Musuh yang Menganggap Remeh

1677 Kata

Mereka kebingungan, kenapa aku bisa dengan santai berdiri di atas jebakan yang telah di buat. Mata mereka tak bisa berpaling dari pijakanku. Saat aku melangkahkan kakiku, apa yang ku pijak ini tidak seperti tanah pada umumnya. Karena yang menjadi alas adalah sebuah jaring, tentu saja saat melangkah ini terlihat memantul. “Kepala Desa, hati-hati!” seru Kadeena sambil mengulurkan kedua tangannya ke arahku supaya aku lebih berhati-hati. Kurasa pijakan yang tidak memantul ini adalah tanah yang sesungguhnya, artinya aku sudah keluar dari daerah rawan itu, melompat pun tidak masalah. “Gagal?” ucap Lyod. “Maksudmu jebakannya? Karena aku tidak terjerumus dalam jebakan itu bukan berarti jebakannya gagal. Kayu yang menahan jaring memang sengaja di paku begitu kokoh, sehingga walaupun ada dua or

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN