"Turun, udah sampe" ucap gue ketus pada Vano yang masih tidur dengan selimut yang menggulung tubuhnya. Rambutnya acak-acakan dan pipinya yang sedikit merona efek demam membuat gue hampir saja memfoto dia dan selanjutnya bakal gue upload dengan caption 'wapresma yang salting hingga pipinya merona karna demam menyukainya' tapi gue masih punya akal sehat buat gak ngelakuin itu bisa bisa gue diamuk fansnya si Vano diluar sana. Meskipun dalam hati gue pengen banget ngelakuin itu...
"Udah nyampe?" Tanya Vano yang masih memejamkan matanya dan selimut yang makin dia eratkan supaya menghalau dinginnya AC mobil, dan selanjutnya dia kembali tidur. Hadeh.
Gue buru buru matiin mesin mobil dan mengguncang bahu Vano berkali-kali dan bahkan gue gak segan segan bakal narik selimut itu. Tapi tetap gak ada respon dari si laki-laki. Nyebelin banget sih.
"Bangun bego, tidurnya di dalam aja" kata gue kelewat kesal.
Vano mendesah pasrah dan selanjutnya dia turun dari mobil dan langsung pergi ninggalin gue.
Sialan banget tuh cowok, pake acara ninggalin gue segala.
Gue masuk kedalam rumah dan menaruh kunci mobil gue asal. Selanjutnya gue ke kamar dan menemukan Vano yang lagi tiduran dengan selimut yang entah udah kemana. SUMPAH KOK?
"Kok gak dipake selimutnya?" tanya gue pada Vano "Gerah. Disini udah panas jadi gausah pake selimut" Ucapnya tanpa menoleh kearah gue.
Gue mendengus kesal dan melemparkan selimut itu kearahnya dengan brutal.
"Makan terus minum obat baru abis itu tidur" perintah gue dengan mutlak.
"Nanggung sekalian makan siang aja," Vano berkata tanpa repot menatap gue.
Gue hanya menggelengkan kepala liat tingkah Vano yang keras kepala. Semoga aja ntar anak gue gak ketularan sifat Vano yang nyebelin.
Tapi semoga aja deh, ntar anak gue nular pinternya sama gantengnya dari Vano ehe,
Kuliah aja belum lulus sok sokan mikirin anak sinting emang gue :(
.
.
"Hmm, udah mendingan sih, panasnya turun."
"Kayaknya sih dia udah pusing dari tadi malem tapi gamau ngasih tau,"
"Iya bun, sama-sama."
Gue melempar hp gue ke sisi samping sofa. Gue lanjutin kegiatan gue tadi, yang sebelumnya sempet ada kendala gegara mertua gue nelpon tadi. Mau bilang ganggu banget tapi gue gamau kena karma karna umpatin mertua.
"Bunda bilang apa?" Ucap Vano yang ikutan duduk disebelah gue ngeliatin gue yang lagi fokus nonton variety show salah satu boyband Korea.
"Cuma nanyain keadaan lo doang,"
Vano menganggukkan kepalanya, lalu menyandarkan kepalanya di bahu gue "nonton itu mulu, gak sakit apa matanya? Terus aku kalo jadi kamu sih capek ya."
"Capek kenapa?" Tanya gue tanpa mengalihkan pandangan dari laptop "Capek hafalin membernya, banyak gitu. Aku aja hafalin member Sebongteen sama Oex butuh waktu dua minggu lebih. Itu juga karna kamu kan yang maksa."
Gue ketawa geli, "Seiring berjalannya waktu pasti hafal kalo kamunya ada niatan sih," Ucap gue pada akhirnya.
"Gatau. Aku mau tidur" ucap Vano dan memposisikan dirinya senyaman mungkin dengan kepala yang masih nyandar ke bahu gue.
"Tidur dikamar sana. Sakit nanti kepalanya" usir gue secara halus yang dibalas gelengan "Nemenin kamu aja," Jawabnya singkat.
"Bentar lagi selesai kok,"
"Yaudah nanggung kan lanjutin aja nontonnya"
Gue hanya menuruti ucapan Vano dan lebih memilih memfokuskan diri untuk menonton.
Tapi gue sebel banget soalnya lagi asik nonton si Vano nanya-nanya mulu. Gak jadi tidur dia.
Huft sabar.
Mending aku nonton Sebongteen lagi, KYAAA
.
.
Gue menatap Vano yang sekarang udah rapih dengan almamater kampus, duduk di meja makan dan memoleskan selai kedalam roti tanpa menatap gue sedikit pun.
Wajahnya pun damai seolah memberitahu bahwa ia tak ingin diganggu siapapun. Sedih deh gue, pen gue ganggu padahal. Gue kalo pagi suka banget gabut, biasanya jewerin kuping atau jambakin rambut Lucas, sekarang udah gak bisa lagi :(
"Bukannya lo masih sakit? Mau ke kampus?" Tanya gue pada akhirnya dan menuangkan s**u kedalam gelas lalu menyerahkannya kepada Vano.
Vano mengambil gelas yang gue sodorkan, meminumnya sedikit lalu mengangkat bahu, "Ada rapat BEM." Ucapnya singkat dan lebih memilih diam.
"Padahal gue sengaja gak bangunin lo. Kemarin kayaknya lo kecapean deh, rapat mulu." ucap gue tanpa menatapnya, memilih mengoleskan selai ke roti. Gue memang tak ingin Vano ke kampus untuk sementara waktu, karna gue tau Vano itu sibuk banget sampai sampai kadang lupa sama jam makan. Dia juga gak sekali dua kali tumbang. Ya meskipun yang mergokin dia tumbang cuman Ryan, atau Setyo. Kalo lagi parah banget ya si Yudhis atau gak anak-anak ukm yang lain. Dan gue gak mau kejadian yang sempet Ryan ceritain itu kejadian lagi.
"Gue pasang alarm tadi. Udah ada firasat kalo lo gak bakal bangunin gue,"
Gue menghela nafas sesaat, lalu menatapnya "Akhir-akhir ini kelas gue sama kayak lo. Niatnya gue mau ngajakin pulang atau berangkat bareng," ucap gue pada akhirnya.
"Gojol atau sama Sandy aja, gue bakal pulang malem lagi kayaknya." Vano secara tidak langsung menolak gue. huft.
"Gue nunggu lo aja deh. Gue harus ada disisi lo buat ngingetin makan. Lo terus-terusan sibuk sampe jam makan aja kelewat. Mau gue bawain bekal aja nih sekalian?" Kata gue agak merenggut kesal.
Vano tertawa kecil melihat rengekan gue, "Gue kadang tetep makan kok, gak perlu khawatir." Ujarnya mencoba menenangkan.
Tapi nyatanya ucapannya itu gak menenangkan gue sama sekali.
"Tapi lo makan mie kan? Ngaku!" Ceplos gue dan menatap dia tajam, dibalas cengiran.
"Oke mulai sekarang gue harus selalu sama lo." tegas gue.
"Ntar pada tau kita udah nikah gimana?"
"Bagus dong, nantinya para fans lo gak ada gangguin hidup lo lagi, berterima kasihlah pada gue" ucap gue dengan pede nya sambil menepuk-nepuk d**a gue bangga.
"Terserah. Yang jelas gue mau berangkat sekarang" Ucapnya lalu berdiri dari kursi. Tapi dia menatap gue tajam untuk sesaat yang cukup membuat gue sedikit bergidik.
"Tumben banget baju lo gak aneh-aneh?"
Gue menghela nafas kasar, "Gue tobat. Masa suami gue alim gini mau sama cabe-cabean." ucap gue sedikit tidak ikhlas untuk mengejek diri sendiri.
Dia tersenyum "Makasih" Ucapnya. Gue mendelik kearahnya "Buat?"
"Hormatin gue sebagai suami lo"
Gue tersenyum sembari mengangkat bahu, "Udah tugas gue kok," Setelah berucap gue membereskan sisa-sisa makanan di meja.
"Panasin mobilnya, gue mau ambil tas dulu" Ucap gue lalu hendak pergi mengambil tas yang terletak di kamar.
Tapi Vano menahan tangan gue, "Udah gue bawa kedalam mobil kok, ayo berangkat." Ajaknya, menggenggam tangan gue sembari menuntun gue untuk masuk ke dalam mobil.
.
.
Setelah mendengar sang dosen yang pamit, Stella langsung membereskan buku-buku yang di meja lalu memasukannya ke dalam tas setelah itu ia buru-buru pergi ke sekret BEM untuk menemani Vano yang sedang mode senggol bacok.
Stella sedikit merutuki dirinya saat Vano tidak sengaja melihatnya sedang berpelukan dengan Lucas, yang notabene nya teman se-geng jeno sendiri. Tapi sepertinya Vano salah paham karna sehabis melihatnya berpelukan dengan Lucas, Vano langsung pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Dan saat ini adalah saat saat dimana Stella takut pada Vano yang sedang menatapnya datar tak berekspresi.
"Kan gue bilang pulang duluan" ucap Vano datar saat melihat Stella yang sedang berdiri di depan pintu sekret sembari melambaikan tangan kearahnya.
"Aku" koreksi perempuan itu.
Vano hanya berdehem menanggapi ucapan Stella, dan kembali berkutat dengan kertas-kertas yang berserakan di meja tanpa menoleh atau bertanya mengenai kejadian yang ia lihat tadi siang.
Melihat Vano yang bersikap dingin padanya, Stella mau tak mau harus mencari cara agak bisa mencairkannya. Sebenarnya ia sedikit takut saat Vano melihatnya dengan pandangan dingin seperti tadi, terlebih nada bicaranya yang ketus. Membuat ia merinding dan takut di saat yang bersamaan.
"Soal kejadian tadi.. kamu salah paham tau." Cicit Stella "Aku gak ada apa apa sama Lucas" Ucapnya sembari menunduk melihat kakinya yang bergerak-gerak gelisah.
"Terus masalahnya sama gue?"
"Ya... kamu jahat udah langsung marah aja padahal aku belum ngasih tau kejadian yang sebenernya" Ambek perempuan itu.
Vano hanya bisa menaikkan satu alisnya "Gak perlu diceritain kok, udah paham." Balasnya tak perduli "Lucas juga dah tau kalo lo istri gue. Dan lo juga suka kan sama dia? Pacaran aja sana." Lanjutnya dengan tatapan datar.
Stella yang tadi setengah mati ketakutan, sekarang tak bisa menahan senyumnya, "Cemburu yaaa??" Godanya
Vano menatap Stella salah tingkah "Pede banget." ucapnya sedikit gugup. Memang ia sedikit cemburu saat melihat mereka berpelukan tadi, apalagi ia tak mau ambil pusing dan membiarkan mereka berdua dengan urusannya masing masing tanpa bertindak.
"Aku belum cerita ya? Lucas tuh sebenernya kakak aku, ya meskipun kakak tiri. Cuman kita rahasiain ini semua dari kalian, bahkan dari kamu. Yang tau cuma Ryan, Sandy sama Gladys doang."
"Jadi gausah cemburu, masa cemburu sama kakak ipar sendiri" Goda Stella sembari mencolek Vano yang memunggunginya.
Stella melingkarkan tangannya pada Vano lalu menatap laki-laki itu dengan senyuman lebar, "Kamu tau kan ayah aku itu ayah tiri? Ibuku cerai sama ayah kandungku sejak aku umur 12 tahun, dan dua tahun yang lalu, Mama nikah sama Ayahnya Lucas." Jelasnya sembari mengingat-ingat.
Vano melepaskan tangan stella yang melingakar di tubuhnya, "Aku gak cemburu" Bantah Vano.
"Aduh, cemburuan dasar!" ledek Stella
"Udah sana beliin makan aku laper,"
"Sabar dong, dasar tukang cemburu!"
"Diem."
Di rasa sudah cukup puas menggoda Vano yang dalam mode pencemburu tadi, gue iseng-iseng melihat satu kertas yang cukup berserakan di meja. Dengan dahi mengerut, gue menggumam.
"Tour?"
Vano menganggukan kepalanya seraya melihat gue yang masih dengan wajah bingung
Lho kok mendadak gini sih? Lagian kan Vano baru sembuh kok ada tour segala. Ya walaupun tournya enak di Yogyakarta, tapi kan masa tiga hari lagi? Bahkan gak ada pengumuman apa-apa. Nanti masalah bayar-bayar kayak gitu gimana? Ribet banget kan kalo yang gak punya duit macem gue ini?
"Kok mendadak?!"
"Ryan lupa ngasih tau ke aku. Aku wajarin juga sih, kan sibuk siapin lomba." jawab Vano.
Gue menggelengkan kepala tanda tak percaya ucapan Vano barusan. Ini sih ya jelas salah si Ryan. Ngapain coba baru ngasih tau sekarang? Ini super duper dadakan lho? Mana jadinya si Vano yang ngurusin ini itu. Paling si Ryan sekarang lagi enak-enakan refreshing. Huft.
"Samlekom! Hai teman-temankuuuu Ryan datang!!!"
"EH AYAN! LO NGAPA BARU NGASIH TAU SEKARANG? LIAT NOH SUAMI GUE YANG BARU SEMBUH LANGSUNG DI KASIH KERTAS-KERTAS GAK GUNA KAYAK GINI! LO PIKIR DIA GAK BUTUH REFRESHING JUGA HAH?? DASAR KUTU AYAM!" Teriak gue melampiaskan rasa kesal.
Ryan yang baru masuk cuma bisa natap gue kaget dan nyengir lebar dadahin gue setelahnya. Ngeselin banget sumpah.
"Eh.. sori sori kan gue lupa!"
"Udah sana lo yang ngurusin ini! Gue sama Vano mau balik"
"Lah kok gue sendirian?!" Jawab Ryan tak terima.
"Apa mau gue panggilin Gladys buat nemenin lo?!"
Ryan nyengir, "Gak usah heheh gue udah ditemenin mereka berdua" Jawabnya lalu menunjuk dua pasangan yang sedang lovey-dovey dipojokkan.
Yup, Setyo dan pacar barunya, Cella.
"Yakin dia gak bakal jadi nyamuk?" Tanya Vano pada gue sedikit meringis.
Gue mengangguk mantap, "Pasti jadi nyamuk lah, secara dia kan jomblo! ngenes lagi" Ucap gue sedikit menghina Ryan.
"Udah sana cepetan lo telfon Gladys, gue butuh bantuan cabe tengil itu buat ngurusin proposal juga" ucap Ryan pasrah pada akhirnya.
Nah Yan, gitu kek! Gue jadinya gak capek-capek buat nyomblangin lo sama dia :(
Tapi Gladys juga gamon sama Koko Wondi.. yang sebenernya kakak kandung si Ryan sendiri.
Sedih ya kisah cinta mereka... udah kaya Dilan sama Milea...
Bener ya kata rindu...
Dilan itu berat...
Tapi...
Lebih berat lagi berat badan gue..
Dan...
Bopong galon sambil mengelilingin lapangan sekolah.. lebih berat daripada Dilan...
HUHUHUHU
.
.
"Heh cabe!"
Gue menoleh ke belakang dan nemuin si Gladys sama Sandy. Bedanya, Sandy digandeng sama Mark sedangkan Gladys mukanya sih udah ditekuk gitu... bisa dipastikan dia sekarang lagi bete karna jadi obat nyamuk diantara Sandy dan Mark.
Dibelakangnya, gue bisa melihat Ryan yang baru keluar dari mobil dan sedikit ngomong sama seseorang dalam mobil itu. Mungkin kakaknya? Oh jadi itu alesan si Gladys mukanya ditekuk? Bukan karna si Sandy?
"Napa dia?" Bisik gue pada Sandy.
"Biasalah.. kalo ketemu mantan gitu."
Gue ber-oh ria setelah mendengar jawaban dari Sandy. Gue melirik kearah Gladys yang sekarang lagi main hp, di sebelahnya ada Ryan yang juga sama main hpnya sama kayak Gladys. Kok pada main hp semua sih?!
"Ko lo ngatain gue gamon sih anjir?"
Oalah sebelahan juga ngapain pake chattingan segala sih!? Kurang kerjaan banget!
"Yaa lo emang gamon, kan? Terus salah gitu?"
"Ya gak usah ngatain gue gamon juga dong!"
"Kenyataan! Lagian gue kan udah pernah bilang gak usah pacaran sama si Wondi."
"Hello... lo pikir siapa larang-larang gue? Suka-suka gue lah mau pacaran sama dia kek bukan kek. Gak ada urusannya sama lo."
"Lo kan tau dia suka gonta-ganti cewek."
"Gak, dia udah berubah."
"LO AJA GA TAU KALO DIA CUMA JADIIN LO BAHAN TARUHAN!"
Hah?
Duh, gue gak salah denger?
AAAAAA INI PADA KENAPA SIH?
"Lo tau dari mana?! CUMA GUE YANG TAU KALO DIA JADIIN GUE BAHAN TARUHAN! BAHKAN TEMEN TEMEN GUE GAK ADA YANG TAU! KENAPA LO BISA TAU?!!"
Gue cengo untuk beberapa saat, Vano yang baru sampai juga bingung. Sandy sama Mark yang tadinya lagi ngobrol seru jadi diem mendengar perseteruan Ryan dan Gladys.
"DIA YANG BILANG KE GUE! DIA JUGA YANG NANYA ID LINE LO SAMA GUE! DAN ITU ALESAN GUE NGASIH TAU LO GAUSAH BAPER SAMA DIA!"
18 tahun gue kenal sama Ryan, ini pertama kalinya gue lihat dia sampai murka begini. Gue kira Ryan itu orangnya gak perduli dan terkesan bodo amat. Gue merasa gagal jadi sahabatnya, gue selalu menumpahkan kekesalan gue dengan curhat sama dia, tapi gue kok bisa gak kepikiran kalo Ryan sama sekali gak pernah ngasih tau urusan pribadinya? Jahat banget dong gue butuh kalo ada maunya aja.
"GUE MUAK SAMA LO!" Teriak Gladys bahunya naik turun karna emosinya yang sekarang sedang meledak. Air matanya ngalir deras membuat gue meringis melihatnya.
Kasian liat dia begini :(
"GUE APALAGI!" Balas Ryan tak kalah keras.
Anjir, kalo gini jadinya gue tadi gak usah ngajak mereka. Bener kata Vano, mending berdua aja.
"Udah deh, kalian kalo masih mau berantem, mending balik. Kita gak usah belanja-belanja segala, udah gak ada mood juga." Ujar Vano pada akhirnya.
Gue menatap Vano yang sekarang lagi masang wajah poker face. Sumpah ya.. terakhir dia nunjukin muka datar kayak gitu pas gue masih jadi cabe sama kemarin sore, pas cemburu sama Lucas.
"Mending kalian saling minta maaf dulu deh, biar sedep." Kata Mark menuntun Ryan dan Gladys ke jalan yang benar.
Gue nyenggol lengan Vano "Kamu ajak Gladys kemana gitu, ntar aku yang ajak Ryan." usul gue pada Vano yang dibalas tatapan tak terima "Kebalik sayangku, harusnya aku ngajak Ryan bukan Gladys." protesnya kesal.
"Aku harus ngomong sama Ryan dulu!" Balas gue gak mau kalah.
Vano lantas menggeleng dan menolak saran gue mentah-mentah. "Kita berdua sama Ryan. Dan mereka berdua yang bareng Gladys, gimana?" Usul Vano sembari menunjuk Mark dan Sandy. Meskipun sedikit mendengus kesal, gue hanya mengiyakan ucapan Vano tak berani membantah.
"Ryan.. lo ikut sama gue, ayo!" ajak gue ke Ryan sambil narik tangannya.
Ryan cuman bisa nurut dan gue pun mencoba sedikit meredakan emosi cowok itu yang tersulut tadi. Tapi gue gatau harus gimana.
"Kita kesana aja, gue mau ngomong sama lo." ucap Vano menujuk salah satu restoran fast food yang cukup ramai.
Ryan lagi-lagi hanya mengangguk pasrah, segera mengikuti Vano dibelakangnya. Dan gue hanya mengikuti kedua cowok ini dalam diam.
saatnya memulai sidang!!!