Mendapat Kepercayaan

1598 Kata
Sama halnya dengan anak kecil tadi, semua b***k yang aku bawa, aku persilahkan untuk meminum High Potion. Tak peduli apakah mereka sehat atau tidak, aku tetap memberikannya, meskipun yang lainnya tampak segar bugar, tetap saja... Mereka memiliki trauma yang dalam. Setidaknya dengan High Potion aku bisa membuat lebam ataupun luka yang menempel pada tubuh mereka menghilang, dengan begitu, aku membantu mereka untuk melupakan semuanya yang telah terjadi. Anak kecil yang melarikan diri tadi telah menyelesaikan makannya. “Hei, apa kau memiliki sebuah nama?” tanyaku. Anak itu menjawabku dengan menggelengkan kepalanya, kemudian aku tersenyum dan ku buka tabel pembuka informasi. Saat ku lihat, ternyata anak ini memiliki sebuah nama. Mungkin nama ini adalah nama yang telah di berikan oleh kedua orangtuanya. Kalau begitu aku tidak perlu memberikannya nama lagi, Fannya... Nama itulah yang paling cocok di sematkan untuk anak ini. “Mulai sekarang namamu adalan Fannya. Ingatlah, jawablah ketika seseorang memanggilmu dengan sebutan Fannya, kau mengerti?” Anak kecil itu terlihat sangat gembira, dia mengangguk dan tanpa sadar dia juga memelukku. “Maaf,” ucap gadis itu setelah memelukku. Dia tampak ketakutan, mungkin dia berpikir dia telah berbuat salah karena dengan lancang memelukku. Karena itu aku membelai kepalanya. “Fannya... Tidak apa-apa. Aku senang karena kau mulai gembira sekarang,” ujarku. Aku berdiri dan mengumumkan sesuatu. “Siapapun yang tidak memiliki nama, berbarislah! Aku akan memberikannya pada kalian. Di masa depan... Nama itu akan menjadi identitas kalian, tidak ada siapapun yang berhak mengambilnya dari kalian semua.” Setelah memberi mereka nama dan memberikan mereka makanan, malam itu kami semua beristirahat di padang itu. Kemudian aku memberi tahu pada mereka tentang peraturan di desa, apa yang harus di lakukan seorang warga Nimiyan, dan apa yang dilarang untuk di lakukan. Berdiri di sekitar api unggun, dengan para wargaku mengelilingi, aku berpidato. “Wargaku sekalian, malam ini... Dengan nama yang di sematkan pada kalian, dengan itu pula kalian di resmikan sebagai seorang Nimiyan, sama sepertiku. Tak peduli di mana kampung halamanmu, tak peduli masa lalumu, Desa Nimiyan adalah tempatmu kembali, tak hanya rumah... Tapi di sana adalah tempat bagi kalian membangun masa depan, yang lebih baik.” “Peraturannya sederhana, kita adalah saudara. Kita saling membantu satu sama lain, tidak boleh ada pertengkaran, solidaritas di utamakan. Segala tindakan yang merugikan untuk saudara lainnya, dianggap sebagai sebuah kejahatan. Tidak ada bangsawan, tidak pula ada p********n. Disana status kita sama, yaitu sebagai Nimiyan.” “Dan ada satu hal tabu yang tidak boleh kalian beri tahu pada siapapun selain saudara se-Nimiyan kalian. Dan itu adalah kemampuanku sebagai Kepala Desa.” “Seperti yang kalian lihat, aku memiliki sebuah sihir yang telah lama hilang, yaitu sihir ruang. Selain sihir ruang, aku bisa di anggap sebagai seorang alkemis ajaib. Aku bisa membuat High Potion dengan sangat mudah, seorang penyihir istana yang ahli dalam sihir penyembuhan bahkan tidak bisa menandingi efektivitas potion yang ku buat.” “Aku bisa membuat peralatan yang lebih maju daripada yang pernah di buat, aku memiliki pengetahuan untuk membuat sesuatu yang tidak pernah ada di dunia ini. Aku lahir dengan kemampuan curang. Aku bisa mengalahkan seorang ahli dalam bidangnya.” “Orang sepertiku di anggap sebagai orang hebat dan juga... Ancaman.” “Kemampuanku memang mempunyai banyak manfaat bagi orang lain ataupun diriku. Tapi kemampuanku ini lebih mengancam untukku, itu karena, jika seseorang mulai merasa iri dengan kemampuan curang ini, mereka akan berusaha untuk melenyapkanku. Karena itu aku memohon pada kalian, tolong jadikan ini rahasia.” Semua orang mengangguk. “Kepala Desa, kami akan menjaga rahasia ini tetap aman.” “Kami berjanji, sebagai balas budi atas apa yang telah anda beri, kami akan mengemban tugas ini.” “Saat ancaman datang, kami akan berdiri di depan anda. Sebagai balasan atas nyawa, kebebasan, serta identitas yang telah anda berikan.” “Terimakasih, Saudaraku!” ucapku sambil menunduk memberi hormat pada mereka. Baguslah, semua orang bisa di persatukan. Mereka juga bukan orang-orang yang tidak tahu cara membalas budi. Mereka mengenang kebaikan dan membalasnya dengan kebaikan yang bisa mereka beri. Ya! Aku juga tidak memerlukan balasan yang setimpal, yang terpenting adalah mereka tidak membalasku dengan sedikit niat jahat. “Hathor! Kau dan Borkan akan mengantar semua orang untuk kembali ke Desa. Aku dan Kadeena, kami berdua akan pergi ke kota lainnya untuk membeli bahan pangan. Kita juga memiliki tanggungan upeti yang harus di berikan pada Kerajaan Badamdas. Saat aku kembali, kita akan pergi ke Badamdas untuk membayarnya. Setelah itu, tahun depan kita akan membangun desa, saat kekuatan kita cukup... Kita tidak perlu lagi membayar upeti pada Raja yang tidak tahu caranya berterimakasih itu,” ujarku. “Saya mengerti Kepala Desa! Tapi sebelum itu...” “Kadeena!” seru Hathor. “Tuan Hathor?” jawab Kadeena, dia menelan ludah karena ketakutan dengan ukuran tubuh Hathor yang ia perhatikan dari dekat. “Kau akan bertugas mengawal Kepala Desa, pastikan kau melakukan itu dengan benar,” ujar Hathor. “Baik, saya akan melakukan tugas ini dengan mempertaruhkan nyawa saya!” ucap Kadeena dengan tegas. “Kalimat yang bagus! Tapi... Aku ingin melihat tekadmu. Senjata apa yang biasa kau gunakan dalam pertarunganmu, Kadeena?” “Sa-saya tidak biasa menggunakan senjata, saya biasa bertarung dengan sihir penguatan tubuh dan juga sihir dengan tipe angin. Saya bertarung dengan tangan kosong.” “Kalau begitu tunjukkan padaku sihir penguatan tubuh milikmu,” ujar Hathor sambil menyimpuhkan kedua tangannya di d**a. “Baik Tuan Hathor!” kemudian Kadeena mengambil nafas dalam-dalam, aliran energi di udara berkumpul mengelilingi wanita itu, rambut Kadeena memanjang dan terlihat semakin kasar, atau tepatnya menjadi lebih keras. Bagian pergelangan tangan Kadeena membesar dan mengeluarkan bulu yang sama dengan warna rambutnya, begitu pula kaki Kadeena yang mulanya terlihat seperti kaki manusia, mulai berubah perlahan menyerupai bentuk kaki serigala. Bulu-bulu di tubuhnya menjadi runcing dan keras, kuku di tangannya menjadi hitam dan memanjang, kuku-kuku itu terlihat mengkilap seperti bilah pedang. Taring Kadeena pun terlihat memanjang. Gadis itu sepenuhnya berubah dari penampilan awalnya. Tapi, jika di dia mengatakan dia berasal dari Ras Manusia Serigala, kurasa kurang tepat. Sebab penampilannya itu lebih mirip landak daripada mirip serigala. Tapi... Sihir perubahan wujud unik sekali ya, skill ini menambah atribut yang di miliki oleh penggunanya. Walaupun saat ini Kadeena berada di level 52, tapi statusnya naik ke Level 57, itu sudah sangat luar biasa. Kecepatan, ketahanan, stamina, kekuatan tempur, semuanya naik. Hathor tersenyum mengangkat sebelah bibir, tanpa peringatan dengan cepat Hathor menghujamkan tombaknya ke arah Kadeena. Saking kuatnya hantaman yang di hasilkan dari terjangan tombak itu, hembusan angin kencang di hasilkan, angin itu menghempas mundur aku. Tapi tidak dengan Kadeena, walaupun angin itu cukup kencang untuk menghempasku, Kadeena tetap kokoh mengeratkan taringnya, aku dapat melihat bulu-bulunya yang keras berterbangan setelah Hathor menyerangnya. Hathor kemudian memutar-mutarkan tombaknya, lalu dengan begitu bergaya dia menaruhnya lagi di punggung. Kemudian dengan wajah tanpa dosa dia bilang... “Oke! Kau lulus!” Oy Hathor, apa yang kau pikirkan dengan mengatakan hal itu, kau menyerangnya tanpa sebuah peringatan apapun, lalu dengan wajah bodoh kau bilang dia lulus? “Aku bisa mempercayakan tugas pengawalan Kepala Desa padamu.” “Terimakasih, Tuan Hathor,” jawab Kadeena, kemudian dia mengeluarkan sebuah asap dari tubuhnya, dan itu mengembalikan penampilan Kadeena ke dalam bentuk Ras Beastskin. Yang cantik tentunya. “Instingmu untuk merasakan bahaya, sangat tajam. Kau bisa merasakan ancaman dalam waktu sepersekian detik. Kau juga memiliki ketahanan yang luar biasa, dengan kemampuanmu, aku yakin Kepala Desa akan baik-baik saja.” “Di banding Tuan Hathor, saya masih belum ada apa-apanya.” Hathor menepuk bahu Kadeena. “Berbanggalah, tak semua orang sekuat dirimu, tak perlu merendahkan diri. Kau juga memiliki kemampuan. Percaya dirilah! Oh ya! Dan jangan panggil aku Tuan lain kali. Panggil aku guru, atau Hathor jika kau mau, Kadeena,” ujar Hathor yang kemudian tersenyum mengacungkan jempol. “Borkan! Aku akan memandu, ikuti aku dan ayo kembali ke desa!” “Baik Tuan Hathor!” “Berhenti panggil aku Tuan, Satu-satunya Tuan disini hanyalah Kepala Desa.” “Ba-Baik!” Keduanya naik ke kereta dan kemudian pergi melanjutkan perjalanan. Kadeena terpaku, matanya terus mengikuti kemana arah kereta Hathor pergi. “Hei!” kejutku, kemudian gadis itu menoleh ke arahku. “Ya! Kepala Desa!” sahutnya. ‘Ada apa? Kau terlihat sangat terguncang. Kau baik-baik saja?” tanyaku. Kemudian Kadeena menghembuskan nafas lega, selama ini gadis itu menahan nafasnya, dan ketika dia melepasnya, lengan yang ia gunakan untuk menangkis serangan Hathor pun gemetar cukup kencang. “Oy! Kau tidak baik-baik saja ternyata. Kenapa kau menahannya?!” ujarku, kemudian aku mengambil sedikit High Potion yang tersisa dan membantu Kadeena untuk meminumnya. “Saya tidak ingin terlihat lemah di depan Tuan Hathor, dan saya ingin mendapatkan kepercayaan darinya agar bisa mengawal anda, Kepala Desa.” “Saya malu, setelah menahannya... Saya malah terlihat memalukan di depan orang yang hendak saya lindungi.” “Tidak! Kau sudah melakukannya dengan sangat baik. Tidak semua orang dapat menahan serangan dari Hathor, kebanyakan dari mereka akan kehilangan kepala mereka setelah Hathor menghujamkan tombaknya. Bersyukurlah karena kepalamu masih utuh. Berhasil berdiri setelah menerima serangan brutal pria pembunuh tiga beruang merah seorang diri. Kau patut bangga, Kadeena!” hiburku. “Terima kasih, Kepala Desa.” “Kalau begitu ayo! Kita harus berangkat... Sebentar lagi Fajar akan tiba. Semakin awal kita sampai, semakin banyak yang kita dapatkan. Seorang pedagang tidak boleh membuang-buang waktunya barang sedetik.” “Tapi Kepala Desa, bisakah kau berikan saya waktu untuk beristirahat sebentar. Setidaknya sampai ototku tidak tegang,” jawab Kadeena. Ya... Mau bagaimana lagi, bahkan jika itu seeokor monster kelas S sekalipun. Menerima hujaman tombak dari Hathor tidaklah semudah itu. Orang itu adalah monster yang sebenarnya, sebaiknya lain kali aku meminta dia untuk menahan diri. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN