Chapter 5. Nisya Problem

1739 Kata
Dhea melangkahkan kakinya di koridor fakultas dengan langkah malas. Hari ini Dhea ada kelas pagi dan berangkat lebih pagi dari biasanya jika tidak ingin terlambat masuk kembali. Kuliah pagi berarti bangun pagi atau tidak bisa melanjutkan tidur kembali setelah melaksanakan ibadah shalat subuh, hal yang membuat Dhea malas. Kasur dan segala kenyamanan yang ditawarkannya membuat Dhea betah berlama-lama untuk rebahan. Kalau kata Aull, Dhea itu kaum rebahan. Tidak bisa mengabaikan tempat yang adem dan luas, pasti langsung selonjoran terus rebahan. Rebahan every day, every where, every time. "Hai sepupu, tumben datang pagi?" Sapa Varel seraya merangkul bahu Dhea. Dhea yang sedang tidak mood meladeni Varel hanya bisa pasrah dan meletakkan kepalanya di bahu Varel. Tentunya hal ini tidak disia-siakan oleh Varel, tumbenan kan Dhea bisa jinak. Biasanya selalu beringas dan menindasnya. Varel sepupu yang selalu tersakiti. "VAREL! BALIKIN COKLAT GUE!" Teriak Aull dari kejauhan yang membuat Varel gelagapan. Laki-laki itu langsung menegakkan tubuh Dhea dan menjadikan sepupunya itu sebagai tempat persembunyian yang jelas-jelas percuma. Tubuh Varel yang tinggi besar bersembunyi dibalik tubuh Dhea yang dua kali lipat lebih kecil darinya, yang dari jauh pun tubuh laki-laki itu sudah terlihat. “VAREL!” Akhirnya Varel hanya bisa pasrah dan menghampiri Aull, "Apasih Aull? berisik lo! Gue juga bisa beli tuh coklat satu truk" Ucap Varel sambil menyerahkan coklat milik Aull. "GUE NGGAK PEDULI, s****n! LO BIKIN GUE MALU SAMA KAK RAY" Teriak Aull mencak-mencak dan memukul badan Varel memakai tasnya dengan brutal. "Ampun ndoro... ntar kegantengan gue luntur" “Iyah! Karena gantengnya lo itu palsu, pantes luntur!” Cibir Aull dengan masih memukul badan Varel tanpa ampun membuat Varel meringis. "Kalian bisa diem nggak sih? Kepala gue pusing!" Teriak Dhea yang langsung menghentikan aksi Aull dan membuat beberapa mahasiswa yang sudah berada di koridor menengok ke arahnya. "Hehe..sorry, Dhe. Gue nggak liat lo" Dhea hanya mendengus dan memutar bola mata malas mendengar ucapan Aull. “Wahh parah! Sepupu gue yang segede gitu lo nggak liat? Ini namanya penghinaan Dhea” Varel mulai menjadi memanasi. Dasar Varel kompor meleduk! “Terserah!” Ujar Dhea malas dan berlalu pergi. Varel dan Aull saling berpandangan. “Dhea kenapa?” Varel menggedikkan bahu, “Mana gue tau! Emang gue emaknya” Aull langsung menjitak kepala Varel, “Lo kan sepupunya. Rumah lo juga di samping rumah Dhea” “Oh, iyah. Lupa” Ucap Varel dengan cengiran. “Dasar pikun!” Beberapa saat kemudian. Dhea dan Varel melangkahkan kakinya menuju kantin fakultas setelah masuk ke dalam kelas dan mendapat pemberitahuan bahwa dosen tidak masuk. Tentu saja hal itu membuat Varel dan Dhea berseru senang dan tanpa membuang wantu langsung pergi ke kanti. Berbeda dengan Aull dan Dhea yang terpisah kelas meskipun satu jurusan, justru Dhea dan Varel satu kelas. Hal demikian yang membuat Varel senang karena bisa mendapat contekan tugas dari sepupunya yang berotak genius itu. Lain halnya dengan Nisya yang satu kelas dengan Aull. “Nisya kemana?” Tanya Dhea seraya duduk di samping Aull yang tengah memakan bakso di kantin. Aull menggedikkan bahu, “Nggak tau, tadi dia juga nggak masuk” Ujar Aull setelah menelan bakso yan dikunyahnya. “Dia ada kasih kabar?” Aull menggelengkan kepala. "Jangan-jangan si Nisya menang doorprize duit satu milyar! Terus dia nggak ngampus karena nggak mau bagi-bagi. Wahh! Parah.. parah..." Tukas Varel ngawur dan langsung mendapat jitakan dari Aull dan Dhea. "Kebanyakan ikut kuiz yah lo? Nggak menang jadi gila! " Ucap Dhea sarkas. "Kejam banget sih lo jadi sepupu, sekali ngomong ngena banget ke hati" Varel memegang jantungnya dan mendramatis membuat Aull tertawa sedangkan Dhea hanya menatapnya jengah dan mencibir. "Hidup lo kebanyakan drama. Dasar gila!" Varel hanya mencebikan bibirnya mendengar ucapan Aull. Dhea mengedarkan pandangannya disekitar kantin dan melihat Reno pacar Nisya yang baru dua minggu jadian dengan Nisya itu tengah tertawa bersama teman-temannya. Ia merasa ada yang janggal karena Nisya tidak seperti biasanya bolos tanpa memberi kabar kepada mereka, sedangkan Reno terlihat fine-fine saja bahkan terlihat jauh lebih bahagia. Bukankah itu aneh? "Lo berdua tuh yah—ehh! Dhea lo mau kemana?" Tanya Varel ketika melihat Dhea beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah Reno dan teman-temannya tanpa menghiraukan ucapan Varel. "Hebat banget lo Ren, bisa pacaran sama Nisya salah satu primadona kampus dalam waktu 2 minggu" Ucap salah satu teman Reno sambil tertawa. "Gue bilang juga apa? Cuma naklukin si Nisya mah gampang" Ujar Reno sombong. "Hebat juga lo.Tapi, gue masih meragukan lo sebagai player. Karena Nisya itu masih nggak ada apa-apanya dibandingkan Dhea. gue yakin sih, kalau Dhea pasti nggak bisa lo taklukin” "Berani taruhan berapa lo? Jangan raguin kemampuan gue! Emang lo rela ngelepasin motor sport kesayangan lo kaya si Robby?" Sahut Reno yang langsung mendapat sorakan dari teman-temannya. Dhea mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Apa-apaan ini! Sahabatnya dijadikan bahan taruhan dan disamakan dengan sebuah motor sport? Benar-benar keterlaluan! "s****n lo! Oke, gue ngaku kalah dan lo menang taruhan, itu juga karena yang lo pacarin itu Nisya bukan Dhea"  Cibir Robby yang duduk disamping Reno. Bajingan b******k! Umpat Dhea dalam hati. Dari awal Dhea memang tidak setuju hubungan Nisya dan Reno. Alasannya? Karena Reno itu player dan suka bermain wanita, suka pamer, sombong, b******n, b******k dan pulang pergi club malam. Dhea akui, Reno memang tampan dan juga anak konglomerat  sebagai nilai plusnya. Hal itu menjadikan Reno menjadi pujaan hati para kaum hawa terutama di kampusnya, meskipun mereka tahu akan dicampakkan setelah laki-laki itu bosan. Selain itu, sedari awal masuk kampus Reno sudah sering mengejarnya dan mendekatinya. Bahkan laki-laki itu mengikuti UKM taekwondo yang Dhea ikuti, membuat Dhea malas dan akhirnya keluar UKM. Bukankah aneh jika Reno langsung berpindah mendekati sahabatnya setelah bertahun-tahun mengejar Dhea? bahkan langsung pacaran dalam kurun waktu dua minggu. BRAKKK Dhea memukul meja yang berada dihadapan Reno dan teman-temannya membuat mereka terdiam dan saling melirik satu sama lain. Tak hanya itu, Dhea langsung menjadi pusat perhatian di kantin yang sedang ramai-ramainya. Namun, Dhea memilih untuk tak memperdulikan pandangan berpasang-pasang mata itu. Menjadi pusat perhatian adalah hal biasa baginya. "b******n LO! DASAR BANCI! Maksud lo apa jadiin temen gue bahan taruhan?" Bentak Dhea dengan mata yang mentap tajam ke arah Reno. Tatapan tajam Dhea sejujurnya membuat nyali Reno menciut tetapi karena gengsinya lebih besar dari pada rasa takutnya Reno lantas balas menatap Dhea. "BUKAN URUSAN LO!" "Apa gue nggak salah denger? hah! Bukan urusan gue lo bilang? Semua orang juga tahu kalau Nisya itu sahabat gue! Dan gue nggak akan biarin orang lain nyakitin sahabat gue!" Ucap Dhea dengan penuh penekanan. Dhea mencengkram kemeja Reno dengan tangan yang terkepal kuat sedangkan Reno sudah dibanjiri keringat dingin belum lagi wajahnya yang pucat. "Terus gue perduli? NGGAK! Bukan salah gue kalau jadiin dia bahan taruhan. Dianya aja yang murahan!" "b******k!" Dhea hendak melayangkan tinjunya ke wajah Reno tetapi tangannya langsung ditahan oleh Varel dan Aull yang sudah menghampiri Dhea ketika Dhea sudah hilang kendali. "Dhea please ini kampus lo jangan bikin keributan disini, ingat nyokap lo" Dhea menghela nafas dan langsung melepaskan cengkramannya di kemeja Reno setelah mendengar suara Aull. Dia tidak ingin mamanya kembali mendapat panggilan dari dosen karena ulahnya. Sudah cukup selama ini, ia membuat mamanya marah. Padahal baru saja satu minggu yang lalu ia membuat mamanya marah karena balapan liar dan membuat salah satu teman kampusnya masuk rumah sakit. Lagi pula ia sudah berjanji pada kak Dylan agar tidak membuat ulah dan membuat mama marah. Jika ia kembali membuat mama marah lagi, kak Dylan tidak akan membantunya dari hukuman yang mama berikan. "Ck. Anak mami ternyata" Ucap Reno dengan pandangan meremehkan membuat Dhea naik pitam ingin membunuh Reno. "Dasar banci lo!" Bentak Dhea dan hendak melayangkan tinju ke arah Reno tetapi dihalangi oleh Varel. "Ck. Oke kita buktikan siapa yang anak mami lo atau gue? Gue tunggu pulang kuliah ditempat latihan taekwondo, kalau lo nggak datang berarti lo loser!" “Deal!” Ujar Reno sombong.     ***           Seluruh mahasiswa belum ada yang beranjak meninggalkan area kampus, bahkan setelah mereka usai pada kelas terakhir dan memilih umtuk memenuhi tempat latihan taekwondo atau biasa disebut dojang, yang luasnya seperti aula dengan kursi yang bejajar dari atas  seperti disebuah stadion. Pihak kampus menyediakan tempat latihan taekwondo yang fasilitasnya bagus karena banyaknya mahasiswa yang berminat pada UKM tersebut. Selain itu, fasilitas bagus tersebut ditunjang oleh banyaknya prestasi yang dimenangkan mahasiswa UKM taekwondo dalam perlombaan nasional hingga internasional. Mahasiswa perempuan bersorak dengan teriakan toanya saat melihat Reno memasuki area tanding dan dibalas teriakan keras para mahasiswa takala Dhea sang primadona kampus memasuki area tanding lengkap dengan dobok—istilah untuk seragam taekwondo—yang membuat Dhea terlihat cantik dan juga keren secara bersamaan. "Mau tetap lajutkan pertandingan? Lo lupa kalau gue anak UKM taekwondo, sedangkan lo bukan. So? Bukannya udah keliatan siapa pemenangnya?" Ucap Reno sombong. "Asal lo tau gue nggak pernah meremehkan lawan karena itu bukan sikap seorang ksatria" Balas Dhea dengan raut wajah datar. Setelah itu datang salah seorang seonbae—senior taekwondo yang akan menjadi menicip atau pengawas taekwondo. Tak lama kemudian pertandingan dimulai dengan diawali salam hormat membungkukkan setengah. Pertandingan itu berjalan dengan sengit belum lagi Dhea yang mulai kewalahan dengan kecurangan Reno. Wajah mereka sudah lebam-lebam tetapi tidak ada yang menyerah. BUGH Reno menendang perut Dhea pas diulu hatinya membuat Dhea langsung tersungkur diatas matras. Banyak mahasiswa maupun mahasiswi menjerit terlebih lagi melihat Dhea yang agak kesusahan saat berdiri. Lo harus bisa Dhea demi Anisya batin Dhea menyemangati. Baik Varel maupun Aull mereka benar-benar cemas melihat keadaan Dhea yang hampir pingsan berbeda dengan Reno yang kini tersenyum miring. Kamu adalah gadis yang kuat Dhea mengerjapkan matanya saat mendengar suara seorang laki-laki. Dengan susah payah ia kembali bangkit membuat semua orang meneriaki namanya memberi semangat. Bahkan ketika pertandingan di hentikan sejenak, Dhea hanya menghela nafas dan kembali meminta seonbae untuk melanjutkan pertandingan kembali. "Siap menerima kekalahan?" Dhea hanya menatap datar Reno yang meremehkan. Reno dan Dhea kembali bertanding menyisakan waktu 5 menit sebelum pertandingan akhirnya dinyatakan selesai. SRAKKK.. DUAKK.. BUGHHH... Dalam kurun waktu 5 menit, Dhea berhasil melakukan dua tendangan taekwondo paling mematikan. Serangan pertama dilakukan dengan teknik Arae Ap Chagi, teknik yang sangat manjur untuk wanita yaitu dengan mengarahkan tendangan pada kemaluan lawan. Hingga Reno terpekik kesakitan dan hilang konsentrasi. Setelah itu dilanjutkan dengan teknik Yeop Chagi, tendangan yang ekstrim dengan mengarahkan tendangan pada kerongkongan lawan. Hal ini yang menyebabkan Reno memutahkan darah dan langsung terjatuh. Reno terkapar tepat saat waktu pertandingan habis. Semua pendukung Dhea bersorak kegirangan termasuk Varel dan Aull yang langsung memapah badan Dhea yang terkulai lemas. Semua orang yang berada didalam ruang latihan taekwondo berhamburan keluar. "Dhea Nathalian Bramantha, ke ruangan saya sekarang!" DEG Dhea, Varel maupun Aull menegang seketika dan membalikan badan secara bersamaan yang langsung disambut tatapan tajam oleh Dekan kemahasiswaan. Mati! Bukan hanya hukuman dari kampus yang akan diterimanya tapi juga hukuman dari mamanya. Mengapa pula mama Dhea harus menitipkannya pada Dekan kemahasiswaan, menjadikan bapak Dekan terus mengawasinya selama di kampus. Padahal jika dalam keadaan normal, Dekan beserta jajarannya itu sangat sulit untuk ditemui karena saking sibuknya. Sial! Ingin rasanya Dhea berkata kasar karena setelah ini tamatlah riwayatnya, habislah hidup Dhea. Padahal Dhea belum ketemu jodoh, ehh?  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN