"Kamu gak makan?"
Gue menggelengkan kepala "Gak lo aja, gak mood gue makan sama lo." Ujar gue ketus.
Vano menatap gue "Kamu marah karna tadi aku tinggal?"
Gue mengabaikan ucapan Vano. Bahkan melihatnya saja gue gak sanggup. Gue kesel banget sumpah. Dia gak pernah cerita soal si Chika itu, masa gue yang kudu ngode-ngode gitu sih?
Gue akhirnya turun dari ranjang berniat keluar dari kamar. Tapi usaha gue gagal karna Vano sekarang menarik gue ke dekapannya.
"Kamu kalo ada masalah cerita, jangan dipendam dan malah marah-marah gini."
"Kata Ryan kamu marah marah ke dia sampe mukul dia pake sepatu."
Gue cuman diam, tak berniat membalas ucapannya.
"Kalo kamu marah karna aku gak bisa luangin waktu buat kamu, maaf. Aku sibuk banget."
Gue melepas pelukan Vano secara paksa "Aku gak marah sama kamu" sinis gue.
Drrtt.. drrtt..
Ganggu aja sumpah.
Pasti si mawar nelfon lagi.
Vano mengangkat telfonnya.
"Chika?"
"Iya. Gak kok,"
"Nanti aku jelasin."
Vano menatap gue sebentar kemudian berbicara kembali.
"Ya, dia istri aku."
"Aku tutup,"
Gue mendengus. Apaan nih? Pake aku kamuan segala! Jadi mereka beneran pacaran gitu? TERUS GUE APAAN?!
Si Vano bener-bener deh bikin gue emosi aja.
"Chika bilang tadi kamu ngangkat telfon darinya. Bener itu?"
"Iya. Kenapa emang?"
"Kamu kasih tau dia kalo kita udah nikah?"
"Iyalah! Mana mungkin aku ngebiarin orang yang ngaku-ngaku pacar 'SUAMI' aku"
Vano mengacak rambut gue "Oh, jadi kamu marah karna ini? Cemburu ya?" Ujar Vano dengan tenang.
"TERUS KENAPA KALO AKU CEMBURU? GAK BOLEH GITU?" Pekik gue kesal.
Vano mengapit pipi gue "Ihhh sayangnya Vano, kamu lagi cemburu lucu banget sih? Pengen aku gigit." Katanya sembari mencubit pipi gue.
"Diem, ih!"
Vano melepaskan tangannya dipipi gue, masih dengan senyum gelinya, dia berkata. "Chika itu cuma temen kecil aku. Kita gak ada hubungan apa-apa, jadi jangan cemburu gitu dong."
Vano tersenyum lalu mengacak rambut gue.
"Tapi kenapa dia bilang kalo kamu tuh paca--"
Belum gue selesai berbicara, Vano lebih dulu mengecup bibir gue. Cuman sekitar 15 detik, cowok itu menggenggam tangan gue setelahnya
"Aku ngantuk deh, kita mending balik ke kamar." Kata Vano sembari menarik gue buat masuk ke dalam hotel.
Gue meskipun udah mencoba biasa aja, tetep gak bisa. Pikiran gue udah melayang-layang mengingat kejadian Vano yang dengan tiba-tiba mengecup bibir gue. Like... For the first time...
Vano tuh tadi beneran ya?
BENERAN TADI SEORANG VANO? HEOL, DIA BARUSAN CIUM GUE DI BIBIR?
DI KEHIDUPAN SEBELUMNYA, GUE ABIS NYELAMETIN NEGARA APA YA???
"Kamu ngapain diem aja disitu? Gak mau masuk kamar?"
Gue menatap Vano kesal, dengan bibir mengerucut, gue menunjuk cowok itu. "Kamu nyebelin!" Seru gue kesal.
Vano terkekeh pelan. Ia menepuk pelan puncak kepala gue. Masih dengan ekspresi kesal, gue hanya mampu diam ketika Vano berganti jadi mengacak rambut gue dengan senyum gemas.
Dia gak sadar apa ya kalo gue sekarang lagi bete sama dia?
"Kamu gak mau masuk apa? Udah mau tengah malem lho,"
Gue bersidekap, menatap Vano masih dengan ekspresi kesal milik gue. Vano yang gue tatap seperti itu hanya bisa tertawa geli sembari mencubit pipi gue gemas. Bukannya salting atau gimana, gue malah tambah kesal.
Maksudnya apaan sih?
"Masalah Chika, nanti aku kasih tau ke kamu. Tapi gak sekarang ya? Mending kita have fun, gak usah pikiran hal kayak gitu. Tour cuman sekali doang lho, jangan sampe nyesel."
Gue mengangguk malas.
Bener juga sih apa kata Vano, tapi ya gara-gara Chika itu gue makin overthinking mengenai hubungan keduanya. Tapi karna masih tour, mending gue mikirin plan buat jalan-jalan besok deh. Bener kata Vano, harusnya gue having fun sekarang. Bukannya malah overthinking gak jelas.
Si Chika-chika itu bisa nanti aja, yang terpenting gue mau seru-seruan!!
Huft, tapi gue penasaran gimana donggg?????
"Udah masuk sana, besok harus bangun pagi. Jangan sampe telat lho ya."
Gue mengangguk mengiyakan. Menurut ke Vano apa salahnya, kan? Siapa tau gue ogah juga, tapi nurut aja lah.
Vano mengucapkan kata 'Good Night' sembari mengacak rambut gue sebelum pamit menuju kamarnya. Gue memandang punggung lebar cowok itu tanpa ekspresi.
Kayaknya gue malam ini emang musti overthinking deh.
Mari kita stalk dan cari tahu siapa itu Chika sebenarnya.
.
.
"Lho, tumben lo gak bareng anggota biskuat lo yang lain?"
"Berisik," ketus gue menanggapi pertanyaan dari Vinka.
"Napa sih lo? Lagi dapet ya?" Tegur Dina yang hanya gue balas dengan menggelengkan kepala, kembali fokus pada makanan gue. Tapi sepertinya kefokusan gue sirna karna Vinka tiba-tiba aja ngambil daging punya gue yang tersisa setengah.
"Minta dong, gue udah abis hehe" Kata Vinka sembari menyengir lebar kearah gue
Ck, udah abis aja baru bilang mau minta. Ngeselin banget.
"Untung gue baik," Balas gue sembari menatap Vinka sinis.
Sedangkan yang ditatap gak begitu menggubris, masih sibuk memakan makanannya dengan lahap. Gue berasa nonton acara mukbang, sumpah.
"Eh eh tau gak!?"
Kalo mau gosip tuh, pasti di awali dengan kalimat itu. Contohnya si Ghina. Dateng-dateng udah heboh sendiri. Sepanas apa sih gosipnya??
"Kenapa?" Gue yang udah risih sama kelakuan Ghina yang terus-menerus mau nge-spill tapi gak jadi-jadi. Belum tau apa ya dia kalo orang yang suka spill setengah-setengah pantatnya bakal kerlap-kerlip. INI BENERAN LHO YAAA KATANYA PANTATNYA BAKAL KELAP-KELIP KAYAK LAMPU DISKO.
Ghina memukul pelan bahu gue, "Jangan ngeliatin gue gitu dong, ntar gue baper nih!" Ucapnya yang terdengar sangat menyebalkan di telinga gue.
"Bego lo ah!" Semprot Olive pada Ghina.
Dina dan gue cuma bisa ketawa sambil hi five melihat Ghina yang udah merenggut kesal karna ucapan milik Olive. Baperan banget ih
Sebenernya mereka temen deket gue pas kelas sepuluh, cuman karna kita misah pas kelas sebelas, jadi jarang ngumpul lagi udah fokus sama temen-temen baru. Tapi untungnya Dina sama Vinka sekelas sama gue, kita jadi sering hangout lagi. Meskipun sesekali doang.
Sandy sama Gladys sebenernya lumayan akrab juga sama temen-temen gue yang lama ini. Cuman ya gitu, mereka mah temenan tuh gak milih milih. Semua anak disekolah dia jadiin temen. Makanya mereka akrab sama semua orang. Sinting emang. Kapan gue kayak mereka huft.
Udah back to topic deh.
"Spill cepet Ghin," pinta Olive yang udah gak sabar sama teh nya.
Ghina menghela nafas sebentar kemudian menatap gue dengan intens, "Gue denger tadi malem ada orang gitu yang ngomong, samar samar dia mau ada yang niat celakain lo, La. Dan kalian tau ya bikin gue gak percaya apa?" Ghina memotong ucapannya sendiri yang lantas membuat Dina yang dari tadi serius mendengarkan jadi ingin menjambak rambutnya.
"Dia tau fakta kalo lo itu nikah sama Vano,"
"Terus?"
"Dia anak baru cui, namanya Chika Anastasya Rahardian. Kalo gak salah dia maba yang di pindahin ke sini. Jurusannya gue kurang tau, kalo gak salah dia dari fisip."
"Bentar, kok nama belakangnya mirip sama punya Vano?" Bingung Dina dengan pandangan bingung.
Olive menganggukan kepala mengiyakan, karna sama-sama bingung. "Dia siapa nya Vano?" Gue mengangkat bahu menjawab pertanyaan dari Olive, fokus kembali ke makanan gue.
Tapi,
Gue jadi mendelik kearah Ghina, "Chika?" Tanya gue yang dibalas anggukan.
Gue berdecih lalu menatap mereka "Dia yang kirim surat, coklat, nelfon, bahkan dia ngaku ngaku pacarnya Vano..."
Olive jadi menepuk bahu gue.
"Tapi dia sepupunya Vano," lanjut gue.
Ghina keselek dan buru buru dikasih minum sama Dina. Kesian tapi pen ngakak muka dia lawak tjuy
"Anjir incest!?" Teriak Ghina.
Vinka ngebekep mulut Ghina yang emang pada dasarnya kayak kaleng rombeng "Gausah teriak juga bloon! Ntar ada yang tau gimana?" Omelnya yang membuat Ghina mengangguk menurut.
"Tau apa?"
"Anjir ngagetin aja lo!" Teriak Olive sembari melempar sendoknya kearah Ryan.
Betul, Ryan dateng-dateng ngagetin aja kek setan.
Sedangkan yang dilempari sendok mengerucutkan bibirnya, "Dosa apa sih gue sama kalian semua? Kemaren dipukul pake sepatu sama Stella sekarang dilemparin sendok sama Olive. Aku punya dosa apa sih sebenernya?!!"
Dina menoyor kepala Ryan yang tadi memekik dengan hiperbolis. Huh, sibling goals :)
"Mimpi apa gue punya saudara
kayak lo!?"
"Ngaca monyet! gue juga ogah anjir,"
Gue mengerutkan kening melihat Ryan. Kalo Ryan ada disini, terus Gladys dimana? Tumben banget Gladys ilang begini. Di culik wewe gombel apa gimana tuh anak?
Sandy mah pasti sama Mark, nah si Gladys bukannya sama Ryan? Tapi kok Ryan ada disini?
"Yan, Gladys mana?" Tanya gue
"Mana gue tau! Pagi ini gue gak liat liat dia. Gue kesini juga mau nanya ke elu, eh malah dilempar sendok" sindirnya.
"Bct u" sinis Olive.
"Bct 127" ujar Ghina.
"Bct dream" sambung Vinka.
"Bct jaeilyoung" Balas Dina gak mau kalah.
"Bct 2021" Final gue.
Terus kita ketawa ngakak tanpa perduliin Ryan yang udah nahan boker eh salah nangis. Kok nahan boker sih??? Aneh banget...
Alah cengeng banget sih Ryan.
Ada yang mau elapin ingusnya Ryan ga? Gue sih ogah.
Open PO nih gratis tanpa dipungut biyay eh biaya.
Ada yang mau?
.
.
Vano menatap gadis dihadapannya bingung. Tumben sekali seorang Gladys mengajaknya berbicara empat mata begini.
"Kenapa? Tumben banget," Tanya Vano.
Gladys menyerahkan sebuah plastik pada Vano, dengan dahi mengernyit, ia melihat isi dalam kantung kresek itu.
"Ini.. apa?"
"Liat nanti, pas di rumah gak ada Stella. Setelah lo liat ini, jangan kasih tau siapa pun. Tapi lo bisa kasih tau gue atau Ryan sih, yang lain jangan pokoknya."
Vano mengangkat alisnya "Apaan sih ini? Segala di rahasiakan segala?" tanyanya bingung.
"Ntar juga lo tau. nanti pas udah nonton itu, gue harap lo bisa nyusun skenario seolah-olah dia yang salah ya, biar makin uwah."
"Oke, nanti gue liat deh,"
Gladys tersenyum lebar sembari bertepuk tangan, "Emang lo paling the best!" soraknya dengan bahagia.
Sementara Vano sekarang berpikir keras, apakah ia bisa?
"Eeeh tapi inget, gak boleh ada yang tau kecuali gue sama Ryan" ancam Gladys.
"Hmm"
Keduanya langsung pergi dari tempat tadi dan berbaur bersama orang lain. Seakan kejadian tadi tak pernah terjadi.
Untungnya, tak ada yang memergoki keduanya. Vano dan Gladys bisa mengelus d**a mereka dengan lega.