Bab 5

542 Kata
Sekembalinya Naima dan Alden dari mushola rumah sakit ternyata bertepatan dengan selesainya operasi Bintang Antares. Naima segera mendekati para dokter yang baru keluar dari ruangan tersebut. Alden tidak main-main dengan ucapannya, laki-laki itu benar-benar mau membiayai operasi anak Naima, bahkan Alden mau mendatangkan dokter-dokter hebat dari luar negeri yang sudah tidak diragukan lagi bagaimana kinerjanya. Tak tanggung-tanggung ada tiga dokter spesialis yang Alden datangkan. Sehingga jika digabungkan dengan dokter yang dari dalam negeri sendiri, ada sekitar lima dokter yang menangani operasi Bintang Antares. Naima sebenarnya tak habis pikir, bagaimana bisa lelaki itu sampai berkorban banyak hanya demi orang yang pernah dihinanya di masa lalu? Apa karena rasa kasihannya dulu? Entahlah, Naima tidak tahu apa alasan Alden. Ya terpenting anaknya bisa diselamatkan, meskipun itu artinya ia harus mengorbankan harga dirinya. Naima rela menjual harga dirinya untuk dibeli Alden, dengan jaminan bahwa anaknya selamat dan ia mau menjadi istri pura-pura Alden Brawijaya. "Bagaimana keadaan putra saya, Dok?" Tanya Naima parau. Dokter itu tampak tersenyum semringah, meski raut kelelahan tak dapat terelakkan lagi. "Puji Tuhan kondisinya sudah stabil. Operasinya berjalan lancar. Kami sama sekali tidak mendapat kesusahan saat melakukan operasi. Sepertinya tangan Tuhan ikut membantu kami. Mungkin ini berkat dari do'a seorang ibum. Anda ibu yang begitu hebat," kata dokter paru baya itu dengan senyum penuh wibawanya. Naima menangis haru. Alden yang berada di samping Naima dengan cekatan mendekap wanita itu, hatinya merasa begitu senang dengan fakta yang baru ia ketahui. Panjatan do'a penuh syukur ia semaikan dalam hati. "Terima kasih atas semuanya Dok, terima kasih atas kerja keras Anda sekalian," ucap Naima seraya menatap satu persatu dokter yang berada di hadapannya. Melihat ada beberapa dokter asing yang sepertinya tak paham dengan ucapannya. Naima kembali berbicara. "Doctors thank you very much for your hard work and assiatance. I really appreciate it. Once again, thank you so much," katanya dengan lancar. Dokter-dokter berwajah itu mengangguk paham, tak lupa menyunggingkan senyum mereka. "It's ok, you're welcome. Mrs you are greatest Mom in the world and so you are Sir, the greatest Dad in the world," salah satu dokter menyahut, memberi Naima dan Alden pujian yang ternyata sukses membuat pipi keduanya bersemu merah. "Thank you Docter, I'm so glad to hear that." Alden yang lebih dulu menyahut. "Ah Dok, kapan saya bisa melihat anak saya?" Tanya Naima. "Nanti setelah kami memindahkannya ke ruang ICU. Setelah putra Anda dipindahkan Anda bisa melihatnya, bahkan menungguinya, tapi saya sarankan untuk tidak terlalu beramai-ramai, takutnya malah menganggu istirahat putra Anda. Sekitar dua sampai tiga jam nanti dia akan sadar," kata dokter itu. Naima mengangguk masih dengan tangis harunya. Entah untuk yang ke berapa kalinya Naima mengucapkan terima kasih. Dokter-dokter itu membalas terima kasih Naima dengan senyum lebarnya. Lalu, setelah itu para dokter tersebut pun pamit pergi, meninggalkan Naima dan Alden dalam suasana canggung. "Nai, benar kan apa kata gue? Do'a yang sungguh-sungguh, pasti bakal dikabulkan sama Tuhan," kata Alden menasihati. Naima yang belum sadar bahwa dirinya berada di pelukan laki-laki itu, pun mengangguk membenarkan. "Iya. Terima kasih," balas Naima tulus, Alden tersenyum, lantas melepas pelukannya sebelum Naima memarahinya. "Tentu saja, sudah menjadi kewajibanku," kata laki-laki itu terdengar aneh di telinga Naima, namun Naima tak memikirkannya. TBC komen yang banyak, kalau komennya banyak, InsyaAllah bakal rajin update. terima kasih banyak. Maaf untuk typonya.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN