19. —Sisi Lain Tama

1490 Kata

“Maafkan ucapan Maha, ya, Nes?” “Hm?” Nesa mengerutkan keningnya, bukannya ia yang harusnya minta maaf karena sering membuat Tama datang kemari? Kenapa— Tama menghela napasnya, “Maha udah keterlaluan dengan bilang gitu.” Nesa menoleh, melihat Tama yang menengadah menatap langit-langit, dengan kepala disandarkan pada dinding di belakang mereka. Tama yang terlihat lelah dan marah. “Kamu gak pernah jadi benalu, Annesa Lidya.” Semua ucapan Maha yang sejak tadi berputar di kepalanya kini terasa lebih jelas. Nesa menggigit bibirnya. Sejak dibawa keluar dari rumah tadi ia menahan diri untuk tidak mengungkit apapun tentang hal itu. Apalagi setelah melihat Tama yang memukul bola dengan penuh tenaga seperti tadi. Selama beberapa waktu tadi, Nesa menutup mulutnya. Hanya membiarkan Tama melepas

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN