Bab 004 - Resepsi

1211 Kata
Tak ingin orang lain tahu, Gista yang selesai menangis langsung segera membereskan pecahan lampu tidur itu dengan telapak tangannya. Mengingat serpihan beling sangat banyak, telapak tangan Gista terluka. Buru-buru perempuan itu segera pergi menuju ke dalam toilet untuk membasuh tangan yang mengeluarkan darah segar. Tak bisa berhenti membuat Gista segera mencari cara lain. Perempuan itu menarik gulungan tisu toilet yang sangat begitu banyak untuk membuat perban di telapak tangannya. Teet! Teet! Teet! Mendengar suara bel pintu membuat Gista segera buru-buru keluar kamar mandi dan membuka pintu. Gista sungguh terkejut ketika yang datang ternyata petugas hotel—disuruh untuk membersihkan kamar oleh Sadewa. “Permisi, Nyonya. Kami diminta Tuan Sadewa untuk membersihkan kamar ini tadi.” Gista pun langsung diam membisu dan mempersilakan petugas kebersihan itu untuk melanjutkan sisa pekerjaannya barusan. Setelah selesai, tak lama terdengar bel dan lagi-lagi dari petugas hotel yang mengantar makanan untuknya. Gista hanya mempersilakan tanpa berniat ingin memakannya. Lagipula dalam suasana berduka seperti ini siapa juga yang ingin makan. Semua makanan pasti akan susah ditelan dan terasa berhenti di tenggorokan. “Ini buka kebaya-nya bagaimana? Mana kancingnya banyak banget dan posisinya di belakang lagi,” gumam Gista, kebingungan. Apalagi saat ini baju ganti dan ponsel miliknya berada di ruang make-up bawah. Sedangkan kamar khusus pengantin berada di kamar paling atas. Terpaksa Gista akan turun ke bawah mengambil tas yang berisi pakaian dan juga ponsel miliknya. Tetapi aksinya itu ketahuan Sadewa. Pria itu menatap tajam ke arah Gista yang sudah berhasil membuka pintu. “Masuk!” titah Sadewa, tegas. Gista yang memang memiliki jiwa manja sekaligus penakut akhirnya menuruti untuk mundur. Tetapi jangan salah jika perempuan ini juga diam-diam pembangkang sekaligus nakal. “Mau ke mana?” “Bukan urusan kamu.” “Saya tanya baik-baik!” “Bisa enggak, sih, jangan bentak-bentak terus,” balas Gista, mulai bergetar bibirnya—pertanda ingin menangis. “Nangis eh! Bisa tidak jangan nangis terus! Saya pusing dengar orang nangis!” Air mata Gista sudah banjir melewati pipinya yang putih bersih. Entah kenapa hanya dengan omongan saja rasanya sudah sakit sekali. Sadewa yang dikenal pendiam ketika menjadi pacar Mbak Gendis, ternyata aslinya galak seperti harimau. Pantas saja Mbak Gendis suka menangis malam-malam. Mungkin karena suka dibentak-bentak. “Kamu tuh enggak saya apa-apain tapi nangis. Itu makanan kenapa masih utuh? Memangnya enggak lapar? Acara resepsi itu akan berlangsung lama nanti. Selesai pukul satu malam! Makan buat isi tenaga kamu.” Gista menggeleng menolak. “Aku enggak mau makan!” “Terserah! Yang lapar juga kamu sendiri.” Sadewa akhirnya langsung segera pergi ke kamar mandi. Akan tetapi kembali keluar karena di dalam kamar mandi menemukan banyak sekali tisu bekas darah yang tergelatak di meja wastafel. “Tisu bekas darah apa itu?” Gista yang sedang duduk di atas ranjang hanya diam saja saat ditanya. Tidak memedulikan ucapan Sadewa. Gista kesal sekaligus sebal. Merasa jika perempuan itu sengaja memancing emosinya, Sadewa pun tersenyum menyeringai. Dengan cepat Sadewa langsung membuka kemeja putih yang digunakannya itu di depan Gista. “Eh! Mau apa? Kenapa buka-buka baju di sini? Sana di dalam kamar mandi.” “Tadi bisu enggak jawab pertanyaan saya? Tisu bekas apa itu?” Gista langsung menyodorkan telapak tangan miliknya yang terkena serpihan beling lampu tidur. Sadewa yang melihat itu langsung segera berjalan menuju ke arah lemari dan mengambil kotak p3k yang memang disediakan pihak hotel. Sadewa kini duduk di samping Gista. Menarik lengan tangan yang terdapat luka. Sadewa mengobati luka itu dan memberikan plester di telapak tangannya. “Saya sudah kirim orang untuk membersihkan kenapa tanganmu terluka?” “Kelamaan! Aku duluan yang membereskan.” “Sok jagoan!” “Awww, sakit tahu!” omel Gista, ketika jari-jemari Sadewa menekan telapak tangannya kuat. “Penyiksaan banget,” imbuhnya mendumel. Sadewa sendiri memilih diam, dan sibuk menaruh kotak p3k itu di tempat semula. Sadewa kini melanjutkan membuka kemeja putih miliknya di depan Gista. Perempuan itu langsung membuang muka ketika tubuh atletis Sadewa tampak terpampang nyata di depannya ini. Tak dipungkiri jika Sadewa memiliki tubuh yang maskulin serta sangat atletis. Bagian perutnya bahkan tercetak otot-otot yang digambarkan seperti roti sobek. Tak hanya itu saja, bagian d**a-nya juga sangat lebar. Lengan tangannya pun berotot di tempat-tempat yang semestinya hingga perawakan Sadewa ini sangat dikagumi oleh kaum hawa. Ditambah tampang pria ini yang memang sangat tampan. Kurang lebih dua puluh menitan, Sadewa keluar dengan handuk yang melingkari bagian pinggangnya. Gista yang melihat itu langsung membuang pandangan ke arah jendela. “Kamu enggak mandi?” tanya Sadewa, lembut. “Pakaian aku ada di ruang make-up.” Tak membalas ucapan Gista, Sadewa langsung segera berjalan menuju ke meja nakas untuk menelepon seseorang. Gista yang mendengar jika Sadewa memerintahkan seseorang untuk mengambil segala keperluan miliknya itu merasa sedikit kagum akan tindakan pria itu. “Nanti ada orang yang akan mengantar barangmu ke sini. Saya pergi dulu karena ada makan bersama keluarga. Kalau kamu mau ikutan cepetan mandi.” “Enggak!” tolak Gista, cepat. “Ya sudah kalau begitu. Saya enggak kembali ke kamar ini lagi sampai selesai resepsi. Nanti kamu langsung ke ruang make-up saja. Kita ketemu di ballroom hotel untuk resepsi,” ucap Sadewa, panjang lebar dan segera pergi meninggalkan Gista. Gista yang ditinggal Sadewa hanya bisa menatap sedih. Apalagi sikap pria itu sangat dingin kepadanya. Gista yang tidak suka sejak dulu semakin tidak suka. Kini yang dilakukan Gista hanya menunggu orang suruhan Sadewa itu. Gista ingin meminta tolong dibukakan kebaya miliknya agar bisa mandi dan segera pergi ke ruang make-up khusus pengantin. Jika tadi ia dimake-up di ruang keluarga mempelai perempuan. *** Tiba di mana Gista dirias secantik mungkin malam ini. Tema yang diusung pun ala princess modern. Saat Sadewa masuk ke dalam ruang make-up, pria itu sempat terkagum-kagum akan kecantikan dari Gista—perempuan yang sangat jelas dan ketara tidak menyukainya sejak awal bertemu. Kini Sadewa duduk di sebelah Gista. Pria itu melirik dan menatap ke arah cermin besar yang di depannya. Tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata Gista yang sama-sama tengah menatap ke cermin. Sadewa tersenyum kecil, tetapi Gista langsung menoleh ke samping—menatap Sadewa dengan tatapan yang sulit diartikan. Tak disangka-sangka, Sadewa pun ikut menoleh. Keduanya saling tatap-tatapan hingga terdengar suara ketukan pintu yang membuat semua orang di dalam ruangan heboh sendiri saling menyuruh untuk membuka pintu. Ceklek. “Saya mau ketemu Gista. Apa Gista-nya ada?” “Maaf anda siapa, ya?” tanya salah satu tim tata rias yang membuka pintu. “Elang.” Di dalam ruangan, Gista mendengar suara itu dan segera berdiri untuk menemui Elang. Kini Gista mengusir tim tata rias itu untuk pergi. Gista sendiri membawa Elang menjauh dari ruangan yang membuatnya tersiksa lahir batin. “Aku rasanya sakit banget, Bee,” ujar Elang, memegang dadanya sendiri. Melihat kekasihnya sakit hati membuat Gista merasa sangat bersalah. Perempuan itu segera memeluk Elang dan menenangkannya. “Kamu yang sabar ya, Boo. Ini semua akan segera berakhir. Lagipula hanya kamu pria yang aku cintai. Kita berdua akan melewati ini bersama-sama.” Elang mengangguk, dan mengusap kepala Gista lembut. Gista bahkan langsung pamit pergi karena harus segera ke ballroom untuk menerima ribuan para tamu. Ketika baru berjalan di belokan, Gista terkejut karena mendapati Sadewa berdiri di sana. Gista yang merasa canggung pun langsung memelankan langkah kakinya. “Kuharap kamu bisa mengerti posisi dan situasi,” ujar Sadewa, datar tetapi penuh makna tersirat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN