Bab 002 - Pengantin Pengganti

1148 Kata
Mendengar permintaan konyol dari keluarga mempelai pria membuat Gista merasa kesal sekaligus jengkel. Bagaimana tidak? Bisa-bisanya di situasi sedang berduka seperti ini, tetapi mereka malahan meminta lanjut soal pernikahan ini. Benar-benar tidak punya hati sama sekali. Gista yang sudah memiliki kekasih pun tentu menolak dengan tegas. Bahkan Gista merasa dendam kepada keluarga Klan Rajata ini. “Saya tunggu keputusannya tiga puluh menit lagi,” ucapnya kemudian langsung pergi dari ruang make-up pengantin. Sarmila yang masih merasa sedih atas kehilangan sang putri kini harus dihadapkan situasi yang sulit. Dilihatnya sang anak bungsu yang tampak sedang duduk menyendiri di pojokan ruangan. Tak hanya itu saja, Sekar pun menoleh ke kiri di mana ada Elang Dananjaya—kekasih dari Gista putrinya. Jujur saja situasi ini membuat kepala Sarmila ingin pecah. Untungnya tak lama dari itu datang sang suami yang baru selesai dari prosesi pemakaman sang anak. Sarmila dan Gista tidak ikut karena takut pingsan nantinya. Teguh Bramawijaya—Ayah dari Gendis dan Gista langsung segera duduk di samping Sarmila. Ikut melamun atas kepergian sang putri. “Gimana proses pemakamannya?” tanya Sarmila, merasa sakit. Apalagi ia tidak ikut ke proses pemakaman. “Alhamdulillah lancar. Semua prosesnya sangat benar-benar singkat. Saat dibawa ke rumah sakit ternyata Gendis sudah tiada.” Sarmila menangis kembali, Teguh pun langsung memeluknya erat. “Semua sudah takdir-Nya. Kita harus ikhlas,” imbuh Teguh, menenangkan Sarmila. “Tapi Gendis tidak punya sakit jantung, Yah. Kenapa bisa dia mendadak sakit jantung?” “Entahlah, Bu. Dokter sudah memeriksanya dan menyatakan jika Gendis sakit jantung. Pak Aryo pun tadi telepon untuk langsung segera dimakamkan karena pernikahan akan tetap lanjut.” “Tadi dia juga barusan ke sini. Dia mengatakan hal yang sama.” “Jadi Sadewa sudah ada calonnya lagi?” Sarmila mengangguk pelan, dan menatap ke arah Gista yang tengah melamun. “Ya.” “Sukurlah. Ayah benar-benar tidak enak dengan Pak Aryo. Tapi, memangnya siapa perempuan yang mau menggantikan posisi Gendis? Secara Sadewa sudah berpacaran satu tahun dengan Gendis.” Sarmila menunjuk ke arah Gista yang tengah duduk di pojokan ruangan dengan wajah yang tampak sembab. Teguh sendiri mengikuti arah telunjuk istrinya dan terkejut. “Gista? Maksudnya?!” Sarmila menangis dan memukul d**a suaminya kencang. “Pak Aryo minta Gista menjadi mempelai wanitanya, Yah. Kita harus bagaimana? Dia menunggu keputusan kita selama tiga puluh menitan lagi.” Teguh menggeleng tidak setuju. Teguh tidak tega dengan nasib Gista yang menjadi tameng keluarganya. Apalagi Gista sudah memiliki pacar dan masih kuliah juga. “Gista masih kecil, dan dia sudah punya pacar, Bu. Bagaimana dengan perasaan Elang nanti?” “Entahlah, Yah. Ibu stress. Kita juga tidak bisa apa-apa karena semua ini yang membiayai keluarga Pak Aryo. Dia yang punya wewenang atas pernikahan ini. Dia bahkan masih tetap ngotot ingin melanjutkan pernikahan di situasi berduka seperti ini.” Teguh mengusap wajahnya sendiri dengan kasar. Kini dengan tegas Teguh segera berjalan pergi menuju ke ruangan khusus mempelai pria. Teguh mengetuk pintu terlebih dahulu, dan segera masuk ketika mendapatkan izin dari dalam. “Halo, Pak Teguh,” sapa Aryo, tersenyum semringah. “Turut berduka cita, tapi maaf tadi tidak ikut ke pemakaman,” imbuhnya lirih agar tampak sedih. “Tidak apa-apa. Lagipula ini juga perintah Bapak sendiri untuk segera dimakamkan secepat mungkin. Padahal saya ingin membawa jenazah Gendis ke rumah terlebih dahulu agar banyak yang melayat.” “Aduh saya minta maaf Pak Teguh. Saya tidak bermaksud soal ini. Setahu saya jika ada yang meninggal sebaiknya cepat dimakamkan. Maaf, saya hanya bisa kirim tim untuk membantu.” Teguh tersenyum getir. Aryo—calon besan sekaligus atasannya di kantor memang benar-benar mengirim tim yang sangat cekatan. Mulai dari membantu di rumah sakit hingga ke proses pemakaman yang dilakukan sangat singkat. Seperti sudah firasat atau memang disiapkan? Entahlah. “Di sini saya mau bicara dengan Pak Teguh. Saya tidak mungkin membatalkan pernikahan megah ini. Sudah banyak uang yang saya keluarkan untuk sampai ke titik ini. Maka dari itu tidak ada yang boleh tahu kalau Gendis meninggal. Kita lanjutkan pernikahan ini dengan Gista sebagai mempelai wanitanya. Lagipula mau Gendis atau Gista sama saja, kan? Mereka sama-sama anak Bapak.” Teguh terkekeh kecil mendengar permintaan dari calon besannya ini. Terdengar sangat konyol, namun kenapa harus Gista? Kenapa tidak perempuan lain saja. “Kenapa harus Gista? Kenapa tidak sewa perempuan lain saja?” “Haha, Pak Teguh bercanda? Kalau yang menjadi istri perempuan lain pasti kasus meninggalnya Gendis akan terbongkar. Kalau Gista yang menjadi mempelai wanitanya, semua ini akan aman selama kalian tutup mulut. Kita harus terus melanjutkan pernikahan ini dengan Gista, namun semua orang tetap memandang jika itu Gendis. Lagipula hubungan Sadewa dan Gendis tidak pernah dipublikasikan ke manapun jadi mereka tidak akan tahu wajah Gendis seperti apa.” “Tapi Gista sudah punya kekasih.” “Itu soal gampang. Lagipula pernikahan ini hanya untuk menyelamatkan harga diri saya. Terutama anak saya—Alleandra Sadewa Rajata.” “Kenapa tidak diumumkan saja batalnya pernikahan ini karena Gendis meninggal!” “s**t!” Aryo merasa emosi dengan Teguh. Pria itu memegang dagu Teguh kencang. “Ikuti saja mauku apa. Memangnya kamu sanggup membayar utangmu yang miliaran itu kepada perusahaanku? Bahkan aku bisa memenjarakanmu karena tidak bayar utang-utangmu yang menumpuk!” Teguh menelan ludahnya sendiri ketika mendapatkan ancaman seperti itu oleh Aryo. Tidak ada pilihan lagi selain menyuruh Gista untuk menikah dengan Sadewa. Lalu bagaimana dengan hubungan Gista dan Elang nanti? “Bersikaplah seperti biasa di depan kamera nanti. Anggap saja tidak terjadi apa-apa. Sekarang tugasmu merayu Gista agar bersedia menjadi pengantin karena ijab qobul akan segera dimulai dua jam lagi.” Teguh pun hanya diam dan segera pergi dari ruangan mempelai pria ini. Selama berjalan dilorong, Teguh selalu melamun dan sedih. Kehidupan keluarganya yang miskin membuat ia banyak utang di kantor untuk gaya hidup sang istri, biaya kuliah Gendis, dan sekarang biaya kuliah Gista, cicil rumah, sekaligus cicilan mobil. Kini saat sampai di ruang mempelai perempuan, Teguh langsung duduk di salah satu sofa dengan ekspresi wajah sedih. “Yah, gimana? Apa Pak Aryo mau membatalkan?” Teguh menggeleng pelan, dan melamun. “Dia keukeh ingin lanjut. Bahkan dia ingin Gista menjadi istrinya Sadewa. Tak hanya itu saja. Pak Aryo akan memenjarakanku karena utangku di kantor terlalu banyak.” “Astaga! Terus bagaimana? Gista sudah punya pacar. Bahkan Elang ada di sini.” “Entahlah, Bu. Aku pusing sekali. Bahkan pernikahan ini tetap menggunakan nama Gendis. Jadi Gista akan menjadi Gendis di depan orang banyak nanti.” “Astagaaaaa! Lalu soal ijab bagaimana?” “Mungkin nanti soal ijab akan menggunakan nama Gista. Hanya di depan para tamu dan wartawan saja menggunakan nama Gendis.” “Terus Ayah jawab apa?” “Entahlah. Aku sepertinya memilih masuk penjara jika Gista harus dipaksa menikah seperti ini.” Gista yang masih duduk melamun pun mendengarkan semua ucapan sang ayah. Mendengar jika ayah-nya memilih penjara membuat Gista segera berdiri dengan cepat. “Kalau begitu Gista mau menikah sama Sadewa!” putusnya tegas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN