Aku Berbohong
Pagi ini aku memasang kamera tersembunyi dekat pintu depan kantor, ini harus kulakukan sebelum Wafa datang, makanya namanya kamera tersembunyi, ini bukan syuting. Aku harus mendapatkan video ini, hasilnya untuk bukti yang akan kuberikan ke Profesor untuk mendapatkan chip pewujud mimpi.
Tiba-tiba pandanganku silau, Wafa sudah terlihat datang, ia begitu sangat bercahaya. Bolehlah kalau kalian anggap aku lebay, tapi memang betul, bukan memang betul aku lebay, tapi memang betul Wafa sangat cantik bercahaya.
Aku membukakan pintu depan untuknya, ia manyun sambil menaikkan kening, lalu menuju mesin absen sidik jari, aku mendekatinya.
"Assalamu alaikum, Wafa cantik."
"Wa alaikum salam warahmatullah wabarakatuh, Indra jelek."
"Hehehe, mmmmmm, anu..."
"Aku tahu kau pasti punya niat buruk."
"Bukan, Wafa, aku cuma mau minta bantuan, boleh."
"Aduh, Dra! Ini masih terlalu pagi untuk kau membuat masalah."
"Bukan membuat masalah, aku cuma ingin membuatmu jadi pasangan hidupku."
"k*****t!"
"Boleh tak minta bantuan?"
"Ayolah, buruan, aku mau sibuk nih."
Aku menjelaskan maksudku ke Wafa, aku ingin menggunakan mesin bertukar jiwa lagi dengannya, dia akan menjadi aku, dan aku akan menjadi dia. Awalnya dia sempat menolak, tapi aku sampaikan aku cuma minta waktu 1 menit, ini untuk kenangan saja, akhirnya ia pun luluh.
"Bagaimana, Fa? Sudah siap?"
"Kau lihat saja sendiri."
"Baiklah, aku tekan tombol ON?"
"Oke."
Kami sudah bertukar tubuh, aku akan segera melaksanakan rencanaku.
"Aku suka padamu, aku sayang dan cinta padamu, kau seperti nafas, yang bila aku lupakan maka aku akan mati."
"Asem! Kau pernah menyatakan ini, dan sudah kutolak mentah-mentah, Thanos!."
"Tak apa, Fa. Aku cuma ingin video ini jadi sebuah kenangan nanti jika aku benar-benar tidak menikah denganmu."
"Ya, tentulah itu! Aku juga tidak ingin menikah dengan buaya darat!"
"Aku bukan buaya darat."
"Ya sudah, ayo kembalikan lagi jiwaku, aku mau sibuk nih, ini sudah lebih 1 menit."
"Baiklah."
Kami kembali ke jiwa kami masing-masing, dan rencanaku sudah berhasil.
"Awas! Kalau kau coba macam-macam dengan hal tadi, aku benar-benar akan menghajarmu."
"Tenang saja, Wafa."
Wafa berlalu, ia pergi keruang kasir, sejatinya ia akan segera pergi kehatiku, ia akan menjadi milikku. Sebenarnya aku takut juga tentang perkataannya yang tadi, dia akan menghajarku kakau aku macam-macam dengan video ini, tapi sebenarnya aku melakukan semua ini untuknya, agar aku bisa menyelesaikan mesin pewujud mimpi, agar semua keinginannya bisa terpenuhi.
*
Sepulang kerja, aku bersegera ketempat Profesor, aku akan menyerahkan syarat yang dia minta, bukti bahwa Wafa memang suka padaku, dari video saat bertukar jiwa tadi tentu terlihat Wafa menyampaikan rasa sukanya padaku, hanya tinggal mengedit dan memotong bagian akhir. Profesor tidak akan tahu, aku akan mendapatkan chip itu.
Aku sudah tiba di rumah Profesor, sebentar lagi tiba di rumah tanggaku dan Wafa.
"Prof, aku sudah membawa buktinya."
"Benarkah, keren juga kau ini."
"Ya iyalah, Prof, kami dan Wafa memang saling cinta."
"Halah, anak muda. Coba kulihat buktinya?"
"Ini, Prof."
Aku menyerahkan HP ku yang berisi videoku dengan Wafa, video saat bertukar jiwa, video saat aku yang ada ditubuh Wafa mengucapkan rasa suka kepada Wafa yang ada ditubuhku. Aku gugup, peluh mulai meleleh, aku takut profesor tahu kalau aku sedang berbohong.
"Hebat kamu, Dra. Kamu dapat meluluhkan hati Wafa yang super judes dan jutek itu."
"I i iya, Prof, itu berkat usaha keras."
"Ya, sudah, ini chipnya, pergunakan dengan baik ya."
"Siap! Prof! Terimakasih banyak."
Aku mengambil chip itu dengan tersenyum pulas, mimpiku akan segera terwujud, juga mimpi-mimpi Wafa. Aku sudah membayangkan duduk berdua dengan Wafa dipelaminan, aku mempelai pria, dia mempelai wanita. Setelah itu kami akan punya anak-anak yang lucu, seganteng aku atau secantik Wafa.
Aku segera pamit kepada Profesor, menyalakan mesin motorku bersiap untuk pulang, aku tidak sabar ingin menyelesaikan mesinku, agar besok aku bisa memberitahu Wafa tentang kesiapan mesinku.
Aku merasa sedang ada yang mengikutiku dari tadi, mungkin itu adalah bayangan nyata dari inginku. Aku sungguh hebat.
*
Setelah pulang dari rumah Profesor, aku bersantai di taman Siring, menikmati aroma kebahagianku yang semerbak, sambil memandangi arus anak sungai Martapura yang akan menghayutkan rinduku selama ini. Malam ini, aku akan begadang menyelesaikan mesin pewujud mimpiku, dan besok Wafa akan bisa mencoba mesinnya, bisa dijadwal pula hari pernikahan kami.
Aku harus segera memberi kabar ini ke Wafa, tapi belum juga aku menekan tombol panggil, kulihat Wafa dan Wafiq datang, ia memarkir motor, lalu berjalan mendekatiku.
"Mana chip itu!" Kata pertama Wafa yang ia lontarkan setelah tiba didepanku.
"Sabar, Fa, mesinnya belum selesai."
"Ayo! Mana? Sini!" Suara Wafa makin meninggi.
Kacau, sepertinya ia tahu kalau aku sudah berbohong, ia tahu tentang video kebohongan yang aku serahkan sebagai bukti untuk mendapatkan chip ini, benar kiamat akan datang, Wafa akan sangat marah.
Sepertinya ia dan Wafiq dari tadi mengikutiku, makanya dia langsung tahu keberadaanku di taman ini. Aku sungguh tidak menduga ia akan mengawasiku seperti ini, aku sungguh gugup saat berhadapan dengannnya saat ini, tapi gugup yang kurasa bukan seperti biasanya saat aku merasakan suka yang besar terhadapnya, kali ini aku merasa benar-benar takut.
"Tidak akan kuserahkan chip ini! ini untukmu, Fa," aku menjawab, aku tahu ia pasti akan mengambil chip ini lalu menghancurkannya.
"Berikan! Mau dihajar?"
"Tidak!"
"Kuperingatkan sekali lagi! Berikan chip itu!" Wafa menarik kerah bajuku, matanya melotot, ia memasang kuda-kuda untuk meninjuku.
"Tidak akan kuberikan...."
BUK BUK
Wafa melayangkan tinju, tepat mengenai hidungku, aku memegangiku hidungku yang sakit, mulai berdarah.
"Aku sangat benci seorang pembohong macam kau ini!" Wafa kembali menarik kerah bajuku, membuatku kembali mendekat, ia kembali mengepalkan tinju.
"Tapi, Fa...."
"Mau ditinju lagi? Ayo serahkan chip itu!"
Aku akhirnya menyerah, pukulannya seorang kekasih itu akan terasa sangat keras dan menyakitkan. Aku merogoh saku celanaku, mengambil chip itu, menyerahkan ke Wafa, ia melepaskan genggaman tangannya dari kerah bajuku.
Wafa mengambil chip itu, lalu ia berjalan kearah sungai, dengan rasa emosi dia melempar chip itu kearah sungai, tergelam, ia menenggalamkan semua mimpiku, dan anak sungai Martapura menjadi saksi bisunya.
Wafa kembali mendekatiku yang masih memegangi hidungku yang mimisan karena tinjuannya, matanya melotot, wajahnya merah marah, tapi tetap cantik.
"Kau ini sangat kurang ajar!"
"Maafkan aku, Fa."
"Aku sudah tidak ingin kenal lagi dengan Kau! b******k!"
"Fa, maafkan aku, sekali ini saja, aku salah besar. Ini semua kulakukan karena aku sangat mencintaimu."
"Jangan menghalalkan segala cara juga, b*****t!"
"Maaf, Fa..."
"Ingat, jangan pernah menelpon atau me WA aku lagi! Aku sudah tidak ingin kenal lagi denganmu!"
Belum sempat aku menjawab pernyataannya, ia sudah berjalan menuju motornya, aku berlutut sendiri diatas tanah, bening air mataku mulai muncul, aku tertunduk terisak, ini sungguh sangat sakit.
"Ayo bangun!" Wafa tiba-tiba ada didepanku lagi, ia menarik jaketku memintaku bangun.
"Maaf, Fa, maaf..." Aku berucap sambil bangkit.
"Ini, pakai saputanganku, usap hidungmu yang berdarah."
"Terimakasih, Fa."
"Berbohong itu tidak baik untuk kesehatan hati."
"Iya, Fa, maaf, maaf."
"Sudahlah, mulai saat ini lupakan aku, kita hanya teman sekantor saja."
"Tapi.... Fa.... "
Masih sama, belum sempat aku menjawab pernyataannya, ia sudah berjalan menjauh, jauh dan benar-benar meninggalkanku, hilang, dan benar-benar hilang dari harapanku. Semua usahaku selama ini berbuah pahit, gara-gara satu pohon kebohingan yang kutanan.
Tapi kuakui, iya, aku memang salah, aku telah jauh dari kriteria yang dia harapkan, seharusnya aku menjadi orang yang jujur dan selalu berusaha mewujudkan keinginannya. Bukan cuma satu kriteria, tapi keduanya, itu harga mati, tidak ada tawar menawar.
Bening yang ada dimataku kuusap, hancur, lalu air mataku menetes, menertawakan laki-laki cengeng sepertiku.
*
Bersambung