Chip Yang Kucari
Aku semakin bersemangat meneruskan untuk membuat mesin pewujud mimpi, ini semua demi Wafa, aku akan menjadi kriteria suaminya, menjadi jujur itu mudah, yang sulit adalah menjadi yang bisa mewujudkan semua keinginannya. Si Wafa yang rumit, juga punya kriteria suami yang rumit pula.
Peluhku membasahi tubuhku dan otakku, ingin kukumpulkan peluh ini hingga jadi lautan, sebagai bukti pengorbananku untuk Wafa. Bagaimana tidak? tenagaku hampir habis, otakku seperti tergerus. Mesin ini sebenarnya sudah hampir selesai, tinggal satu alat lagi, yaitu alat yang menghubungkan mimpi dengan masa depan, atau waktu yang ditentukan agar bisa terwujud.
Aku tersandar di pojok kamarku, aku kembali berpikir, mesin pewujud mimpi itu memang tidak ada, tapi harapanku kepada Wafa masih ada, aku tidak boleh putus asa.
Tiba-tiba Handphoneku berdering, kuambil dengan tangan lesu, panggilan WA dari Wafa, aku berubah jadi semangat.
"Assalamu alaikum, ada apa, Fa?"
"Waalaikum salam warahmatullah, kamu lagi ngapain?"
"Lagi ingin menikah denganmu."
"Ya sudah, aku putus telponnya ya?"
"Eh, jangan, maaf. Ini aku sedang membuat mesin pewujud mimpi."
"Sudah selesai?"
"Belum, masih kurang satu alat."
"Eh, kau tahu adikku kan?"
"Tahu, si Wafiq kan?"
"Iya, entar kukirim no HP nya ya? dia punya banyak kenalan Profesor, coba tanya-tanya dulu, siapa tahu bisa membantu."
"Wah, senangnya. Terimakasih banyak, Wafa."
"Selamat berjuang, kalau mesinnya sudah selesai beritahu aku, ya? Assalamu alaikum."
"Siap, waalaikum salam."
Tumben Wafa seserius ini menanggapi mesinku, mungkin dia berharap banyak, aku tidak boleh menyiakan harapan itu, ia seperti menitipkan sesuatu dan aku harus mengantarnya, secepatnya agar ia tidak kecewa, tanpa imbalan pun.
*
Aku bertemu Wafiq, adiknya Wafa, masih anak sekolah SMA, berkacamata, kami bertemu di Taman Kamboja, salah satu taman di Banjarmasin kota.
"Terimakasih sudah membantu tadi," Wafiq membuka pembicaraan.
"Iya, tak apa, kebetulan lewat," Aku menjawab.
"Mau tahu chip pewujud mimpi, ya?"
"Iya, betul."
"Kak Wafa udah bilang tadi."
Wafiq menggeser-geser layar HP nya, lalu mengirimiku no HP Profesor yang kata dia memiliki chip itu, dia memberitahu alamat tempat tinggal Profesor itu, aku mencatat dan mendengarkannya baik-baik.
"Wafiq pernah ke alamat Profesor ini?" Aku bertanya.
"Pernah, aku banyak belajar tentang psikologi dari dia," Wafiq menjawab sambil tetap sibuk dengan HP nya.
"Mmm... Begini saja, Wafiq biar abang bonceng, kita langsung ke alamat Profesor itu," Aku menawarkan niatku.
"Apa? Coba ulangi, Kak?" Wafiq mengepalkan tinju.
"Eh, tak jadi, aku bisa pergi sendiri."
"Cinta itu perlu pengorbanan, Kak. Cari sendiri lah alamat itu."
"Benar itu."
Aku sedang diceramahi oleh anak kecil, Wafiq ternyata tidak jauh beda dengan Wafa, aku kira dia bisa lebih ramah, tapi aku malahan mau dihajar atas penawaranku untuk membonceng dia.
Tapi tak apa, yang penting aku sudah dapat informasi tentang chip yang kuinginkan. Aku pamit pergi ke Wafiq, berangkat menuju alamat yang dimaksud, mesin pewujud mimpiku akan segera selesai, Wafa akan menjadi milikku, selamanya.
*
POV WAFA:
Wafa memencet tombol panggil, ia menghubungi Wafiq, ingin tahu apa yang telah terjadi.
"Assalamu alaikum, Kak Wafa?"
"Iya, bagaimana? Apa yang terjadi? Wafiq?"
"Aku sudah bertemu dengan Kak Indra."
"Bagus, bagaimana?"
"Hidung Kak Indra berdarah."
"Kurang ajar tuh orang, adikku pun sampai digoda."
"Bukan, Kak. Dia habis berantem nolongin aku."
"Oh, kamu kasih obat gak?"
"Enggak, laki-laki mah harus kuat."
"Ya sudah, semoga dia bisa mendapatkan chip itu."
"Dia benar-benar ingin sekali mewujudkan keinginannya."
"Benar, tapi kita belum tahu ia ingin mewujudkan keinginannya atau keinginanku."
"Kita lihat saja nanti, Kak."
"Eh, selidiki terus, Dek, aku ingin tahu dia jujur atau tidak."
"Siap, Kak!"
Wafa tersenyum diujung telepon setelah menyelesaikan pembicaraan dengan Wafiq, ia ingin mengetahui apakah indra termasuk kriteria calon suaminya, tentang yang selalu mewujudkan keinginannya dan tentang kejujuran.
*
Sudah hampir magrib, aku belum menemukan alamat ini, tertulis Komplek Permata, hampir semua blok dari Alif-Ya kujelajahi, tapi tidak kutemukan dimana tempat tinggalnya si Profesor.
Akhirnya azan magrib pun tiba, aku berhenti sejenak, di sajadah yang lain, karena kata bimbo sajadah itu panjang, semua kehidupan kita harusnya menjadi ibadah. Sungguh, tidak rugi aku ikut pesantren kilat selama satu hari setengah.
Ada musholla di komplek itu, aku singgah dan mengambil air wudhu, seperti oasis dipadang pasir, menenangkan pikiranku yang sejak tadi berkecamuk.
Sebelum menunggu iqamah dan shalat jamaah dimulai, aku berdiri di depan papan pengumuman, sambil membaca pengumuman disitu, maklum karena hobiku adalah membaca, apalagi membaca pesan WA dari Wafa, juga karena aku menunggu sampai shaf depan penuh, karena aku ingin mudah nanti jika hendak keluar duluan, tidak ikut baca wirid.
Aku teringat saat membaca kop surat resmi musholla itu, tertulis alamat Kelayan A, berarti ada kelayan B, mungkin maksud Wafiq adalah kelayan B, mungkin ia lupa memberitahukan, pantas saja aku tidak menemukan rumah profesor ini di daerah ini.
Ya, itu. Aku punya kabar baik dan kabar buruk, kabar baiknya aku sudah mendapatkan dan mengerti alamat profesor itu, kabar buruknya aku menemukannya saat sedang shalat.
*
Setelah kuselesaikan rukun shalat yang terakhir, yaitu salam, aku bergegas berdiri hendak langsung keluar tanpa baca wirid, kuambil tasku yang tergeletak di samping, tapi seperti ada yang menariknya kembali, seorang bapak-bapak dengan isyarat tangannya menyuruhku kembali duduk, aku pun mengikuti, akhirnya ikut membaca wirid.
Setelah selesai berdoa, aku kembali berdiri, bapak itu juga ikut berdiri.
"Nak, tunggu sebentar," Ia berucap.
"Ada apa, Pak?"
"Ini kertasnya tadi ketinggalan."
"Wah, terimakasih banyak, saya mau kelamat ini."
"Sudah tahu dimana alamat ini?"
"Sudah, Pak. Disini memang tertulis tidak jelas, tapi saya sudah tahu yang dimaksud adalah kelayan B."
"Disitu juga tertulis Komplek permata, dan komplek permata itu juga banyak."
"Hah!"
Aku mencoba menghubungi Wafiq lewat telpon, tidak dijawab, begitu juga dengan Wafa. Mungkin semua ini sengaja, aku sedang diuji atas kesungguhanku, aku tidak boleh dibawah semangatku. Apalagi kata kunci yang lain juga membuat semuanya terlihat tertutup, nama profesor itu pun akubl tidak diberi tahu.
*
Aku kembali terduduk, menggencet kepalaku, bingung apa yang harus kulakukan. Bapak tadi ikut duduk juga disampingku, sepertinya dia ikut bersimpati, dan siapa tahu dia bisa membantuku.
"Pak, boleh tanya?"
"Boleh, saya akan bantu."
"Bapak tahu tak di Jalan ini seseorang yang dikenal dengan profesor?"
"Kelayan B ini luas, apalagi di daerah ini banyak yang berprofesi sebagai dosen."
aku menggencet kepalaku.
"Tapi, aku juga bisa dibilang seorang profesor." Bapak itu berucap.
"Benarkah?"
"Ada kata kunci lain?"
Aku baru ingat, sebuah kata kunci yang paling penting itu.
"Bapak kenal Wafa dan Wafiq?"
"Kenal, mereka itu murid-muridku yang paling cerdas."
Aku akhirnya bisa tersenyum, seperti melihat surga, surga rumah tangga. Bapak ini adalah profesor yang kucari, tepat di depan mata. Aku bercerita tentang chip pewujud mimpi, aku meminta agar diberikan chip itu, tapi prof tidak memberikannya secara cuma-cuma, dia meminta syarat yang sangat sulit.
Syaratnya adalah aku harus membawa satu bukti saja bahwa Wafa juga suka padaku, karena ini tentang mewujudkan mimpi, mimpiku yang ingin menikah dengan Wafa. Prof bilang dia tidak ingin seperti dukun, yang memaksa jatuh cinta dengan memberikan pelet. Prof memberikanku waktu untuk bukti ini, akhirnya, aku menyetujui syarat itu, walau aku tidak tahu bagaimana nanti caranya.
Aku jadi teringat saat kejadian shalat tadi, andai aku tadi langsung keluar tanpa wirid dan doa, mungkin aku tidak akan bertemu dengan Profesor, mimpiku untuk mendapatksn Wafa juga tidak akan bertemu dengan nyata. Aku sekarang sadar, tidak hanya usaha saja yang keras, tapi juga doa yang mengiringi.
*
Bersambung...