BERTUKAR JIWA ( 1 )

599 Kata
Bertukar Jiwa 1 Hari ini aku kembali bekerja, dan aku harus memulai kerinduan lagi terhadap Wafa, begitu sangat melankolisnya diriku. Aku seperti membayangkan seperti apa Wafa nanti di kantor, entah pakai baju atau kerudung apa, tidak ada beda, ia tetap cantik setiap hari. Aku terus saja melamunkannya disepanjang perjalanan motorku dan disepanjang perjalanan hidupku. "Aduh, bagaimana ini?" Wafa langsung mendekatiku yang sedang mengisi absen. "Ada apa? pagi-pagi sudah merindu aku, ya?" "Jangan cari gara-gara di pagi hari, ya!" "Aku cuma mencari harapanku padamu." PLAK! "Kok digeplak? Kan belum muhrim? Tak boleh bersentuhan." "Halah, tak usah jual mahal!" "Ayuk! kita halalkan dulu..." "Bagaimana kalau aku geplak pakai sapu? Kan tak perlu bersentuhan?" "Ampun dah! Oke, ceritakan gawat kenapa? Ada masalah apa lagi?" Wafa bercerita tentang tugas yang diberikan bos saat meting pagi tadi, kebetulan aku telat jadi tidak tahu informasi itu. Wafa bilang ia akan bertukar tugas denganku, ia pergi kelapangan dan aku jadi kasir di kantor. Wafa tak mau capek, pekerjaan di lapangan itu berat, berpanas terik, atau berair hujan. * Akhirnya, secara dadakan, aku harus membuat mesin bertukar jiwa, aku akan pergi ke atas gedung untuk mewujudkannya, ke langit pun bisa, demi Wafa. Aku kasihan dan tidak tega kalau dia harus capek, maka mesin ini adalah juga bukti rasa sayangku ke dia. Konsep mesin ini adalah menukar jiwaku dengan jiwanya, jadi tetap aku yang akan pergi kelapangan tapi di dalam tubuh Wafa. Dan Wafa tetap di kantor, duduk manis sebagai kasir, tentu dengan tubuhku. Dengan begini, Wafa tidak akan merasakan capek, tidak akan merasakan panas atau hujan, ia hanya akan merasakan tulusnya pengorbanan cintaku padanya. "Taram! Mesinnya sudah jadi." Aku mendekati Wafa yang sudah kupanggil lewat WA menuju gedung atas. "Mmmmm... Mesin apa ini?" "Ini mesin penukar jiwa, cara ker.." "Hei! Kau mau m***m!" Belum sempat aku menyelesaikan penjelasanku tentang cara kerja mesin ini, Wafa tiba-tiba langsung protes. Aku paham maksudnya, ia curiga saat aku bertukar badan, aku akan melakukan hal negatif terhadap tubuhnya. Insting Wafa sungguh luar biasa. "Ya, aku sudah menduga kau bakalan berpikiran seperti itu," Aku berujar merespon keraguannya. "Aku tak mau memakai mesin itu!" Wafa berkilah. "Tenang aku sudah mengantisipasi semuanya." "Awas kau!" Aku juga membuat kamera pemantau, itu otomatis menyatu dengan gelang penukar jiwa, kamera itu dapat menangkap video orang yang memakai gelang tersebut, sehingga bisa dipantau dari jauh. Dengan ini, Wafa bisa melihatku kapan saja dari video handphonya, aku tidak akan bisa macam-macam dengan tubuhnya. "Kalau kau mencoba macam-macam, akan kubunuh!" Wafa mengancam. "Baik, cintaku kepadamu tulus kok, aku tidak akan mengecewakanmu," aku menggombal lagi. "Mau kubunuh sekarang?" "Hehehe... Tidak, maaf.." Aku garuk-garuk kepala. * Akhirnya kami sepakat, Wafa memakai gelang itu, akupun juga, entah kapan kami saling memakaikan cincin kawin. Aku memegang remote, bersiap untuk menekan tombol ON. Aku mengisyaratkan kepada Wafa dengan jempol jariku kearahnya. "Eh, tunggu dulu, Dra," Wafa berucap. "Ada apa?" "Sebelumnya terimakasih sudah membantu." "Semuanya pun. Apa yang tidak." "Hehehe.... Kau sangat baik, Dra." "Sudahlah, sekarang kau sudah siap?" "Aku siap." Kami berdua memejamkan mata, aku menekan tombol ON, mesin menyala, dan sudah mulai bekerja. Kami berdua membuka mata, aku merasakan badanku seperti bergerak gemulai, aku mencoba berjalan, benar-benar cewek. Sedangkan Wafa terlihat tegap, berjalannya kokoh, ia benar terlihat sepert cowok saat berjalan. Kami berdua tertawa bersama, sambil terus belajar berjalan yang baik dan benar sesuai tubuh kami. "Mantap, Dra!" Aku berucap. "Jangan terlalu memuji seperti itu, Fa." Wafa merespon. "Tapi kau benar-benar keren, Dra!" Aku kembali menyahut. "Siapa dulu dong, aku!" Wafa bertolak pinggang. "Ah, dasar sandal jepit!" Aku mengumpatnya sambil tersenyum. Kami berdua telah bertukar jiwa, aku menjadi Wafa, dan Wafa menjadi aku. * Bersambung....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN