Mesin Pembaca Perasaan
Satu hari libur penuh aku berusaha menyelesaikan mesin pemujud mimpiku, hingga penuh lelahku, tapi belum penuh juga untuk mencapai kata selesai. Ini adalah mesin yang paling sulit yang inginku buat, sesulit aku untuk mendapatkan Wafa, ternyata beginilah nasibku karena menginginkan si Wafa, si gadis rumit.
Aku jadi berpikir, apakah mesin pewujud mimpi itu benar ada? Aku benar-benar kesulitan untuk membuatnya. Eh, tapi aku berpikir terlalu jauh, semestinya aku berpikir apakah Wafa mempunyai rasa denganku, itu saja, karena bila aku selesaikan mesin pewujud mimpiku tapi Wafa justru punya mimpi menikah dengan seseorang yang bukan aku, maka sia-sia saja tujuannku membuat mesin pewujud mimpi. Sungguh aku sangat egois.
Akhirnya kuputuskan untuk menunda menyelesaikan mesin pewujud mimpi, aku beralih untuk membuat mesin pembaca perasaan, kalau ia punya rasa suka padaku, aku akan memujudkan semua mimpinya, tanpa mesin pun.
Apalagi setelah pertemuan dengan dia saat bersama Doraemon, ia bilang aku harus tetap semangat, aku menganggap maksudnya adalah semangat untuk mendapatkannya, tapi ia sempat bilang bahwa ia belum ada rasa denganku, berarti aku harus membuat dia menjadi suka denganku.
*
Suasana taman siring pagi itu sangat indah, dengan anak sungai Martapura di tengahnya membuat taman kota ini sangat menawan, orang juga menyebut taman ini sebagai pantai jodoh. Walau udara polusi masih terhirup, tapi begitulah keadaan kota, meski begitu taman dengan pepohon ini adalah oasis di gurun pasir yang sangat berharga, terlalu berharga jika hanya digunakan untuk sekedar berpacaran.
Aku duduk di sebuah bangku menghadap jalan, sedang menunggu Wafa yang katanya ingin meminjam buku kinerjaku untuk membuat laporan. Aku memilih bertemu di taman kota, agar aku bisa berbicara santai padanya, dengan kata lain aku ingin mengungkapkan perasaan, dan ini sudah yang ke lima puluh kali.
Aku melihat-lihat motor, tidak perlu di showroom, cukup di jalan, dan akhirnya Wafa tiba, berhenti tepat di tempatku duduk di taman, segera memasang standar motor, lalu dia turun dengan helm masih di kepalanya.
“Kenapa helmnya tidak dilepas?” kata-kataku menyambutnya.
“Aku tahu kau pasti akan memasang alat di kepalaku supaya kau bisa membaca pikiranku,” dia menjawab sinis.
“Mmm… anu…”
“Mana bukunya? Kantor sedang perlu untuk laporan!”
“Santai dulu lah…”
“Waktuku sangat berharga!”
“Perasaanku lebih berharga, aku suka kamu, Wafa”
“Lalu!”
“Pegang polpen ini, kalau kamu suka silahkan ambil, kalau tidak bisa kembalikan”
“Dasar orang gila! Apa kau sedang syuting –udah putusin saja-?”
“Jadian saja belum, udah mau putusan?”
“Oke, aku tidak mau buang waktuku berdebat.”
Wafa mengambil polpen itu, lalu mengembalikannya padaku dalam hitungan detik, dia mengambil buku yang dia inginkan tergeletak di kursi taman, lalu pergi menyalakan motor. Aku masih terpaku, tapi mulai tersenyum perlahan, Wafa mulai menghilang ditelan bulatnya bumi.
Aku kembali duduk di kursi mengeluarkan sesuatu dalam tasku, sebuah alat yang kusebut mesin pembaca perasaan. Aku juga membuka alat di polpen yang tadi sempat dipegang Wafa, itu adalah memori yang menyimpan perasaan Wafa saat itu, segera kupasang ke alat, sambil menunggu hasilnya.
Hasilnya selama ini aku salah menilai Wafa, kupikir dia tidak punya perasaan padaku, ternyata dia punya perasaan, dan itu adalah rasa tidak suka. Aku mengencet kepalaku, air mata menertawakan laki-laki cengeng sepertiku.
Tapi aku masih ragu tentang alatku ini, ia cuma bisa membaca keadaan tidak suka, tanpa memberikan alasan tidak suka karena apa. Aku tidak mengantisipasi alat ini dari awal, programnya masih belum optimal, berarti usahaku juga masih belum sempurna.
Aku berpikir positif, mungkin Wafa sedang merasa tidak suka diganggu, bukan karena tidak suka denganku, aku harus mencoba dan membuat alat yang lebih bagus lagi. Sungguh aku adalah manusia paling berprasangka baik di dunia ini.
*
Bersambung...