Bab 003 - Ijab Qobul

1434 Kata
Elang bahkan semua orang tidak menyangka dengan keputusan Gista barusan. Elang pun langsung berjalan cepat menuju ke arah Gista. “Bee, kamu bercanda?” Gista menggeleng sebagai jawaban. “Aku serius, Elang.” “Terus bagaimana dengan hubungan kita kalau kamu setuju nikah sama pria itu?!” Gista menangis. Ia juga bingung soal hubungannya dengan Elang. Apalagi ia dan Elang sudah cukup lama menjalin kasih. Empat tahun. Waktu yang cukup panjang untuk melewati semua ujian dan cobaan selama berpacaran. Dan, inilah ujian terberat dan hal yang tidak diduga sama sekali. “Kita bisa putus kalau kamu mau.” “Enggak! Aku enggak mau, Bee! Kamu pikir waktu empat tahun untuk merajut kasih ini sebentar? Lama, Bee! LA-MA! Bahkan sudah banyak ujian yang kita lalui bersama selama empat tahun ini. Dimana kita berdua sama-sama masih memakai seragam abu-abu saat itu sampai nanti kita akan lulus kuliah bersama. Memangnya kamu lupa cita-cita kita berdua, hm?” Gista menggelengkan kepala, dan terus menangis. “Aku tidak akan pernah lupa, Elang. Tapi bagaimana dengan Ayah aku? Sebagai anak rasanya tidak tega melihat Ayah-nya diancam seperti itu.” Elang yang sama-sama pusing akhirnya menjerit lantang. Kedua tangannya menjambak rambutnya sendiri dengan frustrasi. “s**t! Kenapa jadi begini kondisinya, hah! Kenapa!” teriak Elang, frustrasi. Teguh yang melihat putrinya berdebat pun langsung segera menghampiri. Dipeluknya tubuh Gista dan Elang di dalam dekapannya. Mereka berdua menangis bersama bahkan Teguh pun ikut menitikan air matanya. “Kalian masih bisa tetap bersama. Pergilah ke manapun. Ayah akan hadapi ini semua.” “Enggak, Yah! Gista akan menemui keluarga Sadewa untuk membicarakan ini. Gista akan meminta surat perjanjian atas pernikahan konyol ini.” “Perjanjian? Memangnya perjanjian apa?” “Gista mau buat surat perjanjian di mana Sadewa tidak boleh menyentuhku. Kita hanya menikah di atas kertas! Lagipula nama yang terdaftar itu nama Mbak Gendis bukan aku! Jadi pernikahanku dan Sadewa hanya pernikahan siri nantinya. Aku juga akan membatasi waktu pernikahan ini hanya tiga bulan saja!” Teguh tampak ragu ketika mendengar ucapan sang putri. “Kamu yakin? Klan Rajata itu terkenal sangat licik sayang. Dia itu pandai memanipulasi keadaan. Ayah takut kamu yang bakalan terjebak nantinya.” “Enggak akan, Yah. Gista pasti akan bisa menghancurkan Klan Rajata. Keluarga yang tidak memiliki empati sedikitpun di saat kondisi seperti ini.” “Kalau memang itu keputusanmu. Ayah hanya bisa mendukung saja. Ayah juga minta maaf karena semua ini gara-gara Ayah.” Gista menggelengkan kepala tidak setuju kalau semua ini karena ayah-nya. Lagipula apapun yang terjadi hari ini pasti ada hikmah didalamnya. Kini Gista menatap Elang. Memohon kepada kekasihnya itu untuk mengizinkan pernikahan sandiwara ini. Elang pun akhirnya mengangguk setuju karena posisinya tidak bisa berbuat banyak. Apalagi untuk menolong calon mertuanya pun tidak bisa. Elang bukan keluarga kaya raya yang banyak uang, jadi mendengar nominal utang calon mertuanya membuat sesak napas. “Janji untuk tidak memberikan hak apapun kepada pria itu?” Gista mengangguk sebagai jawaban. “Janji. Aku akan memberikan mahkotaku untuk kamu nanti.” Elang dan Gista langsung berpelukan di depan Teguh. Bahkan Elang berani mencium Gista singkat sebelum perempuan di depannya ini menjadi istri orang. Mendengarnya saja sudah membuat hati sakit. Lalu bagaimana nanti menjalani hari-hari dengan status baru dari Gista? “Kita masih pacaran, kan?” tanya Elang, memastikan. “Masih. Sampai kapanpun kita akan selalu bersama meski statusku menjadi istri Sadewa. Kamu tenang saja karena pernikahan ini dilakukan hanya di atas kertas saja bukan cinta.” “Aku percaya, Bee.” “Aku cinta kamu, Elang Dananjaya.” Mereka berpelukan kembali sebelum Gista benar-benar dirias seperti selayaknya seorang pengantin. Tak lupa juga Gista memeluk ayah dan ibunya sebelum benar-benar akhirnya ia menikah. Hal yang tidak pernah terduga sama sekali sebelumnya. Bahkan untuk menikah dengan Sadewa tidak ada gambaran sedikit pun di dalam khayal-nya. Gista hanya membayangkan menikah dengan Elang saja selama ini, dan itupun masih sangat lama. Gista ingin menikah diusia 28 tahun bukan 22 tahun seperti ini. Persetan soal statusnya yang janda nanti. Ia melakukan ini demi keluarga. *** Tibalah waktunya acara ijab qobul akan segera dimulai. Alleandra Sadewa Rajata kini tampak siap menjabat tangan Teguh Bramawijaya. Untuk acara ijab qobul sendiri sengaja dibuat privat. Klan Rajata hanya mengundang keluarga dekat, dan kerabat dekat saja untuk acara ini. “Gendis cantik banget,” puji salah satu kerabat dekat Klan Rajata. Orang itu baru pertama kali melihat calon anggota keluarga baru Klan Rajata. Selama ini sikap Sadewa selalu misterius. Gista yang sudah dirias secantik dan sepangling mungkin hanya diam, dan sesekali tersenyum tipis sebagai rasa menghormati. “Semua siap?” tanya Pak Penghulu itu. Sadewa mengangguk siap. Dan, Teguh pun ikut mengangguk meski sedikit berat dan kasihan dengan Gista. Penghulu pun langsung mempersilakan Teguh dan Sadewa berjabat tangan sebagai acara prosesi ijab qobul. “Bismillahirohmanirohim. Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Alleandra Sadewa Rajata bin Aryo Bima Rajata dengan anak saya yang bernama Titania Gista Bramawijaya dengan maskawin berupa alat sholat dan cincin berlian sepuluh gram tunai!” “Saya terima nikahnya dan kawinnya Titania Gista Bramawijaya binti Teguh Bramawijaya dengan maskawin tersebut, tunai!” “Saksi, sah?” tanya penghulu kepada para saksi. “SAH!” Semua orang langsung bernapas lega, dan penghulu itu segera mengucapkan doa. Orang yang berada di prosesi ijab qobul pun merasa terharu. Meski ada beberapa kerabat yang bingung ketika Sadewa menyebutkan nama Gista bukan Gendis. Namun, hal itu tidak membuat mereka berlarut-larut penasaran karena pasti Klan Rajata akan memberikan penjelasan. Sadewa sendiri hanya tersenyum tipis saja ketika acara ijab qobulnya berjalan lancar. Bahkan, ketika selesai berdoa. Gista datang dan duduk di sebelah Sadewa untuk dipasangkan cincin maskawin dan cium tangan pertama kali. Meski sakit dan sedih, sebisa mungkin Gista tidak menangis. Kini Gista dan Sadewa akhirnya melakukan tukar cincin. Yang membuat Gista heran, cincin yang dipasangkan sangat pas di jari manisnya. Setahu Gista ukuran jari tangan miliknya dan Mbak Gendis berbeda. “Silakan istrinya dicium,” kata Pak Penghulu itu. Sadewa pun sedikit ragu-ragu ingin melakukan ini. Apalagi bisa dilihat ekspresi wajah Gista yang tidak bahagia. Sadewa tahu kalau adik almarhumah Gendis pasti akan seperti ini. Bahkan ketika Sadewa berkunjung ke rumahnya dan ingin menjemput Gendis untuk pergi, Gista selalu saja menatapnya judes. Ditambah meminta dibelikan berbagai macam jajan kepadanya. Mengingat itu membuat Sadewa terkekeh kecil di dalam hati. Dan, tak lama Gista memejamkan mata. Sadewa yang mendapatkan izin langsung mencium kening Gista untuk pertama kali. Bahkan, ini sentuhan pertama kali Sadewa dan Gista selama kenal. Selesai mencium kening, Gista segera mencium punggung telapak tangan Sadewa. Setelah selesai, mereka langsung foto berdua dan disusul bersama beberapa saudara. Merasa sudah selesai acara ijab qobul, mempelai pengantin langsung dituntun ke kamar khusus pengantin. Di sana kamarnya sudah dihias seromantis mungkin. Gista saat masuk hanya menatap sedih. Ranjang pengantin yang banyak bertaburan bunga mawar merah dan putih tampak terlihat indah. Gista melihat ranjang itu langsung teringat akan sesosok kakaknya yang meninggal sekitar empat jam lalu. Ceklek. Gista langsung menoleh ke arah pintu. Ditatapnya sesosok Alleandra Sadewa Rajata itu yang tampak tidak menunjukkan rasa kesedihannya sama sekali. Padahal kalau kehilangan orang yang dicintai itu akan sangat frustrasi. Tapi anehnya Alleandra Sadewa Rajata tampak biasa-biasa saja. “Kamu atau aku dulu yang mandi?” Mendapat pertanyaan itu membuat Gista merasa kesal sendiri dengan pria yang seharusnya menjadi kakak iparnya. Kenapa juga sekarang menjadi suami. Benar-benar takdir ini kalau bercanda enggak lucu. “Enggak usah sok perhatian! Lagipula pernikahan ini akan berlangsung sebentar saja. Aku mau kita membuat surat perjanjian di sini. Aku mau menikah selama tiga bulan saja dan setelah itu kita hidup masing-masing. Dan, seharusnya kamar ini tuh milik Mbak Gendis. Bagaimana bisa aku yang berada di kamar sialan ini!” Gista menangis tergugu, bahkan tidak memedulikan riasan wajahnya yang akan berantakan kembali. Lagipula acara resepsi akan dimulai dua jam lagi. Dan, tak disangka-sangka jika Sadewa langsung meninju lampu tidur dengan keras hingga terjatuh dan berserakan pecahan belingnya. “Aku juga enggak mau kejadiannya seperti ini! Kamu pikir aku enggak sedih kehilangan Gendis?! Aku terus berusaha tetap tampil baik-baik saja meski hatiku terluka!” balas Sadewa, membentak Gista. Kini pria itu langsung pergi dari kamar pengantin yang tampak berantakan karena ulahnya. Parahnya Sadewa sampai membanting pintu ketika ingin menutup dari luar. Gista yang masih menangis pun semakin tergugu. Apalagi ia tidak biasa dibentak-bentak seperti ini. Elang yang sudah pacaran dengannya selama empat tahun tidak pernah membentak sedikit pun. Ayah-nya bahkan sangat lembut dalam bertutur kata dengannya. Semua orang di sekitarnya selalu lembut sekaligus memanjakan dirinya. Akan tetapi tadi Sadewa telah membentaknya kencang, dan semua ini membuat hati Gista hancur. “Kenapa Mbak Gendis bisa jatuh cinta sama pria kasar ini, sih?!” gerutu Gista, terus menangis dengan tergugu
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN