Suara teriakan penuh rasa frustasi itu menggema ke seluruh hutan, bahkan burung-burung yang tadinya bertengger harus berterbangan karena kaget oleh suara nyaring yang tiba-tiba. Kadeena hanya tertawa cekikikan ketika melihat hal itu terjadi, gadis itu segera pergi karena pengejarnya sudah pasti menyerah dengan kondisi seperti itu. “Gadis tengik, dia membuatku kesulitan bernafas, rasanya seluruh bagian dalam tubuhku di remas dalam waktu yang bersamaan. Prajurit! Tolong sandarkan aku di pohon itu.” “Ba-baik, Komandan!” jawab Wisther, kemudian dia dan salah satu rekannya mengangkat Vargas mendekat ke arah pohon. “Jika aku sampai menjadi kasim karena hal ini, aku akan membuat gadis itu menyesal bahwa dia pernah di lahirkan,” umpat Komandan Vargas dalam hatinya. “Komandan Vargas, turut ber

