Ke-delapanbelas

1168 Kata

Hampa kini yang ku rasa Menangis pun ku tak mampu. Hanya sisa kenangan terindah dan kesedihanku. Sejujurnya dari tadi jantung Nara berpacu tidak karuan, bisa sangat cepat atau bahkan sangat lambat hingga Nara berkali-kali menarik napasnya dan mengingatkan dirinya untuk tetap sadar dan tetap tenang. Nara tidak tahu sepenting apa obrolan Tante Rahma hingga ia meminta Nara untuk mendatanginya pagi-pagi seperti ini. "Kita mau ke mana?" tanya Aksa yang sedang fokus mengendarai mobil Nara. "Pemakaman." Ya, tadi Tante Rahma menelepon Nara dan meminta Nara untuk datang ke pemakaman. Nara tidak tahu apa maksudnya tapi sebagai seseorang yang sangat menghormati Tante Rahma maka Nara memutuskan untuk mengikuti perintahnya. "Nar." Nara hanya berdeham. "Pras menginap di kos kamu?" Seketika ta

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN