Ini Vano kemana sih ya ampun. Pegel banget kaki gue dari tadi nungguin dia, mana kebaya ini panjang banget bikin gue gak bisa lari-lari kan.
"La, Vano mana nih? Kok dari tadi gak keliatan?" Gue cuma ngangkat bahu gusar sebagai jawaban buat pertanyaan Gladys tadi. Sandy yang di sebelah gue juga ikutan panik dan bingung karna gak melihat adanya Vano.
"Duh, coba aja gue gak pake kebaya ini bisa lari terus nyari suami lo, La."
Gue menghela nafas "YA GUE LEBIH RIBET DARIPADA LO YA!" Amuk gue, sedangkan Gladys yang ngeliat gue teriak-teriak ke Sandy cuman memijat pelipisnya, pusing.
"Udah deh daripada ribut dan bikin malu sampe di liatin para tamu, mending lo duduk sampe Vano dateng. Dan lo, ikut gue!" Perintah Gladys membuat Sandy yang di tunjuk cuman menghela nafas sembari diam mengikuti.
Gue mendengus pas Gladys sama Sandy ninggalin gue sendirian.
Ini si Vano kemana sih? Kok gak muncul-muncul nya bikin kesel aja.
"Maaf, gue ninggalin lo tadi"
Gue memutar bola mata males begitu sosok yang gue cari baru datang dan langsung ikut duduk di samping gue, "Vano, bukannya gue mau ngelarang lo buat ngobrol sama temen-temen lo nih, tapi ya jujur aja gue udah kesel ditanyain sama tamu-tamu yang nyariin dimana pengantin cowoknya kan lama-lama gue bungeng di tanyain begitu melulu!" Sahut gue kesal.
"Iya, sorry."
"Udah, diem duduk disini aja."
Dan akhirnya kita berdua cuman duduk dan sesekali menyambut beberapa tamu yang baru datang. Sebenernya gue udah pegel, tapi ya gimana lagi. Lagian Vano juga kayaknya gak kalah capeknya sama gue, cuman anak itu masih bisa ketawa-ketawa gitu beda sama gue yang udah keliatan banget sepetnya.
"Laper gak?" Tanya Vano membuka pembicaraan.
"Lumayan. Tapi gue gak bisa kemana-mana. kebaya gue ribet banget takutnya gue jatoh gempuling di hadapan tamu kan gak lucu," Gue mendengus kesal sembari mencebik.
Vano tertawa kecil, "Makanya tadi pilih sendiri aja bajunya, kalo dipilihin bunda kan ribet dan keliatan banget bukan selera lo, iyakan?"
"Gak sempet ngomong gue. Orang mau ngomong dipotong sama 'bagus ini atau ini' terus kan gak bisa nolak gue gak enakan"
Vano mengangguk kecil sembari mengusap dahinya yang sedikit berkeringat, "Yaudah tunggu disini, gue mau ambilin lo makan." Katanya dan langsung pergi ninggalin gue.
Sedih idup gue daritadi ditinggal mulu hikseu.
.
.
"Ini kamar buat anak kalian nanti. Gimana? suka gak?"
Stella melihat-lihat kamar yang dihiasi beberapa perlengkapan bayi. Ia memegang ranjang kecil yang di pagari kayu itu dengan dahi mengernyit.
"Bun, kok ranjang nya kecil banget?" Tanya perempuan itu bingung.
Bunda tertawa mendengarnya, "Ya kan kalo langsung besar nanti dia jatoh, gimana?" Stella mennggelengkan kepalanya.
"Nantikan bayi nya bisa tidur sama aku daripada disini sendirian,"
"Emang lo pengen punya anak sekarang?"
Stella terdiam mendengar ucapan Vano. Bunda hanya menghela nafas ringan melihat Stella yang terdiam sibuk memikirkan ucapan Vano tadi.
"Bunda sih seneng kalo ntar nimang cucu, tapi kalian kan masih awal banget masuk kuliahnya. Kalau memang sanggup, ya Bunda gak akan larang. Tapi tau konsekuensinya, bukan?"
"Aku sih siap kapan aja bun, tapi nih si Stella gatau" sahut Vano dengan gamblang.
"Ah, aku mau liat dapur dulu bun," ucap Stella mengalihkan pembicaraan dan langsung jalan kearah dapur tanpa liat ekspresi bingung Vano sama bunda.
"Kayaknya dia pengen banget punya bayi deh No,"
"Urusan aku banyak bun, kalo dia hamil kan ntar aku gak bisa jagain repot juga. Tugasku banyak banget, Stella pasti sama."
"Tapi kamu gak liat ekspresi dia tadi?"
"Udah ah, bunda mending pulang ntar aku yang ngomong sama dia,"
"Kok kamu malah ngusir bunda? Masih untung kita kasih kamu rumah,"
"Tapi kan aku gak minta?"
"Kamu ini. Yaudah bunda pulang, jagain Stella nya."
"Siap Kanjeng ratu!"
Vano hendak mengantar bunda sampai ke depan pintu. Tapi saat ingin melewati ruang tv, ia melihat Stella yang tertidur nyenyak diatas sofa dengan keadaan 'masih' memakai baju kebaya nya.
"Stella kayaknya kecapean deh, besok kalo masih capek gausah berangkat sekolah dulu ya," instruksi bunda
Vano menampilkan senyumnya dan sekilas menengok ke arah Stella "hmm. Hati hati pulangnya ya bun"
"Iya, jaga stella baik-baik pokoknya! Jangan manja lagi malu sama istri." canda bunda cuma ditanggapi dengan helaan nafas.
"Bunda pamit ya?'
"Iya, hati-hati bun."
Setelah bunda nya pergi tadi, Vano kembali menengok kearah sofa di depan tv dan masih menemukan Stella yang tertidur nyenyak.
"Bangunin atau nggak? Bangunin aja deh, lagian harus mandi dulu" gumamnya.
"Stella, bangun mandi dulu terus langsung boleh tidur"
Vano menepuk pelan pipi stella agar gadis itu bangun dari mimpinya.
"Hmm? Gue gak tidur! Gue cuma nutupin mata" ucap stella mengelak dan langsung bangun dari tidurnya.
Vano menggelengkan kepalanya "Yaudah mandi gih, ntar gue mandi di kamar mandi yang bawah" katanya.
Stella menganggukkan kepalanya "Delivery makanan ya! Gue mendadak ngidam pizza deh," Ucapnya dan langsung menghilang bagai ditelan bumi.
"Hamil aja kagak, sok sokan ngidam"
.
.
.
.
"STELLA!"
"Vano, gak mau! Gak mau!!"
Vano berdecak dan berkacak pinggang ketika Stella keluar dengan penampilan yang tidak bisa di katakan sesuai aturan sekolah. Apa-apaan perempuan itu.
Tapi, semua orang tau, Stella mana mungkin pergi ke kampus menggunakan rok. Heii dia lebih suka pakai jeans!!
Tapi tidak dengan Vano, sebagai wakil presiden mahasiswa sekaligus seorang suami bagi Stella, ia harus membiasakan Stella berpenampilan sopan. Jeans dan baju crop top, tergolong tak sopan sebenarnya.
"Berapa kali gue bilang?" Ucapan Vano yang terdengar dingin serta suara yang sengaja direndahkan membuat stella bergidik seketika.
"Vanooo... eung? Gak mau huuaaaa" Rengek Stella.
Vano menghela nafas "Lo gak malu apa?"
Stella mengerucutkan bibirnya "Emang salah? Biasanya juga begini kok, repot banget sih lo." Ujarnya kesal. Sedangkan Vano sudah gondok duluan, "Stella dengerin gue! Lo itu mau nuntut ilmu bukan mau fashion show atau pun pergi ke club. Jadi, ganti baju yang lebih sopan atau gue tinggalin lo disini?" Ancam laki-laki itu.
"Sana! Sana! Tinggalin gue aja! Kesel gue sama lo!"
Stella terduduk dilantai dengan masih posisi merengek, ia menendang nendang kakinya ke segala arah dan jangan lupa bibirnya terus melontarkan rengekan-rengekan tidak terima.
Vano menghela nafas berat, "Lo gausah ke kampus hari ini. Tipsen aja. Baik-baik di rumah," Katanya mencoba sabar.
Stella menatap punggung Vano yang sudah hilang dibalik pintu "Harusnya gue yang bilang semacam kayak gitu gak sih?" gerutunya.
"KESEL AING!! KENAPA SUAMI GUE HARUS WAPERSMA DAN SUCI GITU SIH HUHUWWWW!!! tapi Vano ganteng!!! SERBA SALAAAHHHHHH!!!"
.
.
Stella menatap jendela balkon rumahnya dengan kosong.
"Hoi Stella! Kenapa diem aja woi!"
"Kenapa? Sori gue gak denger"
"Ck, lo tuh gimana, sih? Lo gatau Vano tadi di hukum karna telat?"
"Emang dia kenapa?"
"Ya di hukum aja gimana? Dia di babuin Pak Denis jadinya,"
"Serius?"
"Dua rius karna lo gak percaya."
"Ryan? Kalo Ryan gimana?"
"Ryan masih ada urusan organisasi kalo lo lupa,"
"Oh iya."
"Anyway, lo tumben izin sakit? Oh jangan bilang abis nununana ya?"
"APAAN SIH NGGAK YA!"
"Alah sok-sokan malu lo. Ngaku aja kali!"
Stella menggeram saat Lucas menggodanya.
"GAK! m***m LO, DASAR!"
Stella menangkup mukanya pada bantal untuk meredam kekesalannya.Ia bangkit dan tangannya terulur untuk mengambil kembali handphone di meja.
"Gue telfon atau gak?" Gumamnya bingung
"Telfon aja deh" Finalnya.
Ia mengotak-atik handphonenya mencari nama Vano disana, tanpa menundanya, ia segera menelfon sampai yang ditelfon menjawab panggilannya.
"Halo? Vano, gue denger lo di hukum! Lo sih pake acaranya marahin gue segala jadinya telat kan!"
"Hah? Sapa ni?"
Stella mengerutkan keningnya bingung saat seseorang yang menjawab telfonnya itu bukan jeno
"Lah harusnya gue yang bilang! Lo siapa jawab telfon suami gue?"
"Dih, ngomong dong kalo lo Stella! Gak usah ngegas gitu! Bikin mood gue rusak aja lo!"
"Gausah curhat. Vano mana?"
"Di ruang kesehatan."
"Ngapain dia disana?"
"Ngadem. Ya lo pikir aja sendiri ngapain dia bisa ada disini!"
Stella mengacak rambutnya frustasi. Karna mereka sibuk berdebat tadi, Vano sampai tidak memakan sarapannya, dan pada akhirnya malah tumbang begini.
"Tungguin Vano sampe gue dateng!" Ucapnya dan langsung menutup telfonnya secara sepihak.
Dengan terburu buru, ia mengganti pakaiannya dengan pakaian biasa. Tak lupa ia menyemprotkan parfum pada tubuhnya.
"Harusnya gue gak ngelunjak pas dia nasehatin. Pasti ini gak bakal terjadi" sesalnya.
Dilain tempat,
"No, Stella mau kesini"
"Kenapa harus kesini?"
"Ya khawatir sama lo lah???"
"Gak mungkin"
"Ck, lo harusnya bersyukur punya bini yang perhatian gitu. Gue aja kagak punya!"
"Gak nanya."
"Tuh tuh liat liat!! Sifat cueknya lo sama kaya Stella! Hih kalo kalian punya anak, jangan sampe tuh anak kayak Elsa, ntar dunia beku!"
"Lo mikirnya kejauhan,"
"Tapi ya, kalo kalian punya anak ntar namanya harus ada Vano-Vano nya ya? Nanti anak kita jodohin aja sekalian."
"Anak gue bisa ayan kalo sama keturunan lo nanti"
"Gak boleh mengumpat. Gak gak gak boleh..." Setyo mengelus dadanya sabar.
.
.
Stella membuka pintu ruang kesehatan dengan perlahan. Di depannya ada Setyo yang tengah bermain game di ponselnya dengan serius
"Vano mana?" Ucap Stella tak sabaran.
"Kaget anjir!" Ucap Setyo setengah berteriak.
"Tuh, lagi tiduran anaknya." tunjuk nya.
Stella menganggukkan kepalanya "Sana pergi, gue aja yang jagain dia." Usirnya
"Ngaku aja kalo mau berduaan, cih."
"Berisik banget sih, tinggal nurut aja apa susahnya" Omel Stella
Setyo meninggalkan ruang kesehatan dengan umpatan dan sumpah serapah untuk Stella. Tapi si Stella mah bodo amat, gak ngurus jeh.
Stella mengecek kecil Vano yang sedang tertidur pulas.
"Demam," gumamnya begitu menaruh telapak tangannya di dahi laki-laki itu.
"Gue baik baik aja. Lo ngapain disini?"
Stella terlonjak kaget saat Vano tiba tiba memindahkan tangannya dan beralih untuk menggenggam tangannya.
"Pulang aja ayo, dari pada disini terus" ajak Stella.
Vano menggeleng "Gue masih harus ngurusin BEM, Ryan sekarang lagi gak ada makanya gue yang urus." Balesnya dan makin mengeratkan genggaman tangan Stella.
"Lo tuh ya, masih sakit gini sempet-sempetnya mikirin urusan organisasi. Sepenting apa sih? Lo gatau khawatirnya gue pas tau lo sakit apa?" omel Stella panjang lebar.
Vano melepaskan genggaman tangannya dengan Stella. Ia memposisikan tubuhnya untuk duduk berhadapan dengan perempuan itu.
"Se-khawatir itu hmm? Padahal tadi pagi lo marah-marah sama gue"
"udah deh, daripada gue makin kesel sama lo" Dengusnya kesal.
"Sini deh deketan," Vano menepuk-nepuk pelan kasurnya untuk menisyaratkan Stella duduk disampingnya. Stella menurut dan duduk langsung disamping Vano.
"Gue mau tidur sebentar. Jadi tungguin ya?"
Vano merapatkan tubuhnya ke tubuh Stella. Ia menyandarkan kepalanya pada pundak Stella dan tangannya memeluk pinggang ramping gadis itu.
"No, udah ayo pulang aja."
Vano menggelengkan kepalanya dan makin mengeratkan pelukannya.
"Gamau. Gue pengen disini aja meluk lo terus"
Stella merona mendengar perkataan Vano yang cukup blak-blakan.
"Pulang aja ayo, dari pada makin parah sakitnya. Lagian lo harus istirahat,"
Stella mengelus kecil pelipis Vano yang basah karna keringat "Gue gamau pulang," Rengek cowok itu.
Vano, lo gak tau ya kalo rengekan lo itu bikin Stella ambyar.
"Ya terus mau disini terus? Mending di rumah deh, biar sekalian tidurnya. Si Setyo juga pasti gak bakal sudi kali nemenin lo terus-terusan," Stella mendengus.
Vano benar-benar menyebalkan.
Bukannya Stella sensi atau gimana, satu-satunya cara supaya ia tak terlihat salah tingkah akibat tingkah Vano yang baru di tunjukkan tadi ya sedikit marah dan mengomel.
Jujur saja, Vano terlihat lucu dan itu sukses membuat Stella merona.
Ah, sial. Sepertinya Stella memang benar-benar salah tingkah sekarang.
AAAAAAAAAAAAAAAA mau marah.