BERTUKAR JIWA ( 2 )

591 Kata
Bertukar Jiwa ( 2 ) Sebenarnya aku juga punya tujuan lain dengan mesin bertukar jiwa milikku ini, semua itu terinpirasi dari lagu Tulus yang liriknya sangat dalam, dan saat bertukar jiwa aku akan tahu perasaan Wafa kepadaku, inilah tujuanku selain juga membantu Wafa, seperti menanam padi tapi juga menumbuhkan rumput. Tapi ternyata tidak semudah itu, yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, harapan justru mundur ketika aku maju, seperti magnet positif dan negatif, saling tolak menolak, harapanku tidak akan bertemu dengan nyata. Benar saja, lihat yang terjadi, jiwa Wafa tetap jiwa dengan perasaannya sendiri, cuma berbeda tubuh, begitupula denganku, jika begini, bagaimana aku bisa mengetahui perasaannya. Aku kembali gagal mengantisipasi hal ini, usahaku belum sempurna hingga mesinku begitu juga. * Seharian sudah kulewati dengan menggunakan tubuh Wafa, cewek memang tidak cocok di lapangan, pekerjaan lapangan itu berat, aku juga kesulitan memakai tubuh Wafa ini, terasa lebih capek, tapi entah kenapa ada saja orang yang memperjuangkan emansipasi, menurutku itu adalah ide yang aneh, atau aku tidak mengerti emansipasi seperti apa yang dimaksud. Sudah saatnya kembali ke kantor, jam kerja lapangan sudah cukup, aku akan segera bertemu dengan Wafa, bertukar jiwa kembali, akan kutunggu ucapan terimakasih darinya, paling tidak ia mengajakku kencan untuk malam ini. "Assalamu alaikum, Indra, eh, Wafa?" Aku menyapanya setelah tiba di kantor. "Wa alaikum salam warahmatullah, jangan ganggu dulu ya, aku sedang sibuk masih banyak kerjaan," Wafa yang ada di dalam tubuhku menjawab. "Ayo bertukar jiwa, Wafa manis," aku mengutarakan niatku. "Ih, najis!" "Kutekan tombolnya, ya?" "Eh...." Tanpa persetujuan Wafa, aku langsung menekan tombol On, seketika kami sudah bertukar jiwa lagi, aku kembali ketubuhku, dan Wafa juga kembali ketubuhnya. "Tapi aku belum menyelesaikan pekerjaanku dalam tubuhmu," Wafa berucap setelah ia kembali ketubuhnya. "Sudah lah, kau istirahat saja, biar aku yang selesaikan," Aku berucap di depan komputer. "Kau sangat baik, Dra... Apa imbalan yang kau harapkan?" "Cinta sejati tidak perlu imbalan." "Halah.." "Itu memang betul, Fa." "Dra, kalau aku benar-benar jatuh cinta ke kamu, apa kamu mau tanggung jawab?" "Mau mau mau, ayo buruan!" "Tapi bohong... Hahaha..." "Heh..." Aku tersenyum pahit, ia benar-benar mempermainkan perasaanku, aku sudah seperti anak kecil yang terjebak dalam tubuh orang dewasa. * Wafa mulai memperhatikan tubuhnya, dari kerudung hingga kaki, dari tadi hingga sekarang, ia begitu teliti, dan sepertinya aku akan dihajar. "Hei! Apa yang terjadi dengan tubuhku?" Wafa berucap, kemungkinan sebelum menghajarku. "Tak ada yang berubah, kau tetap wanita tercantik di dunia." Aku berharap gombalanku akan meredam amarahnya. "Kulitku kok jadi hitam? Aku kok jadi gemukan? telapak tanganku kok jadi kasar?" "Seperti itu lah, Fa, namanya juga pekerjaan lapangan." "Kamu tadi ngapain aja, Dra?" "Aku berpanas-panas di lapangan, lalu makan gorengan, tapi karena memakai tubuhmu, aku jadi cepat lelah dan tambah lapar, jadi makannya dua kali lipat." "Aduh, Indra.... Kau ini terlalu..." "Maaf lah..." "Ya sudah lah, nanti pulang temani aku beli lotion " "Yang benar? Boncengan ya?" "Gas! Jangan banyak bacot! Entar kuhajar juga kau nih! Aku mau shalat ashar dulu, entar kalau selesai WA ya?" "Oke, siap!" Aku bergegas menyelesaikan pekerjaanku, agar nanti waktuku bersama Wafa lebih banyak. Boleh dibilang Wafa sedang memberikan upah kepada, karakter dia memang begitu, walau dia punya sifat yang judes, tapi ia juga memiliki perasaan yang dalam, dia tahu dimana harus membalas kebaikan seseorang. Wafa, aku sangat jatuh cinta padamu, semakin dalam aku jatuh, mengharap kau ulurkan tali dan mengangkatku. Sebenarnya sedikit saja aku mencari rasa cintamu kepadaku, bila ada, akan kusandingkan dengan cintaku, dan aku berjanji akan membahagiakanmu. Aku mengusap air mataku, benar, aku adalah anak kecil yang terjebak dalam tubuh orang dewasa. * Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN