Pria Terhormat

1604 Kata
Sip, aku sudah mendapatkan satu orang yang dapat di percaya untuk melakukan tugas kusir kereta ini, Kadeena... Sama halnya seperti Hathor, aku bisa memberikan kepercayaan penuh kepadanya. Tinggal satu orang lagi untuk menggantikan Herald, Kira-kira adakah orang selain Kadeena yang mau menawarkan dirinya? Pintu kereta itu sama sekali tidak aku kunci setelah Kadeena keluar dari sana, ternyata ada seorang b***k lain yang turun, penampilannya adalah berkulit sawo matang, dia cukup tinggi, matanya memiliki garis sepert mata kucing, telinganya lancip dengan rambut berwarna merah menyala. Benar, dia adalah seorang Dwarf. Dia sama seperti para Ras Dwarf yang pernah aku lihat di Kerajaan Palapis. “Tuan... Kalau anda mengijinkan, biarkan saya menjadi kusir kereta yang satu lagi.” Pria itu menundukkan kepalanya, dia meminta dengan cara yang sangat sopan. “Open Information!” bisikku. Aku ingin melihat seperti apa status orang ini. Aku ingin tau apakah dia b***k yang memiliki nama atau tidak? Ternyata dia punya nama, namanya adalah Borkan. Karena dia punya nama, itu artinya pada awalnya dia tidak hidup sebagai seorang b***k, seperti apa masa lalu orang ini? Tapi biarlah, bagian masa lalunya adalah miliknya sendiri, yang perlu aku tau sekarang adalah levelnya. Level Borkan tidak terlalu tinggi, dia hanya seorang pemuda dengan level 19. Dia pasti tidak pernah melewati sebuah pertarungan dalam hidupnya, dan title yang tertera darinya adalah kusir. Ternyata dia memanglah seorang kusir, pantas saja dia sangat percaya diri ketika menawarkan dirinya. “Kau tadi diam saja, apa yang membuatmu berubah pikiran dan memberanikan diri untuk menawarkan diri?” tanyaku. Pria itu tetap menunduk, tapi dia tetap mau menjawab pertanyaanku. “Maaf Tuan, saya hanya ragu menjawabnya saat itu. Kemurahan hati anda yang membuat saya tergerak untuk memberanikan diri saya.” “Saya tidak pernah melihat seorang membeli b***k, tapi dia meminta budaknya bekerja dengan sangat sopan. Anda tersenyum, dengan perkataan lembut anda meminta. Seharusnya tidak seperti itu.” “Anda harusnya memaksa sampai kami mau melakukan perintah anda, di banding membungkukkan kepala anda kepada kami, lebih wajar jika anda menendang kereta dan memaki-maki kami. Tapi anda tidak melakukannya.” “Setelah melihat anda, Tuan. Diri saya yang selalu dipaksa melakukan sesuatu, dengan sendirinya memilih membantu anda secara sukarela. Sekali lagi tolong, biarkan saya yang membawa kereta yang satunya lagi.” Borkan menunduk sangat ke bawah. Hal itu membuat Boreas ikut tersentuh hingga dia berjalan ke arahku. “Tuan Ichigaya, aku tidak pernah melihat hal seperti ini sebelumnya. Melakukan kekerasan adalah hal yang bisa membuat mereka menurut dan tunduk,” “Tuan Boreas, yang kau bicarakan adalah cara memperlakukan b***k, sedangkan apa yang aku lakukan adalah cara memperlakukan wargaku. Tentu saja hasil yang di peroleh akan berbeda. Apa yang kau tanam adalah apa yang akan kau tuai. Tidak akan tumbuh buah Elp dengan benih kentang yang kau tanam.” Aku berjalan ke arah kereta b***k itu, semua orang di dalam sana memperhatikanku. Mereka menatapku dalam-dalam. Sebagian dari mereka merasa takut, sebagian lainnya merasa kagum, beberapa juga bingung. Aku mengerti, masa lalu mereka sebagai b***k pastinya suram. Luka di tubuh mereka adalah buktinya, mereka mungkin berpikir aku sama seperti mantan tuan mereka. Aku bisa melihat dari sorot mata sebagian dari mereka. Mata itu adalah mata seseorang yang sudah kehilangan harapan, mata itu adalah mata, ketika seseorang ingin mengakhiri semuanya. Aku tidak tau bagaimana caraku memperbaiki itu, tapi untuk menutupi luka yang mereka alami, hanya ini yang bisa aku berikan... Sebuah Janji. “Tidak akan ada rasa sakit, tidak akan ada air mata, tidak akan ada perih di hati kalian. Bukan lantai dingin sebagai alas tidur, bukan angin dingin yang akan menyelimuti kalian. Hanya ada kebersamaan, hanya ada saling berbagi, hanya ada rasa persaudaraan. Pulanglah bersamaku, wargaku. Desa Nimiyan, rumah kalian, sudah menunggu.” Boreas kemudian menangis, dia mendorongku, dia terus mendesakku untuk segera menaiki keretaku. “Pulanglah, cepat pulang, Tuan Eishi. Jangan buat mereka menunggu lama, naik! Naik! Naik dan tunjukkan jalan pulang untuk mereka. Cepatlah!” Hathor pun menaiki kereta dengan tali kuda sudah ia pegang di tangannya. Aku melihat ke belakang, Kadeena dan juga Borkan sudah siap untuk berangkat. “Jalan! Cepat pulang sana!” seru Tuan Boreas, pria itu menangis tersedu-sedu. Bahkan dirinya tak kuat untuk berdiri hingga Gerald dan Herald harus menahan Tuan Boreas. Tali di hentakkan, kuda-kuda menjerit dan roda pun mulai berputar. Akhirnya... Kami pun pergi dari Kota Damaa. *** Sore pun menyingsing, malam pun segera tiba. Kota Damaa sudah jauh tak terlihat, hanya ada padang rumput dan beberapa pohon di tempatku saat ini. Tidak ada tanda-tanda adanya orang lain. Kurasa akan aman jika melakukannya disini. “Hathor! Hentikan keretanya di sini!” ujarku. Dengan segera Hathor mengangkat tangannya, dia memberi sinyal pada Kadeena dan juga Borkan untuk berhenti. Lalu kami berhenti bersamaan. Aku segera pergi ke belakang untuk menghampiri para calon warga desa Nimiyan. “Kadeena, Borkan. Tolong buka pintu keretanya dan minta semua orang untuk keluar,” ujarku. “Baik, Tuan!” jawab mereka dengan serempak yang kemudian langsung berlari. “Hei!” seruku untuk menghentikan mereka. “Tolong jangan panggil aku dengan sebutan, Tuan. Kalian adalah wargaku, panggil aku Kepala Desa,” imbuhku. Mereka berdua tersenyum kemudian mengangguk dengan semangat dan mulai berlari lagi. Aku tidak pernah menduga hal ini, ketika keretanya di hentikan, ternyata itu membuat orang-orang di dalamnya menjadi panik. Satu orang keluar dan mencoba melarikan diri dari kereta ketika pintunya terbuka. Dia adalah seorang anak kecil, dia menerjang Borkan. Borkan yang saat itu tidak siap akhirnya terjatuh. Anak kecil itu melarikan diri dengan langkah yang terhuyung-huyung. Kadeena yang saat itu sigap, mencoba untuk mengejar anak kecil itu. “Kadeena! Biar aku saja yang mengejarnya,” ujarku, Kadeena pun berhenti dan aku mulai berlari. Anak kecil itu menoleh ke belakang, wajahnya terlihat sangat ketakutan, ketika dia melihatku berlari mengejarnya, dia berlari semakin cepat. Tapi apa daya, dengan tubuh kecil kurus keringnya itu, bahkan jika aku berjalan cepat aku masih mampu mengejarnya. Benar saja, tak sampai jauh dia berlari, dia sudah jatuh menggelundung di rerumputan. Anak itu masih mencoba menjauhiku walaupun harus menyeret tubuhnya. “Tidak! Tolong! Aku tidak mau kembali ke rumah itu lagi! Aku tidak mau Tuan yang lainnya, tak satupun dari mereka adalah orang baik, aku tidak mau lagi. Tolong aku!” ucap anak itu sambil gemetar. Kemudian anak kecil itu meringkuk dengan kaki ditekuk namun di silangkan, kedua tangannya menutup tubuh juga kepalanya. Anak kecil itu memiliki rambut yang acak-acakan. Beberapa rambut di kepalanya plontos, dan panjang rambutnya sama sekali berbeda. Tangan anak itu penuh dengan luka, di pergelangannya terpapar jelas lebam karena di rantai, kedua kakinya pun sama. Dari sini bisa kusimpulkan bahwa kehidupan yang di jalani oleh anak kecil ini sungguh mengerikkan. Tubuhnya sampai sekurus ini? Ya Tuhan... Tidak adakah keadilan untuk anak kecil seperti dia. Kenapa dia menjalani hidup yang sesulit ini? Berbeda denganku, kehidupanku jauh lebih baik walaupun kedua orangtuaku sudah berhenti memperhatikanku. Tapi untuk anak kecil ini, sudah tak memiliki orang tua, kehidupannya pun penuh derita. Aku patut bersyukur setelah melihat semua ini. Anak kecil itu menangis, pasti berat untuknya melalui semua ini. Tapi dia sudah berjuang dengan sangat keras untuk bisa bertahan hidup. Ya! Setidaknya jika kau masih hidup, kau masih memiliki kesempatan untuk membuat semuanya jauh lebih indah. Aku mengulurkan tanganku. “Hei... Tak apa, tak usah takut. Aku datang bukan untuk menyakitimu. Percayalah! Kau meminta pertolongan, bukan? Maka aku akan menolongmu. Ayo! Raih tanganku!” ujarku. Anak kecil itu mengintip, tangisnya masih terisak, tapi dia mencoba untuk berhenti menangis. Tangannya bergetar namun perlahan mulai meraih tanganku. Akhirnya dia memegangnya, tangannya begitu dingin dan begitu kecil. “Berdirilah perlahan, mari kembali. Semua orang telah menunggu,” ucapku. Anak kecil itu pun berdiri, dengan langkahnya yang gemetar aku takut dia tidak bisa mengikuti langkahku, jadi aku menggendongnya. Anak ini begitu ringan, yah... Dia hanya tersisa tulang dan kulit, mungkin begitulah yang bisa kugambarkan ketika melihatnya, kulitnya pun pucat seperti mayat, hanya saja anak ini masih bernafas. Aku kemudian menurunkan anak itu di tengah-tengah kerumunan. Kemudian aku membuka inventaris dan mengambil sebotol high potion dan juga sebuah gelas kecil. Ramuan yang bersinar di kegelapan sore itu ku tuangkan ke dalam gelas. “Sekarang minumlah ini, kau akan segera sembuh. Kau akan segera lupa dengan rasa sakitmu,” ujarku sambil menjulurkan gelas kecil itu ke depan mulut anak itu. Anak itu kemudian meneguknya, tubuhnya seperti tersentak dan anak itu pun mengeluarkan cahaya yang sama dengan High Potion. Kulitnya yang pucat telah kembali sehat, luka-lukanya menghilang, dan rambut anak itu mulai halus kembali. Semua orang yang menyaksikan hal itu takjub. Mereka tidak hanya melihat sebuah keajaiban, namun mereka juga melihat sebuah harapan. Cahaya itu membangkitkan kembali semangat bagi pandangan mereka yang telah mati, asa mereka kembali. Kemudian aku mengambil roti dari inventarisku. “Makanlah yang banyak, kemudian... Mintalah air ke orang besar disana,” ujarku dengan ramah sambil menunjuk ke arah Hathor. Pria itu tersenyum sambil melambaikan tangannya. Anakn kecil itupun langsung mengambil rotinya dan memakannya dengan lahap. Tanpa sadar diapun mengeluarkan air mata, tapi dia tetap memakan roti itu. Hatiku senang melihat semangatnya telah kembali. “Perlahan saja, kau tidak akan pernah kehabisan makanan seperti ini. Mintalah padaku jika kau masih kurang,” ujarku sambil mengusap air mata anak kecil itu. “Terimakasih,” sahut anak itu sambil menangis, lalu aku mengusap rambut anak itu. Aku melihat pada semua orang di sana, ntah bagaimana semuanya bersujud di hadapanku. Aku melihat pada Kadeena, wanita itu tersenyum kemudian ikut bersujud, di ikuti oleh Borkan yang juga ikut-ikutan, lalu Hathor. “Tolong kami, Kepala Desa!” ujar orang-orang itu dengan kompak. Pemandangan itu membuatku ingin menangis haru, tapi ayolah... Aku seorang pemimpin, bagaimana aku bisa terlihat memalukan di depan mereka? “Tentu saja, Warga Nimiyan sekalian!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN