Chapter 4. Meet Angel

2270 Kata
Seorang pria berparas tampan dengan setelan jas mahal yang melekat sempurna pada tubuh tegapnya itu keluar dari mobil mewahnya dengan raut wajah datar bahkan terkesan angkuh. Pria itu lantas memberikan kunci mobilnya pada seorang pria lain yang sudah menyambutnya dengan membungkuk hormat setelah membukakan pintu mobil mewah itu. “Selamat pagi, Pak.” Pria itu hanya mengangguk sekilas menanggapi sapaan sekertarisnya—laki-laki yang membukakan pintu mobilnya—lalu berjalan masuk ke dalam sebuah gedung dengan aksara besar yang terukir indah di atas pintu masuk dan dinding meja reseptionist yang bertuliskan ‘DG Group’. Di sepanjang lobby perusahan, sapaan demi sapaan terus terlontar dari karyawan yang sudah menyambut kedatangannya dengan hormat. Tak satupun ditanggapinya dengan senyum, hanya anggukan kepala sekilas dengan raut wajah datar. Tak memperdulikan tatapan kagum dari kaum hawa yang sebagian besar staff dan karyawan perusahaannya itu. Karena baginya, tatapan itu sudah biasa terjadi dimanapun ia berada. Bukankah wanita hanya melihat dari wajah rupawan dan kantong tebalnya? Pikir pria itu sinis. Sial! Karena gadis barbar itu, awas saja jika bertemu! umpat pria itu dalam hati. Pria itu berkali-kali melirik jam di pergelangan tangannya, bahkan saat pria itu memasuki lift khusus petinggi perusahaan. "Pak, Meeting sudah dimulai lima belas menit yang lalu." Pria itu hanya mengangguk dan meminta berkas-berkas yang berada dalam map dari tangan sekertarisnya, kemudian langsung memasuki ruang meeting diikuti sekertarisnya dari belakang. Dirgara Laksa Danuwarta, pria berparas tampan dengan pahatan nyaris sempura. Selain rupawan, ia pun di dukung dengan dompet tebal dan mendapat julukan ATM berjalan. Tentu saja, nyaris tak bisa dihitung berapa uang yang setiap bulannya masuk pada rekening pria itu sebagai seorang CEO dan pemilik perusahaan. Pemilik perusahaan DG Group yang sudah tidak diragukan lagi pencapaiannya dalam bidang properti, pariwisata dan perhotelan. Perusahaan yang kini sudah menjadi salah satu perusahaan terbesar di Indonesia dan mulai merambah hingga di beberapa negara bagian Eropa. DG Group merupakan perusahaan yang Dirga bangun dari jerih payah dan hasil keringatnya mulai dari nol, alih-alih memegang kekuasaan dan perusahaan warisan milik keluarganya. Hal ini menjadikan Dirga masuk dalam list pengusaha sukses di Indonesia yang diterbitkan Exlusive—salah satu majalah bisnis ternama di Indonesia. Atas kesuksesannya di usia yang masih terbilang muda yakni 28 tahun, Dirga menjadi sosok yang disegani baik oleh kawan maupun lawan di dalam dunia bisnis. Dengan wajah rupawan yang sering wara-wiri di televisi dan majalah bisnis ternama tak lupa dengan mendulang banyaknya prestasi, membuat Dirga banyak di kagumi kaum hawa dan menjadi incaran wanita-wanita dari berbagai kalangan sosialita, model, anak pejabat, atau anak konglomerat. Akan tetapi, dari semua wanita yang mendekatinya tak ada yang Dirga tanggapi. Laki-laki itu terlalu datar dan dingin, membuat wanita yang berlomba-lomba mendekatinya itu perlahan menjauh dan patah hati. Sikap dingin dan acuhnya ini kerap kali membuat issue di berbagai kalangan bahwa Dirga gay, hal yang ditanggapi pria itu dengan santai. Beberapa jam kemudian... Dirga memasuki ruangannya dan langsung menghempaskan badannya di kursi kerja setelah melepaskan jas dan mereggangkan dasi yang dipakainya. Ia memijat pelipisnya dan sesekali menghela nafas sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Lalu, laki-laki itu kembali menegakkan tubuhnya dan mengambil setumpuk berkas-berkas yang belum di tandatangani maupun dibaca nya. Kegiatan yang melelahkan akan tetapi sangat dicintainya, bagi seorang penggila kerja seperti dirinya. "Pak, apa anda perlu sesuatu?" tanya seorang wanita bername tag Lisa yang suaranya hampir seperti desahan itu secara tiba-tiba. Lisa—wanita itu merupakan asisten pribadi Dirga. Menjadi seorang pengusaha sukses dengan jam terbang yang gila-gilaan, membuatnya memerlukan dua orang sekaligus untuk membantunya. Yang pertama adalah sekertaris, seorang laki-laki yang menemaninya meeting dan mengurus masalah pekerjaan. Yang kedua adalah asisten pribadi, seseorang yang akan mengurus semua keperluan pribadinya bahkan hal-hal remeh seperti menyiapkan makanan atau mengingatkan jadwal meeting dan lain sebagainya. "Bisakah kamu mengetuk pintu terlebih dahulu? Di mana sopan santunmu?" bentak Dirga. "Ma-af, Pak. Saya tidak akan mengulanginya lagi." Wanita berpakaian kurang bahan dengan aset yang sepeti hendak tumpah itu menundukkan kepalanya dengan takut. "Mulai hari ini, silahkan keluar dari perusahaan saya! Bereskan barang-barangmu! Karena di sini saya mempekerjakan seorang asisten, bukan seorang jal*ng!” "Silahkan keluar!" Dengan bahu yang terkulai lemas, Lisa langsung meninggalkan ruangan itu. Musnah sudah harapannya untuk menjadi istri seorang CEO kaya raya. Jangan kan menjadi istri, dilirik pun tidak. Bahkan atasannya itu menatapnya dengan jijik. "Selamat siang, pak Dirga Danuwarta." Seorang pria yang sama tampannya dengan Dirga masuk ke dalam ruangan. "Nggak usah sok formal lo sama gue!" Pria itu terkekeh saat Dirga mencibirnya, "Nggak kangen sama gue?" Dirga mendengus dan lantas langsung berdiri menghampiri pria itu lalu ber tos ria. "g****k! Gue nggak doyan batangan." Lagi-lagi pria itu terkekeh dan langsung duduk di sofa ruang kerja Dirga tanpa dipersilahkan terlebih dahulu. "Ekhm, Ga. Tenggorokan gue kok tiba-tiba gatel," ujar pria itu sambil memegang lehernya yang hanya ditanggapi Dirga dengan dengusan. "Nggak usah kode-kode kayak perempuan! Bilang aja minta minum," ucap Dirga ketus. Akan tetapi, pria itu tetap beranjak dari duduknya karena asisten pribadinya sudah ia pecat beberapa jam yang lalu. Mau tak mau, ia yang harus turun tangan langsung melayani tamunya. "Mau minum apa?" "Jus jeruk esnya di banyakin," ucap pria itu santai tanpa menghiraukan Dirga yang berdecak. Tamu kurang ajar yah begitu, banyak maunya! "Lo kira kantor gue restoran." "Yaudah apa aja." "Air bekas cuci piring mau?" "s****n! Nggak ikhlas banget ngasih gue minum." Pria itu melotot dan mendengus membuat Dirga terbahak lalu berjalan ke ruangan khusus yang terdapat di ruang kerjanya. Di dalam ruang khusus itu terdapat sebuah kamar, sofa lengkap dengan televisi, perpustakaan kecil dan juga dapur yang dilengkapi kitchen set. Pria itu memandang punggung tegap Dirga yang menghilang dibalik pintu. Rasanya ia tak percaya bisa bersahabat dengan sosok seperti Dirga bahkan sedari sekolah menengah atas. Terlebih lagi, perbedaan sifat keduanya. Dirga yang galak, pemarah, ketus, sinis, arrogant dan diktator tidak pernah berubah dari dulu hingga sekarang ini. Bahkan Dirga terkenal sebagai bos yang arrogant dan tak akan segan memecat bawahannya yang membuat kesalahan. Kekejaman Dirga, sudah tidak asing lagi dalam dunia bisnis. "Nih!" Dirga meletakan jus jeruk di meja dan langsung di minum oleh pria itu. "Pak Dylan—“ ucapan Dirga terpotong saat handphonenya berbunyi. Ia langsung mengangkat telepon dan rahang nya tiba-tiba mengeras membuat Dylan mengernyit bingung. "APA? HILANG?" " .... " "DASAR BODOH! CARI SAMPAI KETEMU ATAU SAYA BUNUH KALIAN!" teriak Dirga murka sambil mematikan telpon. "Kenapa, Ga?" tanya Dylan. Dirga menghela nafas pelan, lalu memijat dahinya yang terasa berdenyut, "Bodyguard bodoh itu lagi-lagi melakukan kesalahan, jaga satu orang aja tidak becus!" "Tinggal lo pecat, ganti sama yang lebih kompeten," ujar Dylan santai. Dirga hanya mengangguk sekilas. Suatu hal yang mudah bagi seorang Dirga untuk memecat bawahannya yang tidak becus dalam bekerja, mengingat betapa arrogantnya Dirga. Sangat cocok dengan slogan ‘sudah tidak ada kata maaf bagimu.’ *** Dhea memberhentikan motornya saat ia sudah berada di sebuah taman, tempat favoritenya. Kemudian Dhea turun dari motor, ia memandangi sekelilingnya dan melihat banyak orang yang berlalu lalang juga banyak didirikan stand penjual makanan. Ah! Dhea ingat, hari ini taman itu dijadikan tempat festival kuliner. Karena di hari biasa taman itu cukup tenang tidak seperti sekarang, begitu ramai. Manik biru pucat Dhea berpendar, hingga pandangannya jatuh pada sosok gadis kecil berkuncir dua yang sedang duduk di dekat air mancur tengah menundukan kepalanya. Dengan langkah pelan Dhea mendekati gadis yang perkiraannya sudah menempuh pendidikan taman kanak-kanak, terlihat dari seragam yang dipakainya yang Dhea tahu letak taman kanak-kanak itu yang memang dekat dengan taman. Dhea berdiri di hadapan gadis kecil itu, membuat gadis itu mendongkak dan menatap Dhea dengan mata bulatnya yang terlihat menggemaskan dan juga familiar? Tidak! Dhea yakin bahwa ini pertama kalinya ia melihat gadis kecil itu. Akan tetapi, gadis kecil mata bulat dengan manik hazel itu mengingatkan Dhea pada seseorang. Bisa gue bawa pulang nggak sih? Jerit Dhea dalam hati melihat bagaimana menggemaskannya gadis kecil yang sepertinya blasteran, entah itu bapak atau ibunya yang bule. Jangan salah! Meskipun Dhea begitu barbar dan urakan, gadis itu sangat menyukai anak kecil dan kebanyakan anak kecil juga suka kepada Dhea. Inginnya sih punya anak kecil sendiri, tapi mengingat ia yang masih jomblo terasa sangat mustahil. Jangankan punya anak, kalau calon bapaknya saja belum ada. "Halo? Nama kakak Dhea. Kalau kakak boleh tau, nama kamu siapa cantik?" tanya Dhea lembut dengan tatapan hangat dan senyuman manis. Gadis kecil itu terdiam dan menatap Dhea takut sekaligus bingung. Membuat Dhea menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Mungkinkah gadis kecil itu tidak mengerti bahasa Indonesia? Mengingat gadis kecil itu sepertinya blasteran. Atau gadis kecil itu mengira dirinya penjahat? Tentunya hal ini membuat Dhea meringis dalam hati. Dan seingatnya ia masih cantik jelita, jadi mana mungkin disamakan dengan penjahat. Meskipun kadang ia bisa lebih menakutkan dari penjahat. Perlahan gadis itu tersenyum membuat Dhea menghela nafas lega. “Aku Angel. Kakak bukan olang jahat kan?" ucapnya dengan sedikit cadel. "Angel? Nama yang cantik sekali. Tenang, kakak bukan orang jahat kok.” "Makacih kakak, kakak juga cantikkkk anget." Dhea terkekeh pelan dan mengusap pucuk kepala gadis kecil itu dengan sayang. "Tapi ... Tadi kok, kakak liat wajah cantik Angel cemberut kayak bebek?" tanya Dhea membuat gadis kecil bernama Angel itu kembali memberengut kedua bibirnya dan menunduk. "Angel ingin es klim, tapi ndak punya uang," ujar gadis kecil itu dengan raut wajah sedih. "Gimana kalau kakak yang bayarin?" Ucapan Dhea membuat gadis kecil itu berbinar-binar menatapnya. "Benel, Kak?" "Benar sayang, Angel boleh makan es krim sepuasnya," ucap Dhea tersenyum tulus dan mengusap kepala Angel dengan lembut. "Ayo kak, kita beli es klim," ucap Angel semangat lalu menarik tangan Dhea menunju stand penjual es krim yang berada tidak jauh dari mereka, membuat Dhea menggelengkan kepalanya. Dhea memandang lekat wajah cantik Angel, gadis kecil yang baru saja ia kenal tetapi entah mengapa ia langsung menyayangi Angel. Gadis itu seperti malaikat kecil yang membuat hatinya tenang walau hanya dengan memandang wajahnya. Lagi-lagi Dhea tersenyum melihat Angel yang sedang memakan es krimnya dengan lahap. Gadis itu hanya membeli satu cup es krim rasa strawberry dan meminta Dhea untuk memakan es krim bersama. "Kakak, suapin," ujar Angel manja. "Aaaa... pesawat mau mendarat." "Makannya belepotan sekali sih," ucap Dhea sambil mengusap es krim yang belepotan di bibir Angel dengan tangannya. Perlakuan lembut Dhea membuat mata Angel berkaca-kaca dan langsung berhambur ke pelukan Dhea sedangkan Dhea begitu kebingungan dengan sikap Angel. "Cup ... cup ... kenapa nangis, Sayang?" Dhea mengusap dan mencium pucuk kepala Angel dengan sayang. "Angel ... hiks ... kangen mommy," ucap Angel dengan terisak. "Memangnya mommy Angel kemana?" "Kata Daddy, mommy Angel udah di sulga." Dhea merasa prihatin dengan keadaan Angel yang masih kecil tetapi sudah tidak kehilangan figur dan kasih sayang seorang ibu. Dhea tidak bisa membayangkan jika ia yang berada di posisi Angel. Meskipun mamanya cerewet dan sering marah-marah, tetapi ia tahu bahwa itu adalah bentuk perhatian dan kasih sayang mama terhadap nya. Dhea sangat menyayangi mamanya, rasanya ia ingin cepat pulang, lalu memeluk mamanya dan meminta maaf atas segala kelakuannya yang sering membuat mamanya marah. "Ssttt ... Angel jangan nangis lagi nanti mommy Angel juga sedih. Sekarang kan ada kak Dhea." Angel menghapus air matanya lalu memandang Dhea lekat. "Kakak mau jadi mama Angel?" tanya Angel dengan tatapan berharap, membuat Dhea tidak tega melihatnya. Mungkin tidak ada salahnya, ia menjadi mama untuk Angel. Meskipun, Dhea sendiri terkejut bukan main. Siapa yang tidak terkejut jika diminta menjadi seorang ibu diusia muda dan mendapatkan seseorang anak yang sudah sebesar Angel. Namun, akhirnya Dhea menganggukkan kepalanya dan membuat Angel langsung memeluknya dengan erat. "Mama Dhea." Dhea meneteskan airmatanya lalu mengecup kening Angel dengan lembut. Akhirnya mereka menghabiskan waktu dengan bermain dan bercanda tawa, lalu menjelajahi berbagai kuliner dan mencicipinya. Hingga tak terasa sudah menghabiskan waktu sampai setengah hari. "Mama, Angel mau pulang." Angel mendongkak dan menatap manik mata Dhea. “Pulang?” Dhea menatap Angel tak rela. Rasanya Dhea ingin membawa Angel pulang ke rumahnya. Tapi ia mengingat bahwa Angel masih mempunyai keluarga, Daddynya. “Ayo, mama antar.” Dhea hendak beranjak tetapi tangannya langsung ditarik oleh Angel. "Nggak usah, Ma. Angel takut papa marah sama mama gala-gala Angel. Mm.. boleh angel pinjam hp mama?" Dhea mengerutkan keningnya tetapi langsung mengambil handphonenya di dalam ransel dan menyerahkannya kepada Angel. "Halo, Om. Jemput Angel di taman yang banyak penjual makanan nya itu, sekarang!" " .... " "Cepetan! Nggak pake lama." " .... " "Iyah." Angel mematikan sambungan telepon dan menyerahkan handphone itu ke tangan Dhea. Dhea menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali, anak kecil zaman now memang canggih. Buktinya, kebanyakan anak seusia Angel sudah biasa memainkan Hp. Berbeda dengan zamannya Dhea masih kecil, yang mainannya masih barbie. “Angel telepon papa?” Angel menggeleng, “Papa sibuk. Tadi Angel telepon om badan kekel yang suka jagain Angel.” Dhea mengernyit. Maksudnya om badan kekar itu semacam bodyguard kah? Karena sewaktu Dhea kecil pun papanya selalu menyewa bodyguard untuk menjaganya, bahkan sampai sekarang. Hanya saja bodyguard itu tidak menampakkan dirinya dan hanya muncul di saat keadaan terdesak. "Mama, Angel sayang mama. Angel pengen mama Dhea jadi mama Angel benelan.” “Lohh, memangnya papa Angel mau sama mama Dhea?” Angel mengangguk, “Pasti mau. Mama kan cantik kayak Angel.” Dhea lantas terkekeh. “Angel pasti kangen mama." Angel memeluk pinggang Dhea dengan erat. "Mama juga pasti kangen Angel." Tak lama seorang pria berbadan kekar datang menghampiri keduanya, pria itu awalnya menatap Dhea dengan menyelidik dan curiga. Namun, setelah Angel membujuk pria itu agar tidak menanyai Dhea dan tidak memberitahunya papanya, akhirnya pria itu pergi membawa Angel. Setelahnya, Dhea merasakan kehilangan akan sosok malaikat cantik yang baru saja ditemuinya tetapi sudah disayanginya. Gadis itu membuat Dhea merindukan mamanya yang sering memarahinya tetapi begitu menyayanginya. Dhea bergegas pulang dan langsung menaiki ninja merahnya. Dhea jadi ingin menangis dan memeluk mamanya serta meminta maaf atas kelakuannya yang sering membuat mamanya marah. See you Angel
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN