Gue ngerasa ada yang aneh dari Vano sekarang ini. Ah, lebih tepatnya sejak pulang dari tour angkatan dua minggu kemarin. Sumpah, aneh banget.
Dia jadi sering pulang telat bahkan di kampus juga gak nyapa gue. Kayak orang asing setiap kali papasan sama gue. Di rumah juga gitu, tapi gak seaneh di sekolah sih, soalnya kalo di rumah masih suka nanya sesuatu gitu ke gue. Dan itupun bisa di hitung jari saking jarangnya. Karna cowok itu biasanya nyapa gue terus kalo ketemu, entah senyum atau cuman basa basi ngomong 'hai'
Gue sih curiganya mungkin dia takut orang-orang di fakultas tau kalo ternyata kita ini udah nikah. Ya tapi kan, orang-orang taunya kita cuman pacaran doang, ish. Kan gak seharusnya gitu lho dia tetep bersikap seperti di kampus?? Kalau sekedar gak nyapa ya gak papa, tapi ini cuekin gue juga lho??? Aneh banget. Wajar banget dong kalo gue marah?? Iyakan?? masa gue gak marah sih??? ya harus lah!
Gue masih bingung deh. Gue ulangi sekali lagi, harusnya cuman di sekolah dia bersikap kayak gitu, di rumah ya gak usah???? Mana di rumah dia malah sibuk sama hp dan laptop. Udah gue bilangin, dia tuh ngomong sama gue kalo ada perlu doang, kayak semisal barangnya yang hilang dan t***k bengeknya. SUMPAH GUE KESEL.
Sekarang malam minggu, biasanya dia bakal ngajakin keluar sekedar jalan-jalan atau gak kita rebahan seharian di kasur sambil pillow talk gitu. Tapi sekarang? Boro-boro deh. Main hape terus anaknya. Kalo gak main hp ya, mantengin laptop, ngerjain tugas.
Sebenarnya dari awal Vano main hp, gue curiganya sih dia lagi sibuk chattingan gitu... tapi sama siapa? Gak mungkin kan dia selingkuh? Ei, otak negatif gue jelek banget. Yakali Vano selingkuh. TAPI KAN BISA JADI?????
"Vano, kamu kenapa sih?"
Vano menatap gue datar "aku kenapa emang?" Gue mendengus kesal.
"Ya kamu aneh aja, belakang ini kok kayak cuekin aku gitu."
"Biasanya juga aku gitu. Tumben kamu komentarin sifat aku" balas Vano datar.
"Tapi kamu gak biasanya kayak gini!" Kata gue
Sumpah ya emosi gue sekarang. Dia kenapa sih?
"Ya terus aku harus gimana?!" Bentak Vano.
Gue hampir aja menangis mendengar bentakan Jeno. Gak Vano gak gini! Siapa sih yang bikin Vano jadi kayak gini?
"Vano.."
"Aku tuh kesel tau gak?! Sifat kamu yang kayak gini malah bikin aku tambah pusing!" Vano mengacak rambutnya kasar.
Mata gue berkaca kaca "kamu kenapa sih Van?? Aku capek!" Ucap gue meninggi.
"YA HARUSNYA AKU YANG BILANG! KAMU YANG KENAPA? KALO ADA MASALAH BILANG BUKANNYA MALAH NUDUH AKU YANG ENGGAK ENGGAK!"
"Aku benci kamu!"
.
.
"Aku benci kamu!"
Stella membanting pintu kamar setelah berucap seperti itu. Vano yang melihatnya hanya diam dan menatap kepergian Stella.
Tanpa ada minat mengejar atau menjelaskannya.
Tipe cowok b******k.
Tanpa perduli dengan keadaan istrinya, Vano malah asik sendiri bermain ponsel.
Entahlah, mungkin Jeno sudah cape menjadi good boy karna itu dia ingin menjadi bad boy.
Kekanakan sekali.
Bahkan ia tidak perduli dengan suara petir diluar yang menandakan akan turun hujan.
Tapi siapa sangka? Jika seorang Vano tidak perduli keadaan istrinya sekarang.
Yah, mungkin ia masih memiliki hati nurani. Karna sekarang ia terlihat sedikit khawatir. Sedikit.
"Oh, Chika?"
"Hmm. Aku besok jemput kamu oke?"
"Oke. Nanti aku kabarin besok"
"Enggak. Nanti aku anterin kok cuma berdua, gak boong."
"Good night too princess"
Sepertinya, dia memang akan menjadi lelaki b******k sesungguhnya.
.
.
Ting.. tong..
"Sebentar!"
Dengan tergesa, Theo menyudahi acara memasaknya dan membuka apron yang melekat ditubuhnya kemudian lari ke depan untuk membukakan pintu apartemennya.
Tumben ada tamu malam malam, hujan lagi.
"Siapa-- ASTAGA STELLA!"
Tamu itu ternyata Stella.
Dengan keadaan basah kuyup, baju yang lumayan tipis membuat siapa pun pasti merasakan bagaimana dinginnya air hujan yang mengguyur tubuhnya.
"Kak Theo.." lirihnya sebelum terjatuh dan tak sadarkan diri.
Theo yang panik langsung saja membawa gadis itu kedalam dan mendudukkannya di kasur. Ia ingat betul, jika Stella datang kemari itu berarti dia sedang mengalami masalah.
Jadi, dia cukup khawatir dengan keadaan adik sepupunya.
Tanpa pikir panjang, dia menelfon
Jay yang kebetulan calon dokter serta kamarnya hanya berbeda lantai dengan kamar
Theo.
"Jay, gece ke apart gue. Sekalian juga bawa si Sandy kalo bisa."
"Ganggu aja lo Yo, apaan sih?"
"Stella pingsan g****k! Ya gue gatau harus ngapain."
"Ya dibangunin lah g****k,"
"Udah jan ngomul. Cepetan kesini!"
"Otw"
Setelah sambungan teleponnya dengan Jay terputus, Theo menatap miris gadis yang kini tak sadarkan diri di ranjangnya.
Tapi ia lebih merasa miris pada kasurnya. Pasti basah, karna baju Stella. Yah apa boleh buat, nasib karna dia gak boleh gantiin baju Stella walaupun sepupu : )
.
.
"Hai kak Jay,"
Stella menyapa Jay yang kebetulan sedang sarapan di apartment Theo. Maklum, stok roti abis sama si Sandy buat di cemilin makanya sarapannya numpang di rumah Theo.
"Hm. Masih pusing?"
"Enggak juga sih, tapi aku mau ke kampus aja"
"Yaudah ntar bareng. Lagi pula kakak ada kelas sekarang."
Theo meletakan dua gelas s**u dimeja makan. Sedangkan dua gelas lainnya adalah kopi.
"Buset, lo mau sekolah atau nyabe anjir?" Ceplos Sandy yang kaget melihat penampilan Stella.
"Sandy, language please.." tegur Jay.
Sandy hanya mencibir.
Theo menggelengkan kepalanya "udah biasa. Paling jawabannya sama, mau fashion show"
Stella memutar bola matanya malas "Ke kampus juga harus pentingin fashion. Lagian gak ada yang ngelarang aku juga pake kayak gini," balasnya cuek.
"Vano ngelarang tuh." kata Sandy tanpa mengalihkan pandangan ke Stella karna masih fokus makan roti.
Stella terdiam cukup lama.
"Mungkin enggak, karna punya gebetan baru" ucapnya masa bodo.
Jay dan Theo saling melirik. Jay bertanya dengan tatapannya kearah Taeyong yang dibalas gidikan bahu.
"Jay, udah mau jam sembilan tuh." Peringat Theo.
Dengan panik, Jay memakan rotinya dengan sekali suapan kemudian meminum kopinya dengan tergesa-gesa.
Begitu pun Sandy.
Tapi tidak untuk Stella, dia biasa biasa saja. Atau mungkin dia sudah terbiasa.
"Yo, duluan ya.." pamit Jay.
"Kak Theo, nanti jemput aku di salon tante Wendy. Byee.."
.
.
"Telat anjing!" Maki Sandy begitu melirik pintu kelasnya yang sudah tertutup rapat.
Stella yang melihat Sandy komat kamit tak jelas hanya menatap gadis itu datar sembari mengunyah permen karet.
"Lo lewat pintu belakang aja. Gue lewat depan," kata Stella.
Sandy meringis "Ntar lo di ceramahi dosen gimana?" Stella menggeleng, tersenyum kecil.
"Udah biasa.."
Stella membuka pintu kelas, yang di hadiahi tatapan oleh orang-orang di dalamnya. Untungnya, sang dosen belum datang, jadi Stella aman-aman saja.
"Apa liat liat? Pada ngeliatin gue kayak gitu awas ntar suka lagi." ucap Stella datar.
Ryan yang melihat penampilan Stella yang berubah lagi ke mode model gagal hanya bisa menggerutu.
"Gak sanggup beli baju baru sampe bajunya ngetat gitu?" Sindir Widya.
Fyi, Widya itu mahasiswa yang tegas makanya cuma dia yang berani negur soal model baju Stella.
Dan mungkin karna Stella udah kebal dia cuma bisa nanggepin omongannya Widya dengan deheman.
Stella bergidik karna
Vano menatapnya tajam. Tapi untungnya ia dapat menutupi itu dengan berwajah datar. Tatapan Vano tentunya tak membuatnya gentar seketika. Jujur saja ia suka melihat tatapan suaminya yang menajam. Rasanya ia puas. Setidaknya Vano paham perasaannya sekarang.
"Puas?"
"Hooh puas banget." Balas Stella datar.
Gadis itu mendekat dan berdiri dihadapan Vano.
"Morning babe, gue rasa hari lo makin ganteng karna semalem abis berantem sama cewek lo sampe biarin dia kehujanan." Stella memainkan kancing kemeja Vano dengan senyum miring miliknya.
"Makasih juga udah bikin gue berubah kayak gini.." Gadis itu menarik kerah Vano hingga pemuda itu sedikit mencondongkan tubuhnya ke sisi kiri milik Stella.
"..tapi perasaan gue gak berubah kok tenang aja" bisik Stella.
Semuanya menatap Stella dan Vano kaku. Melihat adegan didepannya Ryan berinisiatif untuk memisahkan keduanya dan siap untuk menceramahi sahabatnya dengan panjang lebar. Tapi, Stella sudah duluan mundur sehingga ia mengurungkan niatnya. Gak enak dilihat orang-orang.
Semuanya menatap Stella tajam.
Sedangkan yang ditatap hanya bisa tersenyum polos dan menggidikan bahunya.
"Salah ya dimata kalian kalo gue cium suami gue sendiri?"
Bukan hanya mahasiswa di kelas yang terkejut karenanya, tetapi orang yang baru datang -telat juga- dan melihat kejadian tersebut juga mematung. Saling menatap dengan pandangan kaget. Khususnya bagi satu orang yang entah bagaimana bisa datang ke fakultas bisnis.
Stella menatap dan menyunggingkan senyum sinis. Kata siapa ia tak bisa jahat?
"Hai, Chika Anastasya Rahardian! Apa kabar hati lo?" Stella menyapa Chika dengan sumringah.
Oke semua orang pasti berpikir saat ini apa yang dilakukan Stella sangatlah kejam.
Vano menatap Chika dengan ekspresi kaku.
"Chika.."
Haduh, drama.