Bab 3

1155 Kata
Ketika menginjakkan kaki di dalam rumah orang tua Alden, jantung Naima rasanya berdebar tak karuan. Naima bisa merasakan keringat dingin keluar dari pori-porinya, salah satu hal yang Naima takuti adalah komentar orang lain mengenai dirinya. Naima memang memiliki trauma dengan namanya komentar orang lain padanya, terlebih lagi itu komentar mengenai kehidupannya yang telah hancur. Melangkah menuju ruang keluarga, kehadiran Naima dan Alden langsung disambut oleh keluarga Alden. Mama Alden tampak tersenyum menatap Naima, sementara Naima sendiri hanya menunduk. "Akhirnya kalian datang juga. Udah ditunggu dari tadi, loh." Mama Alden berkata dengan lembut. "Jalannya macet Ma, makanya lama." Alden tersenyum. "Papa kira kamu bohong soal pacar. Ternyata beneran. Kamu pintar juga Den milih cewek, cantik gini." Papanya menyahut, ada nada bangga dalam suaranya. Alden tertawa, ia tidak berniat membalas ucapan Papanya itu dengan kata-kata. "Eh ... ayo duduk, kalian pasti capek kan?" Mama Alden langsung menggandeng Naima menuju sofa. Membuat tautan lengan Naima di lengan Alden terlepas begitu saja. Dengan canggunh Naima tersenyum. Alden dan Papanya ikut duduk, Alden tampak mendengkus. Mama dan Papanya mungkin terlihat ramah, tapi Alden tahu betul bahwa dua orang yang sudah berjasa membesarkannya itu akan melakukan introgasi mereka terhadap Naima. "Alden bilang kalau kalian dulu satu fakultas. Itu benar ya?" Papa Alden bertanya. Suaranya lembut namun yang terdengar di telinga Naima seperti sebuah pertanyaan yang diberikan polisi saat mengintrogasi pelaku kejahatan. Tersenyum dan berdeham lirih akhirnya Naima menjawab, "Benar Om." "Sejak kapan kalian pacaran?" Sekarang giliran Mama Alden yang bertanya. Naima diam, ini bukan teritorialnya untuk menjawab pertanyaan itu. "Sudah mau tiga tahun Ma," jawab Alden dengan serius, berusaha meyakinkan orang tuanya. Naima meringis di tempatnya, laki-laki kurang ajar ini kalau berbohong tidak kira-kira. "Hah? Udah mau tiga tahun dan kamu baru mengajaknya ke sini? Benar-benar kurang ajar ya kamu Den. Tahu gitu kami nggak bakal jodohin kamu sama Savia." Mamanya berkata kesal. Alden mencebikkan bibirnya. "Alden udah berkali-kali bilang kalau Alden udah ada pasangan. Mama sama Papa aja yang nggak percaya," kata Alden. "Ya gimana Papa sama Mama percaya kalau sekali pun kami nggak pernah lihat kamu gandeng cewek. Papa loh sempat ngira kamu suka sesama jenis, apalagi Alisia bilangnya begitu." Alden menghela napasnya, rupanya yang selama ini mengompori orang tua angkatnya tersebut untuk menjodohkan dirinya dengan si sepupu itu adalah adiknya sendiri. Alisia itu anak kandung orang tua angkat Alden.  "Halah, dia cuma mengada-ada. Kan dia fujoshi, apa-apa dianggap laki demen laki. Ada laki ngerangkul laki dibilang gay. Ada laki natap laki dibilang gay. Mentang-mentang kakaknya nggak pernah kelihatan sama cewek juga dibilang gay." Alden mencibir. Matanya melirik ke arah tangga lalu tatapannya beralih ke seluruh penjuru ruang, tumben sekali adik manisnya itu tidak terlihat. "Ngomong-ngomong Lisa ke mana Ma, Pa? Tumben nggak ada batang hidungnya." "Oh adikmu ke gramed katanya, mau cari buku. Bentar lagi kan ada UN dia mau cari buku-buku referensi gitu," Mamanya menjawab. Alden hanya mengangguk beberapa kali, matanya terarah pada Naima yang sejak tadi hanya diam dengan bola matanya yang bergerak gelisah. Alden paham kegelisan Naima, wanita itu mungkin saja tengah memikirkan keadaan anaknya.  "Eh iya, sampai lupa. Naima, nama kamu Naima kan?" Buru-buru wanita satu anak itu mengulas seutas senyum kala Mama Alden bertanya, ia lantas menganggukkan kepalanya dengan kelu.  "Kata Alden, kamu udah punya anak." Ini yang Naima takutkan, orang-orang akan mengecamnya dengan berbagai kata hinaan. Tak perlu bertanya darimana Naima tahu bahwa wanita paruh baya yang duduk bersebelahan dengan dirinya tersebut akan memberinya cercaan tajam. Sudah jelas dari kata pertama dari pertanyaan wanita itu yang terdengar melengking di telinga Naima. "I-iya Tan. Semua itu benar." Naima masih mempertahankan senyumnya, meski rasanya sangat sulit. Di luar dugaan, Mama Alden tersenyum lantas memberinya pelukan. "Maafkan Alden ya, Nak. Selama ini Mama nggak bisa mendidik Alden dengan baik. Sampai-sampai Alden merusak masa depan kamu. Kami tahu, berat pasti buat kamu melewati tahun-tahun ini. Apalagi Alden hanya memberi kamu status sebagai kekasihnya." Naima tak tahu harus berbicara apa, lidahnya kelu. Ia tidak pernah tahu kapan Alden memberitahukan hal seperti itu pada orang tuanya. Alden seperti sudah menyiapkan semuanya, laki-laki itu seperti sutradara di mana dirinya yang menjadi lakon dari skenario yang ada. Naima mulai bertanya-tanya, sebenarnya apa yang Alden pikirkan? Apa yang ada di otak laki-laki itu? Setelah dulu memberinya hinaan yang teramat menyakitkan hingga kini tiba-tiba lelaki itu menawarinya sebagai istri pura-pura dengan imbalan biaya rumah sakit anaknya akan dia tanggung. Jika dengan semudah membalik telapak tangan untuk mendapat kepercayaan orang tuanya, karena sepertinya tanpa memberi bukti pun orang tua Alden sudah percaya bahwa putra mereka telah merusak anak gadis orang. Ya, meski bagi Naima semua itu hanya sandiwara Alden. "Kemarin Alden yang cerita. Dia bilang bahwa selama ini ia telah merusak kamu. Awalnya kami nggak percaya, dan akhirnya kami percaya setelah kamu ada di depan kami. Kamu tenang saja Nai, kami sudah memberi anak nakal itu pelajaran. Si kurang ajar ini pasti mendapat pelajaran yang setimpal dari kami." Pelukan Mama Alden semakin mengerat dengan isak tangis yang mulai mengalun merdu, Papa Alden menundukkan kepalanya penuh maaf.  Bagaimana bisa laki-laki itu mengatakan tentang anak serta dirinya di saat Alden sendiri baru menemuinya tadi? Bagaimana kalau tadi itu kalau ia menolak tawaran Alden? Lalu, darimana pula Alden tahu keadaan hidupnya yang kacau? Semua terasa aneh.  Menghela napas, Naima pun menaruh atensinya pada Alden, kepalanya menggeleng beberapa kali, memandang laki-laki yang entah kenapa senang sekali mengaku sebagai orang yang telah melecehkannya dulu. Naima tidak percaya bahwa kebohongan sampai membuat sang ibu menitihkan air matanya. Kebohongan yang luar biasa menakjubkan, hebat sekali akting Alden Brawijaya itu. Sampai-sampai Naima merasa bahwa Alden memang lelaki b******n yang membuat ia kehilangan mahkota berharganya. "Lalu, bagaimana keadaan cucu kami? Alden tidak berkata apa-apa selain memberitahu kami kalau kalian sudah memiliki putra." Papa bersuara, memecah fokus Naima yang tadinya tertuju pada Alden. "Baik Om," Naima memilih berbohong menjawab pertanyaan dari calon ayah mertuanya. "Syukur. Kapan-kapan ajak anak kamu ketemu kami, ya? Kamu juga nenek kakeknya, meski kami bukan orang tua kandung Alden." Naima tersenyum disertai anggukan menanggapi ucapan Papa Alden tersebut. "Kalau begitu, kita harus menentukkan tanggal pernikahan kalian. Mungkin dimulai dari lamaran. Nai, kamu sudah menghubungi orang tua kamu?" Tanya Mama Alden dengan suara paraunya yang masih diselingi isakan. Naima menggeleng, tidak mungkin ia memberitahu orang tuanya setelah apa yang ia terima saat keluarganya tahu perihal kehamilannya dulu. Bahkan, ia dilamar saja baru beberapa jam yang lalu. "Naima ada masalah dengan keluarganya. Jadi ... tentu saja sulit menghubungi orang tuanya. Mama tahu kan, masalah yang Alden timbulkan dampaknya ... besar?" Mulut Mamanya melongo, namun tak ayal wanita paruh baya itu menganggukkan kepalanya mengerti. "Berarti kamu harus memperbaiki semuanya Den. Apa yang kamu rusak harus kamu perbaiki. Kamu sudah dewasa, jangan lari dari tanggung jawabmu. Kalau kamu melarikan diri, sama halnya kamu mempermalukan diri kamu sendiri. Papa dan Mama tidak bisa menekan kamu dan memarahi kamu karena apa yang telah kamu lakukan, Papa dan Mama berharap kamu bisa mempertanggung jawabkan semuanya," kata Papa. Yang diangguki Mama dan Alden. Naima hanya terpaku di tempatnya. Ia merasa hidupnya akan lebih rumit lagi. Alden, setelah dulu medeklarasikan diri sebagai musuhnya, lalu sekarang datang dengan membawa sejuta misteri yang membuatnya tak berhenti bertanya. Dasar musuh menyebalkan! TBC Sorry for typo
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN