18. —Ayo Pergi

1305 Kata

“Mas,” Aish menyentuh lengan Maha. Suami Aish itu masih tak mau peduli pada pandangan semua orang padanya. Anteng menyendok nasi dari piring dan mengunyahnya dengan santai. “Mas belum minta maaf,” bisik Aish lagi. Agak mencondongkan tubuhnya dengan perut yang besar itu, Aish tersenyum saat wajah cantiknya mendekat pada Maha yang asik sendiri. Sejak Nesa memulai ucapan maafnya, lelaki itu masih fokus pada makannya. Sama sekali tidak terusik hanya karena ada yang menangis di seberang mejanya. Si dingin yang sebenarnya. “Aku udah minta maaf tadi,” Maha menjawab sambil mengangkat bahu tak acuh. Ia hanya melirik Tama yang sama sekali tidak melihat kepadanya. Kakak sulungnya itu bahkan hanya menunduk menatap Nesa. Harusnya sudah selesai, pikirnya tak mau ambil pusing. Benar-benar harus di

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN