Saat kami berjalan pergi menjauh dari Guild, aku merasa bahwa kami sedang di ikuti. Sudah pasti itu adalah para kelompok Bandit di Guild tadi, seolah tidak cukup membuat kami rugi, para badjingan itu ingin melihat kami menderita.
Sepertinya Tuan Tarich si Guild Master tampaknya melihat kami seperti sekumpulan domba gemuk, dia benar-benar tidak ingin kehilangan kesempatan. Mungkinkah dia tertarik dengan resep Potionnya? Masih mencoba mencari untung, kah? Kalau begitu mari lihat kau berurusan dengan domba yang seperti apa.
“Torn, Lyod... Bisakah aku meminta kalian semua membelanjakan setiap uang di kantong ini? Pastikan kalian membeli banyak makanan. Bawa kereta kudanya bersama kalian untuk meletakkan barang belanjaan kalian,” ujarku.
“Ichigaya? Kau bilang semua uangnya? Untuk apa kau menghabisikan semuanya? Bukankah lebih baik kita menyisihkannya beberapa?”
“Torn... Uang hanyalah angka, tidak ada harganya. Tapi kepercayaan itu berbeda, itu adalah hal yang memiliki nilai tinggi bahkan melebihi apa yang ada di kantong itu. Lakukan saja apa yang aku katakan, karena aku memiliki sebuah ide,” kataku.
Torn dan Lyod langsung mempercayai apa yang aku katakan, dan mereka dengan segera melakukan apa yang ku perintahkan pada mereka.
“Nak Eishi, ada apa? Kenapa kau tiba-tiba membuat sebuah keputusan seperti itu?” tanya Paman Bern.
“Paman, kita sedang di ikuti.”
“Maksudmu...”
“Benar! Orang-orang di Guild pedagang yang penampilannya seperti Bandit.”
“Lalu bagaimana sekarang?”
“Aku meletakkan sebuah pesan pada kantong uang yang di bawa oleh Lyod. Pokoknya sekarang kita harus pergi dulu ke suatu tempat.”
“Kemana? Apa kau sudah memikirkan kemana kita harus pergi, Nak?”
“Ya! Kita akan pergi ke lingkungan kumuh, tempat para pengemis tinggal,” ujarku sambil tersenyum ke arah Tuan Bern.
Aku dan Paman Bern segera pergi ke tempat di mana para pengemis itu tinggal, Paman Bern tidak menanyakan apapun padaku, dia percaya sepenuhnya terhadap keputusan yang aku buat. Kalau tak salah ingat aku melihat gadis kecil pengemis itu masuk ke lorong gelap ini. Aku harus membuka Map dan juga informasi, jika keadaan genting terjadi maka aku akan bisa menilai segenting apa situasinya.
“Show The Map! Open Information!” ujarku sambil tetap berjalan agar aku tidak terlihat mencurigakan bagi mereka yang mengikutiku.
Paman Bern mungkin mengira aku sedang menggunakan sihir, baginya... Perintah sistem yang aku ucapkan itu seperti sebuah mantra sihir.
“Kita sudah sampai, jangan masuk dulu sebelum Torn dan Lyod datang membawa apa yang aku pesan, sementara kita lakukan beberapa percakapan agar mereka tidak mencurigai kita karena berhenti,” kataku.
“Baiklah Nak, aku mengerti.”
“Sebenarnya apa rencanamu?” imbuh Tuan Bern sambil menggerak-gerakkan tangannya seolah kami berdua sedang membahas pembicaraan yang santai.
Aku cukup terkejut dengan sikap Tuan Bern, dia orang yang sangat cepat beradaptasi dan segera mengerti dengan situasi yang tengah ia alami, kemampuan aktingnya pun bagus, orang tua ini sangat menakjubkan sudah sejak pertama kali kami bertemu.
“Seperti yang aku bilang sebelumnya, Paman. Uang itu hanyalah angka, tidak ada harganya. Kepercayaan lebih penting daripada uang, jadi... Apa yang coba kudapatkan adalah sebuah kepercayaan dan dukungan. Orang yang kastanya di atas kita tidak akan memberikan kita dukungan yang kita mau, tapi beda lagi dengan orang yang ada di bawah kita.”
“Itu artinya kau ingin mendapatkan dukungan dari para pengemis? Nak, mereka itu Bandit, mereka tidak akan takut pada para pengemis, jika kau melibatkan para pengemis itu dalam masalah ini, kau hanya akan membuat lebih banyak korban berjatuhan.”
“Aku hanya ingin melihat apakah mereka akan iba dengan keadaan para pengemis, ku harap mereka tidak akan bertindak terlalu kasar.”
“Nak, mereka itu Bandit. Bagaimana kau bisa meminta rasa iba dari mereka.”
“Paman? Apa benar kita tidak akan bisa menghentikan niat mereka dengan jumlah?”
“Ntahlah, Nak. Tapi kuharap mereka mau berhenti.”
Torn dan Lyod kembali dengan gerobak yang penuh dengan makanan, nampaknya mereka membaca pesan yang ku tulis di sebuah kertas yang kumasukkan ke dalam kantong uang. Untunglah, kalau mereka tidak membacanya aku tidak tau harus mengatakan apa untuk berakting.
“Kepala Desa, mau kau apakan makanan sebanyak ini? Di bawa ke desa pun semua ini akan basi dan orang-orang mungkin tidak akan bisa menikmatinya,” kata Torn.
“Tenang saja, sebentar lagi makanan itu akan habis. Orang desa tak perlu memakan makanan basi. Bawa keretanya masuk ke dalam gang!” suruhku.
Kami berempat masuk ke dalam gang yang cukup gelap itu, gangnya memang tidak terlalu sempit sehingga kereta kuda kami bisa masuk. Tapi... Baunya tidak menyenangkan. Ada pergerakan dari tabel level yang biasanya muncul di atas kepala seseorang. Tampaknya para pengemis itu bergerak karena menciun bau makanan yang cukup mengundang selera.
Level 17, seorang Kakek Tua pengemis yang pertama kali menghampiri kereta kami.
“Tuan... Bolehkah saya meminta sedikit makanan yang ada di kereta anda? Saya sangat lapar, saya hampir tidak memiliki tenaga,” ujar Pengemis Tua itu dengan suara yang lemas dan memang terdengar seperti orang yang tidak berdaya.
“Kakek Tua, kau boleh memintanya, tapi aku ingin meminta satu hal juga padamu. Apakah... Sedikit tenaga yang kau miliki itu bisa kau gunakan untuk memanggil yang lainnya?” tanyaku.
Kakek itu perlahan berbalik dengan tubuhnya yang sudah bungkuk itu. Dia mengangkat tangannya yang sudah keriput, walaupun saat mengangkat tangannya dia tampak gemetar.
“Semuanya!!! Seorang Dermawan membawa makanan untuk kita semua!” teriak Kakek Tua itu.
Semua pengemis yang ada dalam lorong gelap itu berdatangan tampa ragu, tempat itu semakin sempit seiring semakin banyaknya para pengemis yang mencoba untuk maju menuju kereta kami.
“Semuanya tidak usah berebut, akan kupastikan kalian semua mendapat bagian, tolong jangan berdesakan agar tidak membuat yang lainnya terluka, ada orang tua yang sudah renta dan anak kecil, jadi pastikan kalian semuanya tertib.”
Mereka benar-benar banyak, ini membuat tabel informasiku kacau, aku tidak bisa melihat level mereka dengan jelas, tapi yang pasti adalah mereka semua tidak ada yang lebih dari level 20. Meskipun mereka semua lemah, tapi saat ini yang aku butuhkan adalah jumlah.
Sudah beberapa menit kami masuk ke lorong ini, tapi para Bandit itu tidak kunjung menampakan batang hidungnya, apa mereka menunggu kami untuk keluar dari sini? Tunggu! Apa itu? 6? Tidak! 67!!!
Seorang pengemis dengan level setinggi itu? Benarkah? Apa mataku tidak sedang menipuku?
“Torn, Lyod! Tolong kalian urus yang disini,” ujarku sambil membawa beberapa makanan di tanganku dan bergerak menuju sela-sela kerumunan pengemis ini.
Aku melihat sesuatu yang membuat mataku tidak bisa berpaling darinya, hanya untuk memastikan saja, apakah angka itu sungguh 67, atau hanya angka 6 atau 7. Semakin aku mendekatinya maka semakin jelas, angkanya tidak bergerak secara terpisah, itu benar-benar angka 67 seperti apa yang kulihat.
Dan orang yang memiliki level setinggi itu... Mungkinkah hanya seorang pengemis?
“Ah... Kakak yang kujumpai tadi siang,” kata Pengemis kecil yang merupakan gadis pengemis yang ku jumpai di awal aku tiba di Kota Irishe ini.
“Hai Dik, aku kembali untuk memberikan ini padamu, maaf aku tidak membawakan apapun saat pertama kali.”
“Wah... Ini adalah makanan yang masih hangat, dan baunya sangat wangi. Apakah aku boleh membawa makanan ini bersama kami. Kami harus membawanya untuk Ibu yang sedang sakit, dengan mengisi perutnya maka Ibu akan segera baikan.”
Pria dengan rambut yang menutupi wajahnya, tangannya tidak bergerak sedikitpun, bahkan satu kakinya pun sepertinya pincang. Dengan level setinggi itu, tidak mungkin seorang pria cacat mampu mencapainya. Orang ini bukanlah seorang pengemis, setidaknya dulunya dia memang bukan.
“Kalau begitu kami harus segera pergi, aku ingin memberikan makanan ini pada Ibu selagi masih hangat. Kakak! Terimakasih banyak!” ujar gadis itu sambil memberi hormat padaku, ayahnya yang ia tuntun pun secara perlahan membungkukkan kepalanya padaku.
Pria besar itu memang tidak mengatakan apapun, tapi dia masih mengerti cara menghormati orang lain, itu artinya dia masih mampu berpikir dengan jernih. Aku ingin mempertaruhkan setiap kemungkinan hanya untuk kesempatan yang satu ini.
“Inventory!!!”
Aku mengambil High Potion yang memang sudah kusimpan dalam penyimpanan sistem untuk menghadapi situasi darurat. Tapi... Kali ini berbeda, aku ingin melihat apakah si Level 67 ini, mau bekerja sama denganku.
“Tuan! Jika aku bisa memberikan kedua tangan dan satu kakimu itu kembali, apa yang akan kau lakukan?”
Pria itu menolehkan wajahnya, matanya melotot ke arahku. Apakah aku membuatnya marah? Pria itu berbalik ke arahku, dengan berjalan pincang dia berusaha untuk berdiri di hadapanku.
Kami berhadap-hadapan, pria itu sangat tinggi dan memiliki badan yang kekar, tatapan matanya memancarkan aura yang mengancam. Aku berpikir jika aku tidak berani menatap balik ke dalam matanya, maka aku tidak akan memperoleh kepercayaan dari orang ini.
“Ayah! Jangan lakukan itu, dia adalah dermawan yang bersedia menolong kita, kita harus menunjukkan sikap yang pantas di depannya.”
“Apa... Apa kau bisa memberikan tangan dan kakiku kembali?”
“Apa kau menginginkannya?”
Pria itu mengangguk.
“Lalu apa yang akan kau berikan padaku sebagai gantinya?”
“Sebuah wilayah ku genggam dengan tangan kiriku, di tangan kananku ada keberanian serta amarah, dan di kakiku semua orang akan mengikutiku. Jika kau bisa memberikanku semua itu, hidupku... Akan kuberikan padamu.”
“Aku tidak membutuhkan nyawamu, aku hanya ingin kesetiaan. Jika kau bisa memberikannya, maka tangan dan juga kakimu juga akan ku berikan.”
Si4l, aku terdengar seperti seorang penyihir jahat. Tapi aku tidak punya pilihan lain, memiliki rekan dengan level yang sangat tinggi, bukankah itu sama halnya dengan membuat diriku menjadi semakin kuat? Aku tidak peduli jika aku terdengar jahat, tapi untuk sekarang, cara bertahan di dunia yang semuanya di ukur dengan level ini, tidak ada cara bertahan terbaik selain dengan menjadi kuat.
“Kalau begitu, Aku Hathor... Dengan ini bersumpah untuk memberikan kesetiaanku pada Tuanku.”
“Hathor! Namaku adalah Ichigaya Eishi, seorang Kepala Desa. Ingat itu baik-baik!”
Pria iru mengangguk tanpa ragu.
“Minumlah ini, dan wilayah di tangan kirimu itu akan kau rebut kembali, amarah serta keberanian di tangan kananmu akan segera kau dapatkan, dan orang yang akan selalu mengikutimu akan segera berbaris di belakang kakimu.”
Aku memberikan High Potion itu pada Hathor dan sebuah cahaya menerangi lorong gelap itu.