"Bagaimana keputusan lo? Lo mau kan nikah sama gue?" Tanya Alden. Naima terdiam sebentar, ia memfokuskan matanya pada kedua tangannya yang saling bertaut. Ia masih menimbang-nimbang semuanya. Ia memang diuntungkan oleh pernikahan mereka. Tapi, ia tidak bisa menerimanya.
"Kita nggak bisa nikah." Pada akhirnya Naima menjawab, ia berkata pada Alden dengan nada datarnya.
"Lo bercanda?" Alden tersenyum tipis, menyambut perkataan Naima barusan.
"Nggak. Ada dinding pemisah dalam hubungan kita. Keyakinan kita beda, nggak mungkin kita nikah," ucap Naima menjelaskan.
"Nggak usaha bercanda deh, Na. Lo tahu sendiri, kalau gue nggak suka ditolak. Soal keyakinan, lo nggak perlu khawatir, kita sekeyakinan. Orang tua angkat gue muslim, dan gue pun ngikut ajaran orang tua angkat gue. Jangan karena gue sama Aderine saudara, lo mikir begitu." Alden menjelaskan dengan tenang. Wanita itu hanya terdiam, sedikit kaget ketika mengetahui fakta itu. Bertahun-tahun kenal Alden Brawijaya, ia tidak pernah melihat laki-laki itu melaksanakan ibadahnya. Buru-buru Naima merubah ekspresinya menjadi tenang.
"Lo nggak perlu bohong, buat gue nerima lo. Lo bakal buat Aderine kecewa," katanya.
Alden tampak menghela napasnya, ia menatap Naima dengan pandangan memohonnya. "Jujur gue malu, tapi gue emang harus jujur. Gue bukan hamba yang taat pada ajaran agama. Gue sering melalaikan perintah-Nya, gue lebih suka bermain daripada absen muka ke Tuhan. Tapi percaya Na, gue sekeyakinan sama lo." Alden menghela napasnya.
"Gue tahu, lo udah berubah jadi lebih baik semenjak kejadian beberapa tahun yang lalu, gue tahu kalau lo bisa nuntun gue ke jalan yang lebih baik." Alden meraih tangan Naima, menggenggam tangan itu dengan disertai elusan lembut di punggung tangan Naima.
"Den, gue tahu gue nggak suci lagi. Gue cewek kotor. Tapi gue nggak mau munafik, gue mau punya suami yang benar-benar baik, baik secara perilaku dan juga keimanannya. Gue sadar, ganteng aja nggak cukup buat patokan. Pernikahan itu hal yang sakral. Gue mau nikah sekali seumur hidup. Sementara gue tahu, hubungan kita nggak terlalu baik. Di masa lalu, lo udah buat hati gue hancur berkeping-keping. Jujur aja, gue dendam dengan kata-kata lo tempo lalu," ujar Naima seraya menarik tangannya. Alden seperti merasa kehilangan.
"Tapi anak lo? Lo nggak mungkin egois, anak lo butuh pertolongan. Bukankah dia harus segera di operasi? Pendarahan di kepala itu fatal Na, lo tahu itu. Ehm ... sorry ya, bukan maksud menghina. Tapi perekonomian lo nggak begitu baik. Lo juga nggak bisa minta bantuan ke keluarga lo. Gue tahu, lo ibu yang baik, yang nggak mungkin biarin anaknya mati karena nggak dapat penanganan. So, lo masih ragu nerima tawaran gue?" Alden berkata cukup tenang. Namun, tidak ada yang tahu kalau hati Alden rasanya hancur berantakan.
Berat bagi Alden mengucapkan itu, namun tidak ada cara lain. Hanya ini harapannya.
"Na, ayolah. Lo dapat banyak keuntungan dari tawaran gue." Naima menghela napasnya. Anaknya lebih penting dari apa pun. Jika saja Tuhan mau mengabulkan, Naima lebih senang dirinya yang sakit daripada putranya yang masih berusia belia.
Tapi, sekali lagi Naima harus berpikir panjang kali lebar. Ia belum memikirkan bagaimana reaksi orang tua Alden jika tahu anaknya lebih memilih wanita beranak satu tanpa status pernikahan. Bagaimana pandangan orang tentang dirinya? Naima tidak siap untuk kembali dihina, terlebih lagi putranya sendiri yang dihina.
TBC
Saya lebih suka per-partnya pendek-pendek hehe