Kriteria Suami Wafa
Benar saja, tidak ada boncengan, memang lebih enak jadi tukang ojek ketimbang jadi teman begini. Aku harus mengekor lagi di belakang Wafa, kami naik motor masing-masing, menyebalkan, aku harus kejar-kejaran dengan Wafa, ia terlalu kencang melarikan motornya, salip sana, salip sini, seharusnya dia yang cocok jadi bintang iklan -yang selalu di depan- itu.
Akhirnya kami tiba di sebuah toko kosmetik, tepatnya di parkiran, karena motor tidak boleh masuk kedalam toko.
"Fa, kencang banget bawa motornya, tak takut jatuh?" Aku sedikit protes saat kami sedang berjalan masuk kedalam toko.
"Tenang, kalau ada apa-apa kan ada kamu di belakang yang nolongin?" Wafa tersenyum kearahku.
"Naudzubillah, jangan sampai kenapa-kenapa, Fa. Harus hati-hati," Aku menjawab dengan rasa khawatir.
"Iya, bawel!"
"Tapi, sebenarnya aku ingin di depanmu, Fa. Aku ingin jadi imammu," Aku memasang wajah sok imut dengan senyum.
"Ya sudah, kalau begitu kamu harus bisa mengejarku," Wafa menjawab sambil terus berjalan.
"Ha? Maksudmu?"
"Sudah, jangan bawel! Aku mengajakmu untuk menemaniku, bukan untuk ngobrol!"
"Siap!"
Aku baper lagi, dia bilang saat naik motor maka untuk jadi di depannya aku harus bisa mengejarnya, ini kiasan untuk jadi imam aku harus bisa mendapatkannya, inilah hasil dari pemikiran bawa perasaanku.
Sebenarnya banyak yang ingin kubicarakan dengan Wafa, tapi sekarang dia sedang sibuk memilih lotion yang sedang ingin dia beli, aku takut dimarahi lagi kalau mengajak dia ngobrol lagi, biarlah nanti bila dia sudah selesai membeli yang dia inginkan.
Aku terus mengamatinya, sebenarnya buatku tidak masalah dia hitam atau putih, dia tetap terlihat cantik, padahal kulitnya tidak jauh beda dengan sebelumnya, tapi dia tetap saja berpikiran kalau kulitnya jadi hitam, ya begitulah insting cewek.
*
"Dra, bagusnya aku pakai lotion yang mana, ya?" Wafa menyodorkan dua merek berbeda kearah wajahku.
"Mana aku tahu, kan kau yang biasa beli."
"Sudah, pilih saja! Yang mana?"
"Yang ini." Aku menunjuk botol lotion yang ada ditangan kanannya.
"Mmmm.... Yang kau pilih ini harganya mahal dan kurang bagus, aku pilih yang ini saja." Wafa memilih lotion yang ada di tangan kanannya.
"Lah? Kalau kau tahu mau beli yang itu, kenapa tanya sama aku?"
"Ah, jangan protes! Kan aku yang biasa beli!"
Aku geregetan, ingin kucubit pipinya itu, tapi belum muhrim, akhirnya kutepuk saja jidatku keras-keras. Tapi begitulah, aku memang harus banyak mengerti tentang wanita, karena istriku nanti adalah seorang wanita, mungkin saja Wafa, jika aku tidak memahaminya, pasti akan terjadi konflik.
*
Setelah membeli semuanya, Wafa dan aku santai di kedai dekat toko, minum kopi bareng sambil melepas lelah. Wafa juga sedang mencoba lotionnya, mengoleskan ditangan dan wajahnya.
"Bagaimana, Dra, bagus tak?" Ia melemparkan pertanyaan setelah selesai mengoles.
"Bagus! Kamu semakin cantik," Aku menjawab tulus dari hati.
"Eh! Jangan menggoda, ya!" Wafa mengepalkan tinju.
"Ya, sudah jelek...."
"Kurang ajar! kamu menghina ya?"
"Iya, aku salah," Aku tertunduk
"Nah, begitu dong jadi cowok."
Cewek itu memang rumit, ditambah sekarang cewek itu adalah Wafa, rumitnya menjadi dua kali lipat. Benar saja, hal yang paling sulit dimengerti itu adalah matematika, fisika, kimia, dan wanita.
"Fa, kriteria calon suamimu nanti seperti apa sih?" Ini adalah pertanyaan yang kusimpan sejak tadi.
"Ngapain nanya itu?"
"Siapa tahu aku masuk kriteria itu."
"Sebenarnya aku tidak ingin menjawab, tapi karena ini untuk meruntuhkan keyakinanmu, maka aku harus jawab."
"Tak apalah aku sakit hati, yang penting aku bisa tahu jawaban itu."
"Oke, baiklah," Wafa menyodorkan tisu kearahku.
"Aku tidak akan menangis," Aku mengambil tisu itu.
"Kriteria calon suamiku itu adalah dia yang selalu berusaha mewujudkan keinginanku dan tidak pernah berbohong."
Wafa menjawab secara normatif, siapapun bisa menjadi kriteria itu, aku pun bisa. Aku tersenyum, seolah pintu surga terbuka untukku, kesempatanku untuk mendapatkan Wafa masih terbuka lebar.
*
Bersambung...