Erin menyentuh telapak tangan Devan. “Ada apa? apa yang masih kamu ragukan?” tanyanya saat melihat keraguan di wajah Devan. Papa dan Mama Erin saling menatap. Mereka lalu menatap putrinya dan juga Devan. Devan menghela nafas. “Gak. Aku gak ragu kok, Rin. Kamu tenang aja. Semua akan tetap berjalan dengan apa yang sudah kita rencanakan dari awal,” ucapnya dengan memaksakan senyumannya. Maafin aku, Vi. Aku terpaksa harus melakukan semua ini. Tapi aku janji, setelah masalah kantor teratasi, aku akan bicara dengan Erin dan kedua orang tuaku. Aku akan menjelaskan kepada mereka dengan baik-baik. Erin tersenyum, ia lalu mengecup pipi Devan, bahkan di depan mata kedua orang tuanya. “Aku mencintaimu, Van. Sangat mencintaimu,” ucapnya dengan senyuman di wajahnya. Kedua orang tua Erin terseny

