Bab 2

640 Kata
Alden mengajak Naima menemui orang tuanya, orang tua angkat lebih tepatnya. Laki-laki itu tampak mengamit mesra lengan Naima. Membuat mereka seolah pasangan yang saling mencintai. Ditambah lagi, senyum Alden yang tidak seperti biasanya. Diam-diam Naima mendengkus, Alden benar-benar pandai memainkan perannya. Orang yang tidak tahu pasti menganggap laki-laki itu memang mencintainya. Namun, nyatanya sama sekali tidak benar. Alden hanya satu di antara sekian manusia yang pandai berakting. Naima menghela napasnya, dadanya terasa begitu sesak, kemudian wanita itu menghentikan langkahnya, membuat langkah Alden spontan ikut terhenti. "Kenapa lagi sih?" Tanya laki-laki itu ketus. "Gue... gue mau batalin perjanjian kita," cicit Naima. "What? Apa lo bilang? Batal?! Lo gila ya Na? Kita udah di depan rumah orang tua gue, dan lo! Seenaknya aja lo batalin. Nggak, gue nggak setuju," ucap Alden seraya menghela napasnya kasar. Alden sudah cukup frustasi dengan masalah yang menimpanya, dan seenaknya wanita itu mengatakan batal. "Den, lo bisa cari wanita lain, jangan gue. Gue nggak mau sampai dihina lagi, lo tahu kan? Gue punya anak, sementara status gue belum nikah. Apa kata orang tua lo? Gue udah kenyang sama hinaan semua orang, gue udah kenyang dikatain nggak tahu diri." Alden membatu, tatapannya meredup. Laki-laki itu lagi-lagi memberikan tatapan penuh sesal pada Naima. Bahunya turun, laki-laki itu jelas terlihat seperti tengah memikul beban yang besar. Naima menyadarinya, tapi ia enggan berkomentar, apalagi jika itu mengenai Alden. Semua hal tentang Alden membuat mood-nya memburuk, jika saja pada penawaran awal laki-laki itu akan membantu keuangannya, Naima tidak mungkin mau menjadi calon istri pura-pura lelaki itu. "Dengar Na, kalau lo bener-bener sayang sama anak lo, lo harusnya rela ngelakuin apa pun, termasuk dengar semua komentar buruk orang lain tentang lo. Anak lo nyaris sekarat, bukannya sekarang anak lo itu harta berharga lo?" Tanya Alden, entah telinga Naima saja atau memang suara Alden terdengar serak? Laki-laki itu seperti baru menangis atau menahan tangis saja. Untuk sesaat Naima terdiam, pikirannya langsung berkelana pada putra semata wayangnya yang tengah terbaring lemah di ranjang pesakitan. Di mana, semenjak kecelakaannya satu hari yang lalu, anaknya sama sekali belum membuka mata, dan ketika hasil rontgen keluar ternyata ada pendarahan kecil di otak sang putra. Yang membuat Naima hancur, karena dirinya yang merasa tak becus menyetir motor sehingga kecelakaan itu terjadi. Naima tidak mengalami luka yang berarti, ia hanya mendapat goresan memanjang di lengan kirinya, luka itu pun tidak terlalu dalam. Berbeda dengan putranya yang malah mengalami koma. "Pendarahan kalau nggak segera ditangani bisa bahaya Na. Lagipula, lo udah menyia-nyiakan banyak waktu, kalau lo setuju, hari ini gue transfer uangnya ke rumah sakit, dan hari ini juga anak lo dioperasi," kata Alden mantap. Matanya menatap Naima dengan serius. Raut jenakanya sama sekali tidak terlihat. "Tapi, gue bel---" "Gue bakal ngakuin kalau anak lo itu anak gue. Darah daging gue. Gue yang udah ngambil kehormatan lo dulu. Jadi, semua hinaan sekarang bukan lagi tertuju ke lo. Tapi ke gue," ucap Alden memotong ucapan Naima. Laki-laki itu tampak bersungguh-sungguh dengan ucapannya.  Naima tersenyum hambar, akting Alden begitu baik, sampai-sampai ia menganggap ucapan Alden itu serius. Laki-laki itulah yang dulu merebut kehormatannya. Sayangnya, itu tidak benar.  Mana mungkin laki-laki b******k itu Alden? "Baiklah, gue setuju. Tapi lo harus janji, tolong biaya operasi anak gue, dan tolong juga buat gue berhasil nemuin laki-laki b******k itu." Naima berkata pelan, bukannya merasa lega, ia malah merasa semakin pusing. Pusing dengan segala beban yang harus ia tanggung. Jika boleh jujur, Naima sangat lelah. Ia ingin sekali menyerah, namun mengingat anaknya, menyerah bukan lagi menjadi pilihan Naima. Seharusnya tidak ada kata menyerah di hidupnya. Bagaimana nasib anaknya jika ia memilih berhenti---mati? Anaknya tidak memiliki siapa pun kecuali dirinya di dunia ini. "Dan ingat Na, jangan pakai lo-gue di depan orang tua gue, kalau orang tua gue nanya, lo ngangguk aja. Nanti, biar gue yang jawab." Naima mengangguk mendengar perintah Alden. Ia hanya perlu berpura-pura, tidak akan sulit. Ini demi anaknya. TBC Lanjut? Follow IG saya ya @delasinta_ dan akun w*****d saya juga. Jangan lupa! Terima kasih :)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN