasa sungkan dengannya atau dengan keluarganya. Reno juga yakin, pasti Mama dan Papanya juga akan merasakan hal yang sama dengan Reno jika mereka mengetahui hal ini. "Apa sih Sava. Kenapa ngerasa gak enakan? Kita ini keluarga Sava. Sava udah jadi keluarga Reno. Jadi gak boleh ah ngerasa kaya gitu. Kalo Mama Sania tau, pasti dia ngerasa sedih banget," ujar Reno membuat Savana terdiam menunduk. "Maaf Reno, Savana cuma takut ngerepotin keluarga Reno aja," ujar gadis itu merasa bersalah. "Enggak Sava, Sava gak pernah ngerepotin Reno dan keluarga Reno. Kita malah seneng bisa bantu Sava," ujar Reno jujur. Reno, Mama dan Papanya memang senang bisa membantu Savana. Apalagi gadis itu masih sangat polos dan lugu. Hal itu yang membuat mereka selalu dibuat gemas dengan segala tingkah Savana. Mama dan Papa Reno sudah menganggap Savana seperti keluarga mereka sendiri karena Savana sesering itu bersama mereka. Bahkan untuk Savana sendiri, Reno dan keluarganya juga sudah seperti keluarganya sendiri. Karena jujur saja, Savana bahkan lebih sering bersama dengan Reno, Mama dan Papanya daripada dengan kedua orang tuanya sendiri. Bahkan disaat liburan pun, Savana akan pergi bersama dengan Reno dan keluarganya. Savana tak pernah sekalipun berlibur bersama dengan orang tuanya sendiri. Jangankan orang tua lengkap. Dengan salah satunya entah Mama ataupun Papanya pun Savana tak pernah. Kedua orang tua Savana sibuk dengan pekerjaan mereka. Mereka tak pernah ada waktu untuk Savana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN