“Pagi, Pak ...” sapa Dhea pada salah satu satpam yang berjaga di pos depan gerbang kampus saat gadis itu hendak mengambil karcis parkir.
Satpam berkumis lebat itu tersenyum seraya menyeruput kopi hitam yang baru dibuatnya, “Pagi, Neng Dhea. Tumben santai, biasanya kayak dikejar setan.”
“Setannya kesiangan, Pak” ujar Dhea dengan cengiran khasnya.
“Ada-ada aja Neng mah. Langsung ke kelas Neng? Nggak ngopi dulu?”
Dhea menggeleng, “Tadi pagi saya abis minum s**u, tar kalau minum kopi jadinya kopi s**u. Saya duluan yah, Pak.”
“Sok atuh, Neng” ucap Satpam berkumis lebat itu seraya tergelak mendengar penuturan Dhea dan hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat gadis itu melajukkan motornya dengan kecepatan tinggi ke area parkiran.
Dhea Nathalia Bramantha, namanya. Panggilan akrabnya, Dhea. Seorang gadis cantik dengan rambut hitam kecokelatan dan manik biru pucat nyaris abu-abu keturuan dari sang Nenek. Menjadi seorang anak dari salah satu pengusaha paling sukses di Indonesia dan didukung dengan wajah nyaris sempurna juga otak genius, menjadikan Dhea seorang primadona di kampusnya. Tak perduli dengan kelakuannya yang sering membuat onar dan bar-barnya minta ampun, nyatanya Dhea adalah sosok yang banyak disukai dan dikagumi hampir seluruh penghuni kampus termasuk satpam, petugas kebersihan bahkan penjual di kantin. Dibalik kelakuannya yang minus itu, Dhea merupakan orang dengan kepribadian yang baik hati, ramah, periang dan tidak sombong.
Banyak mahasiswa yang menyukai Dhea dan terang-terangan memberikannya perhatian, tapi hanya ditanggapi biasa olehnya. Alih-alih menjadikan Dhea seorang playgirl, gadis itu justru hanya menganggap semuanya teman. Dhea terlalu menutup rapat hatinya, terlebih lagi kedua kakaknya yang over-protective.
“Dhea.”
Dhea mengalihkan pandangannya dari layar handphone miliknya saat mendengar suara sahabatnya, Maurin Aullia. Gadis cantik yang penampilannya 180 derajat berbanding terbalik dengan Dhea. Aull—sapaannya lebih sering memakai dress selutut dan plat shoes dengan warna-warna pastel, baik dalam keseharian atau pergi ke kampus. Sedangkan Dhea selalu memakai kemeja, celana jeans dan sneakers andalannya.
“Bukannya hari ini lo nggak ada kelas? Ngapain ke kampus?”
Dhea mendelik, “Setau gue, nggak ada larangan buat pergi ke kampus meskipun nggak ada jadwal kuliah” ujarnya menyuapkan satu sendok nasi goreng ke dalam mulut.
“Hell! Semua orang juga tau, kalau seorang Dhea yang katanya primadona kampus sering banget bolos kuliah. Dan libur itu adalah anugerah yang akan digunakan sebaik-baiknya untuk rebahan.”
“s****n! Gue nggak pernah bolos, yah!”
Aull memutar bola mata, “Terus apa? Buktinya lo jarang masuk kelas.”
“Gue nggak bolos, tapi disuruh tutup pintu dari luar” ucap Dhea dengan cengirannya.
“g****k!”
Aull adalah sahabat Dhea dari jaman-jamannya mereka masih di dalam kandungan. Yeah! Kedua mama mereka bersahabat dekat, lalu menurun pada Aull juga Dhea. Sudah terlalu sering berada di kelas yang sama mulai dari taman kanak-kanak, SD, SMP, hingga SMA lalu berakhir dengan satu jurusan yang sama saat kuliah. Untunglah keduanya berada di kelas yang berbeda yang tentunya membuat Aull girang bukan main, sebab ia sudah bosan melihat Dhea terus-menerus sedari orok. Sedangkan Dhea? gadis itu hanya bisa mengerucutkan bibirnya, pasalnya berpisah kelas dengan Aull sama dengan telat datang ke kampus karena tidak akan ada yang mengingatkan dirinya akan jadwal kelas yang sering dilupakannya itu.
“Heh! Lo berdua jahat banget! Nongki-nongki tanpa Nisya yang syantik ini”
Dhea dan Aull memutar bola mata melihat sahabat mereka Fanisya Anindita—si drama Queen. Berbeda dengan Dhea dan Aull yang bersahabat sedari dalam rahim, Nisya merupakan sahabat mereka sedari SMA.
“Eh! Jus jeruk gue maen lo embat aja!?” protes Dhea.
Nisya hanya menunjukkan cengirannya setelah menenggak jus jeruk milik Dhea hingga tandas, lantas duduk dihadapan Dhea yang berarti di samping Aull.
“Yaelahh, pelit banget timbang jus jeruk doang. Lagian kan masih ada air mineral.”
“Nggak usah ngajak gue ribut, gue lagi bete!”
“Lo bete? Tapi ngabisin nasi goreng satu porsi jumbo, satu piring siomay, satu piring batagor—are you kidding me?” teriak Nisya heboh saat menghitung banyaknya piring kotor yang berada dihadapannya.
“Nisya!” tegur Aull dengan kesal saat mereka harus menjadi pusat perhatian akibat teriakan Nisya yang super toa. Lama-lama Aull bisa cepat tua jika terus berteman dengan orang yang modelnya macam Dhea dan Anisya. Semoga Aull tetap diberi ketabahan.
“Hai, Bebeb-bebeb” ucap seseorang yang langsung duduk di samping Dhea diikuti orang yang duduk di sampingnya.
“Bebeb biji mata lo!” sarkas Aull.
“Ngapain kalian berdua ke sini? Ganggu pemandangan tau nggak sih!”
Kedua laki-laki itu sama-sama menegang kaku dan meneguk ludahnya susah payah. Dhea itu kalau marah tidak pernah main-main, kejamnya ampun-ampunan.
“Ya ampun, lo jadi sepupu dendaman bang—“ Varel langsung menutup mulutnya saat melihat Dhea yang matanya sudah dipenuhi aura permusuhan. Mati! Mulutnya memang suka kelepasan kalau bicara. Pantas saja jika Aull seing menjulukinya dengan mulut perempuan.
“Lo mau mati?” bisik orang di sampingnya yang tak lain adalah kakak Dhea, Regan.
“Bukan gitu, Bang. Asli, gue keceplosan. Lagian kan yang salah bukan cuma gue.”
“Jadi maksud lo? Gue juga salah?”
Varel mengangguk polos, “Kan lo yang kasih ide”
“Lo—“
“Udah bisik-bisiknya?” tanya Dhea dengan raut wajah datar dan melipat tangan di d**a.
Glek. Regan dan Varel meneguk ludah.
“Ampun Dhea. Bukan salah gue aja tapi Abang lo yang kasih ide. Gue juga udah kehilangan motor kesayangan gue gara-gara balapan itu, terus lo juga ninggalin gue di arena balapan. Asal lo tau yah, gue baliknya jalan kaki sampe kaki gue panuan”
Aull dan Nisya terkikik. Inginnya sih tertawa terbahak mensyukuri nasib malang yang menimpa Varel—si manusia bule setengah sableng—yang bisa-bisanya mengeluarkan kata-kata lawaknya disaat keadaan terdesak.
“Haha syukurin!”
“Heh! Lo juga salah yah, Bang. Enak aja gue doang yang kena!” tukas Varel seraya menatap Regan kesal.
“Salah lo b**o! Gue Cuma kasih ide” Regan tidak terima saat disalahkan dan menjitak kepala Varel yang langsung Varel balas.
“Sa—“
“Lo berdua bisa diem nggak?!” bentak Dhea yang membuat semuanya terdiam.
Lalu, tanpa sepatah katapun Dhea langsung beranjak dari duduknya dan pergi begitu saja meninggalkan Regan, Varel, Aull dan Nisya yang saling menyalahkan.
“Terserah deh siapa yang salah! Tapi, kalau terjadi sesuatu sama Dhea berarti itu salah kalian berdua” ucap Aull dengan nada mengancam lalu pergi sambil menarik Nisya yang memberikan tatapan mengejek pada keduanya.
“Salah lo!” tukas Regan cepat seraya meninggalkan Varel yang terbengong di tempat.
“Kenapa gue mulu yang disalahin?” tanya Varel pada dirinya sendiri lantas beranjak dari kursi dan melangkahkan kakinya meninggalkan kantin. Hingga terdengar suara—
“Mas, makanan neng Dhea belum dibayar.”
Shit! Nasib gue gini amat!
***
“Sumpah gue bete!”
Sepanjang langkahnya, Dhea terus saja menggerutu dan mengumpati Varel juga kakaknya yang sudah membuat suasana hatinya semakin kacau. Bahkan Dhea tak menghiraukan sapaan beberapa mahasiswa yang berpapasan dengannya, walaupun tak jarang Dhe tanggapi dengan sebuah senyum tipis. Sampai di parkiran, Dhea langsung menaiki motor ninja merahnya meninggalkan area kampus dengan kecepatan di atas rata-rata.
“s****n! Mau mati?!”
TIN
TIN
Jalanan yang macet, perut keroncongan di siang hari ketika matahari sedang terik-teriknya adalah hal lumrah jika terdengar seruan dan u*****n kasar atau bunyi klakson yang dibunyikan terus menerus, saat salah seorang pengguna jalan seperti Dhea yang dengan seenaknya mengendarai motor dengan kecepatan di atas rata-rata bagaikan di arena balapan. Sedangkan Dhea? Gadis itu seakan tak perduli dan menulikan telinganya. Sampai disebuah belokan tajam, konsentrasi Dhea mulai terpecah seiring dengan bermunculan bayangan disertai suara benturan keras dan gemirisik air hujan. Pandangan Dhea mulai kosong tapi pikirannya dipenuhi dengan sekelebatan gambar bagaikan kaset rusak.
Sesak, sakit perlahan merayapi dadanya. Saat sebuah bayangan seseorang yang tergeletak dengan sebuket mawar putih dipelukannya yang kelopaknya berjatuhan dan berganti warna menjadi merah. Darah ...
“Ana, aku cinta sama kamu. Hingga nafas terakhirku.”
“Ana kamu suka mawar putih?”
“Aku membelikan kamu satu tangkai mawar putih, dari gaji pertamaku. Aku janji akan mengumpulkan uang lagi, agar bisa membelikan kamu satu buket mawar putih.”
“Ana, jika disuruh memilih. Aku ingin mati lebih dulu dari kamu, karena melihatmu pergi lebih dulu adalah hal yang paling menakutkan selain kematianku.”
“Sampai jantung ini tak berdetak dan nafas ini lenyap, namamu akan selalu ku ingat.”
Kalimat-kalimat itu terus berputar di kepala Dhea dan saling bersahutan bersamaan dengan kepingan-kepingan masa lalu seperti sebuah fuzzle. Dhea menggelengkan kepalanya, mengusir bayangan itu. Dhea memejamkan matanya sejenak dan mengatur nafasnya yang memburu, hingga tak menyadari bahwa ada sebuah mobil dari arah berlawanan. Gadis itu langsung membulatkan matanya dan berusaha menghindar seperkian detik sebelum—
BRAKK
BRUKK
“Awshh ... s**l! Mana gue tau kalau jatuh ketimpa motor itu sakit” dengus Dhea saat motornya jatuh setelah menyenggol body mobil dari samping.
“s**t! Anda bisa mengendarai motor tidak?!”
Dhea langsung berdiri dengan ringisan pelan saat mendengar bentakan dan u*****n dari sebuah suara yang ia duga pria, karena suara itu berat dan sedikit serak. Dhea memfokuskan matanya saat melihat sosok pria dengan jas yang melekat sempurna pada tubuh tegapnya. Pria itu sedang menunduk di samping mobilnya, nampak mengamati kerusakan pada mobilnya.
“Mampus! Bakalan kena omel Om-om”
Dhea menghampiri pria itu masih dengan memakai helm dan jaket hitamnya, seraya berdo’a dalam hati semoga ia bisa pulang dengan selamat.
Pria itu menjulang tinggi dihadapan Dhea yang memiliki tubuh lebih tinggi dari perempuan Indonesia pada umumnya. Kira-kira jika Dhea bandingkan, pria itu lebih tinggi dari kedua kakaknya. Ah! Dhea meringis dalam hati, bukan saatnya untuk menghitung tinggi badan. Terlebih saat pria itu menatapnya dengan tatapan tajam. Pria itu berambut cokelat, manik hazel, hidung mancung yang dinaungi dengan alis tebal, bibir tipis serta rahang yang ditumbuhi bulu-bulu halus, dan harus Dhea akui bahwa laki-laki itu tampan ralat sangat tampan dan—seksi? Yang jelas, kaum hawa pasti akan menengok dua kali untuk melihat maha karya Tuhan dengan pahatan-pahatan indah dan nyaris sempurna.
“Anda membuat mobil saya lecet dan membuat waktu saya terbuang sia-sia!” Dhea langsung terlonjak kaget saat pria itu membentaknya.
“Baru gue bilang ganteng. Ehh, taunya songong, galak lagi! Amit-amit, percuma modal tampan tapi mulutnya kayak setan!” Dhea berdecak dalam hati.
“Hei! Anda tidak tuli kan? Mengapa anda diam saja?” Pria itu menggeram.
“Yaelah, Om kalau ngomong nggak usah ngegas dong! Saya nggak budeg.”
Dhea membuka helmnya dan memperlihatkan cempolan rambutnya yang berantakan, lantas gadis itu melepas ikat rambutnya dan kembali mencepolnya lebih rapi.
“Hello ... ehh malah bengong? Awas Om ntar kesurupan, nanti gue yang repot.”
“Berisik! Berhenti panggil saya dengan sebutan Om!”
Dhea berpikir sejenak, “Kan om lebih tua dari saya” ujarnya mengejek.
“Sejak kapan saya nikah dengan Tante kamu?” Pria itu mendengus kesal dan menatap Dhea tajam.
“Kalau gitu, Om nikah sama saya aja mau?”
Pria itu terperangah, “Kamu—“
“Bye, Om ganteng” teriak Dhea sambil mengedipkan sebelah matanya dan langsung melajukan ninja merah miliknya meninggalkan pria itu yang terlihat menggeram marah dengan rahang yang mengetat.
“s**l! Awas kamu gadis bar-bar!”