“Sayang, kamu gak lupa kan, kalau hari ini Erin pulang?” Mayang mengambilkan makanan untuk suaminya, dan meletakkannya di depannya. “Mama sengaja masak makanan kesukaan Papa dan kamu,” lanjutnya. “Iya, Ma. Devan ingat kok. Devan yang akan menjemput Erin nanti,” ucap Devan setelah menelan makanan yang ada di dalam mulutnya. “Jangan lupa dengan apa yang Papa bilang semalam,” tutur Farhan lalu memasukkan satu suap makanan ke mulutnya. “Semua itu juga untuk perusahaan,” lanjutnya. Devan hanya mampu menganggukkan kepalanya. Sudah tak ada cara lain lagi untuk membuat perusahaannya stabil seperti semula. Devan bahkan harus membuang jauh-jauh egonya demi kelangsungan perusahaan yang sudah ayahnya rintis dari nol. Kecewa itu pasti. Menyesal lebih pastinya. Devan menganggap dirinya tela

