Bab 005 - Pingsan

1221 Kata
Mendapat sindiran seperti itu membuat Gista meneruskan langkahnya menuju ke ruang make-up. Gista langsung melanjutkan make-up, dan selesai dengan baik. Kini Gista langsung dibawa keluar ruangan, dan dituntun oleh para bridesmaid. Untung-nya yang menjadi bridesmaid kebanyakan teman-teman Gendis yang sudah kenal Gista. “Kamu yang sabar, ya,” ucap salah satu bridesmaid itu. “Iya, Kak.” Kini prosesi resepsi pun dimulai. Gista yang memang tidak ikut latihan hanya bisa mengikuti arahan dari bridesmaid yang memang diperintahkan untuk memandu Gista. Tak lama dari arah yang berlawanan datang Sadewa dengan para groomsman. Mereka berjalan menuju ke arah mempelai wanita. Sadewa pun mengulurkan telapak tangan yang diterima oleh Gista. Akhirnya mereka berdua berjalan bersama menuju ke arah panggung megah itu. Selama berjalan pun Gista merasa sangat deg-degan sekali. Pasalnya panggung itu harusnya menjadi tempat bahagia Mbak Gendis dengan suami. Kini semua hancur karena sebuah takdir yang tidak terduga. Saat sudah sampai panggung, Sadewa dan Gista langsung dipersilakan duduk sebelum nantinya mengikuti serangkaian acara. “Senyum jangan cemberut,” sindir Sadewa ketika melihat ekspresi Gista tampak cemberut. Mendapat sindiran seperti itu membuat Gista langsung tersenyum lebar. Meski dipaksakan tetapi senyum itu mampu membuat hati Sadewa berdetak kencang. Tak lama mereka melakukan prosesi acara. Mulai dari acara yang disusun, sungkeman, dan foto bersama keluarga besar terlebih dahulu. Selesai dengan itu semua, Sadewa dan Gista dipersilakan berdiri untuk menerima tamu yang akan memberikan ucapan selamat. Tak diduga-duga jika tamu undangan sudah berbaris rapi panjang di bawah panggung untuk bersalaman. Gista yang melihat barisan para tamu merasa syok luar biasa. Setahu Gista jika salah satu keluarganya hajatan tidak sebanyak ini mengundang para tamu. Paling banyak 200 orang, dan ini sepertinya lebih. “Ini berapa tamu undangan?” tanya Gista, melirik sekilas ke arah Sadewa. “Sepuluh ribu.” Gista langsung melongo tidak percaya dengan ucapan Sadewa barusan. Kalau sepuluh ribu undangan kapan kelarnya ini resepsi. “Banyak banget. Kapan kelarnya ini?” “Bukannya saya sudah mengatakan jika acara ini akan selesai jam satu malam? Sepuluh ribu akan dibagi menjadi empat gelombang. Awas saja kalau pingsan! Suruh makan susah!” Dibentak dengan suara geraman seperti itu membuat Gista langsung mengkerut kembali. Perempuan itu akhirnya kembali fokus menatap ke depan. “Selamat Sadewa, Gendis. Semoga menjadi keluarga yang samawa, ya. Foto dulu dong,” kata salah satu tamu yang tidak Gista kenal sama sekali. Kini Gista tersenyum manis di depan layar ponsel perempuan yang meminta foto itu. Tak lama disusul di belakangnya yang memberikan ucapan selamat dan meminta foto seperti biasa. Acara terus berlangsung seperti itu. Memberikan ucapan selamat dan berfoto. Telapak tangan Gista bahkan terasa sakit dan nyeri. Terlebih telapak tangannya ada bekas luka yang sudah diplester. Tubuh Gista yang akan limbung langsung dipegang erat oleh Sadewa. Pria itu sudah memperhatikan lama gerak-gerik istrinya yang tampak akan terjatuh. “Duduk dulu aja,” kata Sadewa, memerintahkan Gista. Kaila menggeleng sebagai jawaban. “Tamu-nya masih banyak.” “Istirahat sebentar. Kamu mau minum?” Gista mengangguk sebagai jawaban. Kini Sadewa meminta pembawa acara untuk menghentikan sebentar acara salaman. Sadewa pun meminta minum untuk Gista. Kini pria itu membuka botol air mineral dan menyerahkan kepada Gista untuk diminum. Tak disangka-sangka satu botol berisi 500ml langsung habis. “Kalau haus dan lapar bilang saja.” “Lanjut saja biar cepat selesai.” Sadewa tersenyum tipis ketika melihat ekspresi sewot Gista yang justru tampak lucu menurutnya. Kini akhirnya Sadewa menyuruh pembawa acara untuk lanjut. Tak disangka-sangka, tamu yang naik ke atas panggung itu Elang Dananjaya—kekasih dari Gista. Tatapan Elang dan Gista tak luput dari pengamatan Sadewa. “Selamat,” ucap Elang kepada Sadewa. Kini langsung beralih ke arah Gista, dan bersalaman dengan penuh tatapan cinta sekaligus sakit hati. “Bee, aku akan selalu ada untuk kamu dan nunggu kamu,” ucap Elang, dan semua itu didengar jelas oleh Sadewa. Tentu saja mendengar itu membuat kedua telapak tangan Sadewa mengepal kuat karena menahan emosi. Bahkan rahangnya yang tegas kini tampak jelas tengah mengeras kuat. “Mohon maaf, antrian panjang jadi kalau mau meminta foto silakan dan segera bergantian,” sindir Sadewa, mencoba mengusir halus kekasih Gista itu. Elang yang disindir langsung pergi begitu saja setelah bersalaman dengan Gista. Tak disangka-sangka jika Elang memberikan tisu saat bersalaman tadi. Gista yang sadar akan hal itu mencoba bersikap biasa saja. Terlebih di sampingnya ada Sadewa—pria galak dan tukang marah-marah. Kini Gista terus melanjutkan salamannya dengan bibir yang terus tersenyum. Saat Sadewa minta istirahat sekitar lima belas menitan, Gista mencoba duduk dan membuka tisu itu perlahan-lahan. Kedua bola matanya langsung melotot begitu sempurna ketika di dalam tisu itu ada tulisan Elang yang membuat Gista buru-buru segera melipatnya kembali. Isi tulisan Elang kurang lebih seperti ini. ‘Setelah acara ini selesai, jangan lupa datang ke kamar 1122. Aku tunggu kamu di sana, Bee’ Tidak mau ketahuan Sadewa, Gista membuang tisu itu ke samping kursi tempatnya duduk. “Mau minum lagi?” tawar Sadewa, lembut. Gista menggeleng menolak. Hatinya masih deg-degan. Takut jika Sadewa tahu isi tulisan itu. Tetapi sepertinya Sadewa tidak tahu karena sibuk mengobrol dengan papa-nya tadi. Acara pun dilanjut hingga sampai waktu yang ditentukan. Gista yang memang tidak makan apapun dari pagi, kini mulai merasakan sakit perut. Parahnya mual-mual dan tubuhnya terasa meriang. “Hoek!” “Kamu kenapa?” Gista menggelengkan kepala. “Tidak apa-apa. Hanya pusing saja.” “Acara sudah selesai. Kita bisa kembali ke kamar atau kamu mau makan dulu bareng keluarga di sana?” “Aku mau istirahat saja.” “Ya sudah kalau itu mau kamu. Saya ada acara sama teman-teman. Saya mau menemui mereka dulu. Kamu gapapa sendirian?” Gista mengangguk sebagai jawaban. Dan, Sadewa pun tersenyum manis kepada Gista untuk yang pertama kali. Bahkan mengusap kepala Gista lembut. Tak disangka-sangka ketika Sadewa baru memutar tubuhnya, tubuh Gista langsung limbung. BRUK! Sadewa yang mendengar suara itu cukup keras langsung menoleh, dan panik melihat Gista sudah jatuh pingsan. Untung acaranya sudah selesai. Hanya tinggal beberapa orang saja yang masih bertahan untuk menikmati hiburan malam. Biasanya acara ini dinikmati kaum muda, dan memang benar jika yang bertahan hanya teman-teman Sadewa. “Gista!” seru Sadewa, panik. Kini pria itu langsung membopong Gista. Dan, tak lupa mengambil tisu yang dibuang Gista barusan untuk ditaruh di dalam saku jas-nya. Orang yang melihat Gista pun menjerit histeris karena takut terjadi sesuatu. Sedangkan Sadewa sendiri langsung berlari cepat keluar ballroom menuju ke kamar pengantin. Kedua orangtua Gista yang sudah memilih istirahat tidak melihat kejadian ini. Jika melihat sudah dipastikan akan menjerit histeris karena teringat dengan kejadian pagi tadi. Sedangkan kedua orangtua Sadewa masih menikmati acara ini dengan makan bersama keluarga. Tetapi Sukma yang melihat langsung segera menyusul anaknya keluar ballroom. Sukma Rianti—Mama dari Sadewa langsung menelepon dokter. “Sayang, bukain semua pakaian istri kamu. Dia butuh pasokan oksigen.” “Seriusan dibukain semua, Ma?” tanya Sadewa, memastikan perintah Mama-nya. Sukma mengangguk. “Iya, cepetan! Lagian sudah suami istri itu wajar melihat satu sama lain. Tubuh Gista itu sudah menjadi hak kamu.” Sadewa yang mendengar petuah dari Mama-nya merasa bingung sendiri. Lagi-lagi pria itu menelan salivanya sendiri ketika akan membuka pakaian Gista. Lagipula ini hal pertama kali dirinya membuka pakaian seseorang. Terlebih ini lawan jenis. “Cepetan Sadewa! Kamu mau istrimu sesak napas?!” “Oke, Ma.” Akhirnya Sadewa mengerjakan itu dengan cepat meski telapak tangannya sedikit gemetar ketika menyentuh pakaian Gista dan akan melucutinya sekarang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN