CHAPTER 02

1843 Kata
"Iya.. IYA!" "Stella! Sebenarnya kamu malas mendengar apa yang Saya ucapin bukan??" "Plis deh Kak, gimana saya gak males orang Kakaknya aja ngomongnya selalu diulang-ulang terus" "Kamu berani sama saya!?" "Saya gak bilang berani kok, Kak." "Nah tadi kamu bilang" "Itukan perumpamaan doang..." "Sama saja, kamu tetap aja bilang berani!" "Terserah Kakak deh, jadi sekarang saya boleh keluar dari sini?" "Tidak, kamu harus dihukum terlebih dahulu" "Loh kok gitu?" "Yaiyalah! kamu kan sudah telat. Lebih-lebih lagi atribut kamu aja gak pake!" "Kak, kok gak adil sih?" "Maksud kamu?" "Kakak juga gak pake hoodie UKM, Kakak juga kalo berangkat 30 menit lebih telat dari yang lain. Kok Kakak gak dihukum?" "Ya suka-suka saya, lah!" "Ya gak bisa gitu dong Kak, itu gak adil!" "Loh saya kan senior kamu, jadi mau apa aja juga bebas." "Emang junior juga gak boleh beb-" "Maaf Kak, gimana kalau saya aja yang hukum dia?" Stella menatap datar Vano yang sedang berbicara hukuman apa yang pantas untuk stella lakukan. Plis deh, tadi lo bilang gak bakal ada acara hukuman buat gue anj, batin Stella. "Ikut gue" Vano menarik paksa Stella untuk keluar dari ruangan UKM seni dan mengabaikan sumpah serapah dari sang empu. "Ngeselin banget lo, tadi bilangnya bakal belain gue!" Stella mengerucutkan bibirnya "Ini amanah, jadi harus gue turutin." jawab Vano enteng. "Terus hukuman gue apa?" tanya gue. "Sebelum itu, gue mau cek dulu kelengkapan atribut yang lo pake" "Kok gitu?!" "Cuman gak pake seragam ukm doang sih, tapi baju lo buat ke kampus bener-bener kurang bahan begini?" Stella memutar bola matanya "Ini namanya fashion, bodoh." umpatnya. "Sebenernya lo niat kuliah atau nyabe sih?" "Perhitungan banget sih lo, lagian gue kan calon istri lo minggu depan" ucap Stella seraya mengibas ngibaskan rambutnya. Vano menghela nafas kasar dan sedetik kemudian ia melepaskan hoodie ukm miliknya, menyisakan kaos putih oblong di badannya itu. Memasangkan hoodie miliknya pada Stella secara paksa. "Lain kali, pake atribut buat ukm. Lo gak mau dicap cewek gak baik kan? Cukup cewek bar-bar aja" Stella memandang Vano gugup. Ia menahan nafasnya saat laki-laki itu makin merapatkan badannya. Dan ia juga dapat mendengar dengan jelas deru nafas Vano dari dekat. Setelah memasangkan hoodie tadi pada Stella, Vano menatap wajah Stella yang sedang menatapnya juga. "Mendingan lo masuk lagi sana. Gue yang bakal gantiin hukuman lo" Stella menatap Vano tidak nyaman "kok jadi lo yang dihukum? Gak, mending gue aja" tolak Stella. Ia merasa tidak enak dengan Vano. Sedangkan Vano hanya tersenyum "Gausah, lagian lo sejam lagi ada kelas, kan? Lo gak lupa sekarang lagi UTS?" Tanya Vano. Stella menepuk dahinya "Aduh gue lupa! Jam berapa sekarang? Sialan, gue belum belajar!" Dengan seribu kekuatan, ia berlari meninggalkan Vano tapi sedetik kemudian dia berhenti dan menatap Vano "MAKASIH" teriaknya dan langsung kembali berlari. Vano yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya. Dan saat ingin berbalik badan, ia menemukan tote bag Stella yang mungkin tertinggal. "Dasar ceroboh" . . Stella menangkupkan wajahnya dan menatap layar handphonenya dengan horror. "Mending gue dihukum berduaan sama Vano daripada harus main hp kek gini gak ada faedahnya mana Bu Yuni dari tadi gue tungguin malah gak masuk lagi," omel Stella sedangkan teman yang duduk disampingnya, yaitu Lucas hanya memandang datar Stella. "Lo kesini gak bawa tas?" Tanya Lucas bingung tapi Stella lebih bingung "ADUH! TOTE BAG GUE KETINGGALAN DI SEKRET!" rutuk Stella sedangkan Lucas cuma gelengin kepala. "Kebiasaan lo tuh harus dirubah" "Hehe, sori" cengir Stella. "Btw, kok lo pake hoodie ukm kegedean gini?" Tanya Sandy ikut nimbrung sedangkan Stella cuma masang muka bloon. "Hehe, iya ini bukan hoodie gue" "Terus punya siapa?" "Eeh ada tulisannya nih" fyi, setiap hoodie ukm masing-masing mempunyai bordiran nama si pemilik. Itu mencegah terjadinya pertengkaran akibat tertukar. "Coba baca deh" "Jevano Anggardian Tama?" "Jevano?" "Hoodie ini punya Vano? Vano yang Wapresma?" "Eeh anu.. sebenernya.." "..permisi, Stella nya ada?" Stella membulatkan matanya saat Vano mendekat kearahnya. Suasana di kelas yang ribut berubah menjadi keadaan hening. "Ini tas lo, lain kali gausah terburu buru. Kan jadi ketinggalan" Stella hanya mampu tersenyum kaku dan tangannya terulur untuk mengambil tote bag miliknya ditangan Vano. "Gue duluan," Stella hanya menampakkan wajah bengongnya saat Vano mengacak surainya sebentar sebelum pergi dari kelas. Dan, satu kelas yang dalam keadaan hening itu menatap Stella dengan bingung. Dan keheningan tersebut sirna ketika seseorang menyeletuk, "Lo pacaran sama Vano?" Aduh.. jawab apa nih. "hehehe menurut lo aja gimana?" . . "Oi Ryan, sakit apa lo?" "Gue? Gue gak sakit tuh" "Lah napa gak ke kampus?" "Males gue. Yaudah gue pura-pura sakit aja." "Babi! Gue hampir aja dihukum kalo gak ada Vano, lo tuh gak bertanggung jawab banget dah" "Ngapain gue tanggung jawab cuk, gue kan gak hamilin elu." "b*****t!!! Lo sebenernya ngapain sih pake acara gak ke kampus segala?" "Hehe sorry, Nyokap lo nyuruh gue bantuin packing-packing buat besok. Kan besok lu udah nikah." "Lah gue nikah besok?" "Kok lo nanya ke gue sih, ya mana gue tau nying" "Hmm" "Gue mau boker dulu tutup ya" "DASAR KUTU! ALIBI LO GAK GUNA BANGET AN--" Tuuuuuuut Jing, Tai kesel banget gue sama Ryan sumpah, untung temen kalo bukan dah gue santet jadi babi lu monyet. "Manyun mulu lo gegara Ryan gak masuk" Gue cuma mendelik kesel kearah Gladys "Pasti dia sebenernya pengen gue dihukum sama Vano" kata gue kesel. "Jodoh dong," celetuk Sandy yang bikin gue ngelempar buku ke kepalanya. "Lo gak gue traktir! Ayo Dys, tinggalin Cindestella sendirian biar mampus mati kelaperan" Sandy langsung menarik Gladys pergi dan ninggalin gue sendirian. Untung lo temen gue bukan temen Setyo. . . . . Stella berjalan santai dengan telinga yang ia sumbat dengan earphone. Ia hanya melengos dengan santai melewati segerombolan mahasiswi yang sedang menatapnya sinis. "Jadi dia yang disamperin Vano?" "Najes, cantikan gue" "Kok mau Vano sama dia?" "B aja ceweknya" "Vano kok suka yang cabe ya?" Stella berhenti berjalan ketika ia tak sengaja mendengar percakapan salah satu gerombolan mahasiswi yang sedang mencercanya habis-habisan itu. Ia melepas earphone yang menggantung di telinganya dan menatap gerombolan siswi tadi datar. "Diem atau gue jahit mulut kalian satu-satu" ucapnya dingin dan menatap tajam gerombolan siswi tadi yang sudah menciut. "Emang lo siapa yang bisa jait mulut kita? Presma bukan, Dosen bukan, Ketua rektor aja bukan" celetuk seseorang dihadapannya "Gak nyambung bego," ucap Stella datar. Ia sengaja menubrukkan bahunya kearah mahasiswi tadi. Karna geram, si mahasiswi itu pun melempar handphone milik Stella sampai isinya berantakan tak terbentuk. Stella menatap tajam siswi tadi "Gantiin handphone gue!!" ucapnya dengan nada perintah. "Ups, gue gak sengaja, bye!" Mahasiswi tadi pun langsung kabur sebelum Stella mengamuk. "Huhu, Mama... handphone baru aja beli kemaren udah rusak" Stella memungut handphonenya dan kembali berjalan ke kantin. "Dasar aneh." ucap Vano pasrah yang ternyata ikut menyaksikan kejadian barusan. . . . "Muka lu kusut terus kaya boxer si Arka" Gue gebuk kepala Lucas yang disebelah gue. Dari tadi dia ngomel ngomel mulu. Dia bilang kalo gue lagi pms lah, gue ga waras lah sampe nawarin mau beli high heels apa enggak kan ga nyambung tai. "Napa gue digebuk sih?" "Omongan lo tuh kudu di filter dulu" "Rese, hape baru gue rusak parah dan gak bisa nyala lagi huhu... Lucas beliin lah yang sama persis" rengek gue "Ogah, minta sono sama Vano. BYE!" Gue menatap kepergian Lucas "Kenapa ya orang kaya tuh kadang pelit?! Tapi gak papa sih, untungnya si Lucas anaknya polos banget bisa dimanfaatin" "Makan tuh manfaat!" "Tai lo Dys" gue menggerutu saat Gladys dengan seenak jidat lebarnya ngelempar gue pake pulpen yang tadi abis digigitin dia. Jorok sumpah, mana tutup pulpennya jadi gepeng gitu kan serem (re: pulpen standar) "Pengen pulang huhu.... Mama! Stella capek gak bisa diginiin!" "Ayo bolos bareng dah" Gue ngerjapin mata gue gak percaya. What the.. seorang Sandy yang terkenal dengan ketaatan peraturannya ngajakin bolos? Ini kebetulan, takdir atau udah direncanain? "Muka lo i***t banget tai bikin ngakak" ejek Gladys. "Ayok dah, gue tau tempat bolos yang aman" Kita bertiga bertatapan lama sebelum akhirnya "ATAP!!" dan gak lama kemudian kita langsung lari ke atap sebelum jam pelajaran kedua dimulai. "Gue mau ke kantin dulu bareng Gladys, lo duluan aja Stell" ucap Sandy, gue mah ngeiyain aja. Pasti si Sandy bakal beli makanan macem macem terus kita nonton audisi biskuat lagi. Gue naik kearah tangga pegel sih, cuman mau gimana lagi ini jalan satu satunya gue bisa bolos. Pas gue hendak ngebuka pintu rooftop, sebuah suara mengintrupsi gue. "Stella..." "Astaga! Lo ngagetin gue sinting" Gue ngelus d**a pas tau yang ternyata nyolek bahu gue itu Vano. "Lo ngapain disini?" Tanya gue dan Vano memamerkan senyuman miring andalannya "Refreshing. Cuman lima menit lagi bel masuk, lo gak ada niatan buat bolos disini kan?" Gue meneguk ludah gue secara gugup "Gak kok, gue cuma mau ..." "Stella! Udah di nyalain belum lap- eh hehe halo Vano!" omongan gue kepotong gara gara ada suara Gladys. Vano natep kita bertiga gantian "mau bolos ya kalian?" Tanya dia mengintimidasi. Gue cuma menggelengkan kepala gue cepet. "Lo duluan, gue yang bakal urus nih cowok" bisik gue ke Sandy yang jaraknya paling deket sama gue. Dia ngangguk dan nyerahin satu kaleng cola ke gue "Semangat!" Hibur dia sedangkan gue cuma ngangguk tanda iyain ucapan dia. Ok Stella, rileks. Ini saatnya kau untuk berbasa basi dengan harimau yang sedang lepas dari kandang. "Oiya Van, lo habis ini ada kelas apa?" "Pak Denis" "Ada kali ya pelajaran Pak Denis?" "Maksud gue, Matematika." "Ok. Lo ikut gue" Gue ngisyaratin ke Sandy dan Gladys untuk kabur setelah gue bawa pergi Vano. Dan mereka cuma ngangguk lalau ngacungin jempol. Gara gara Vano kita gak jadi bolos kan. Lagian tuh cowok gabut banget sih sampe ngikutin gue begini. Kayak gak ada kerjaan lagi aja. Gue narik tangan Vano buat turun dari atap dan jalan ke arah lapangan yang udah ramai sama beberapa mahasiswa. Entah dari angkatan mana, yang jelas ramai sekali. Gue lepasin tangan Vano dan ngedeket kearah lapangan dan bingo! Gue liat Pak Denis, selaku dosen yang sekarang lagi ngobrol-ngobrol santai bareng beberapa mahasiswa. Pak Denis emang dikenal sebagai dosen yang paling ramah, gak heran banyak anak muridnya yang kelewat nyaman dan bergantung sama Pak Denis. "Pak Denis!" Gue nyengir dan langsung lari-lari ke arah Pak Denis "Pak, Vano izin ya mau nganter saya" ucap gue sedangkan Pak Denis natep gue males sembari mengangkat alis, "Nganter kemana?" Tanya Pak Denis. Gue menyengir canggung mendengarnya. "Ke..?? Kemana mana hatiku senang?" Gue mendadak malah melawak. Pak Denis mengerutkan dahi, sementara beberapa mahasiswa udah ketawa keras melihat tingkah gue yang lumayan absurd. Habis gue gak kepikiran mau ngomong apa lagi... Vano juga jadinya malah ketawa-ketawa liat gue yang sekarang udah nyengir canggung karna ekspresi milik Pak Denis yang bener-bener bikin gue mendadak awkward. "Boleh ya, Pak?" Gue menatap Pak Denis dengan wajah berharap. Vano hanya melihat tanpa ekspresi. tak tertarik sama sekali. Duh, sebel banget. Gue kan niatan mau bolos kelas, kenapa malah jadi begini sih??? "Iya." Mendengar itu, gue lantas bersorak senang. "MAKASIH PAK DENIS!!!" kata gue memekik senang. "Seneng banget?" Gue mengangguk sembari menggandeng lengan milik Vano. Pertanyaan cowok itu gak gue gubris lenih lanjut, cukup gelengan doang dia pasti paham. ah, senangnya... meskipun sekarang gue gak tau mau kemana dan gimana...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN