Seusai meninggalkan rumah Amanda, Ardan masih diselimuti rasa bahagia. Bisa mengambil hati orang tuanya tentu sudah menjadi kebanggaan tersendiri meski belum ada pernyataan hubungan lebih dari sekadar teman. Dalam perjalanan, Ardan ingin mengunjungi sebuah minimarket dulu sebelum pulang. Adiknya, Fathia meminta kopi dingin yang biasa mereka beli di ujung jalan. Beberapa menit setelah selesai memesan kopi, Ardan pun keluar dari kafe. Tiba-tiba saja pria berjaket hitam, celana panjang berwarna mocca berdiri di depan tangga, menatap tajam ke arahnya. Ardan menoleh ke kiri dan kanan, merasa tidak mengenalnya dan menduga kalau dia menunggu orang lain di dalam kafe. Ardan melewatinya begitu saja kemudian langkahnya terhenti ketika mendengar namanya dipanggil. “Ardan.” “Huh?” Ardan berbalik

