Sungguh! Dhea lebih memilih duduk dan ditatap tajam oleh dosen terkiller seantero kampus, dibandingkan harus berhadapan dengan mamanya yang sedari tadi diam menandakan sebuah bencana dan malapetaka untuk Dhea. Diamnya orang yang marah itu biasanya lebih menakutkan, dibandingkan orang yang meluapkan amarahnya. Terlebih lagi orang yang seperti mama Dhea, jika marah selalu saja mengomel. Akan jadi pertanyaan jika tiba-tiba marahnya mama Dhea itu diam, biasanya sudah kelewat marah dan kecewa. Itu berbahaya! Karena orang marah bisa dibujuk rayu, beda halnya dengan orang yang terlanjur kecewa yang bahkan sulit untuk mendapatkan kepercayaannya lagi.
Dhea hanya bisa mendengus dalam hati melihat wajah mengejek dari kakaknya—Regan yang ingin sekali ia timpuk memakai sepatu. Untung saja papanya sedang berada di luar kota jadi Dhea tidak harus mendapatkan tambahan ceramahan dari papanya. Akan tetapi, sangat disayangkan kak Dylan belum pulang dari kantor sehingga membuat Dhea merasa terpojok tanpa ada yang membela.
"Ma, maafin Dhea" Ucap Dhea pelan seraya menundukan kepalanya.
Dhea hanya menghela nafas ketika mamanya memilih diam daripada menceramahi Dhea seperti biasanya, itu membuat Dhea takut sekaligus sedih.
"Dhea tau Dhea salah, tapi apa Dhea harus diam aja ketika melihat sahabat Dhea disakiti?"
"Mama tidak menyalahkan kamu yang membela sahabat kamu, tapi nggak harus memakai k*******n kan? Kamu memilih ingkar janji sama mama. Mama kecewa sama kamu, Dhea!"
Tes
Satu tetes air mata jatuh dari pelupuk mata Dhea. Ucapan Mamanya begitu menohok hatinya dan membuat Dhea tak berkutik sama sekali. Sudah berkali-kali ia membuat onar dan sering kali membuat mamanya harus bolak-balik dipanggil Kepala sekolah dan sampai saat ini dipanggil Dekan kemahasiswaan di kampusnya.
"Mulai besok fasilitas kamu mama sita! Dan selama kamu diskors, kamu akan mama kirim ke perusahaan kolega papa mu." Dhea membelalak kedua matanya.
APA? JANGAN BILANG KALAU—
"—kamu akan bekerja di sana. Agar kamu bisa bertanggung jawab!"
KERJA?
OH MY! Dhea hanya bisa menjerit dalam hati. Bekerja? Ia masih kuliah, bahkan masih semester 5 yang artinya belum ada pengalaman magang di perusahaan. Bisa dibayangkan bagaimana posisinya di perusahaan yang katanya kolega bisnis Papa, bisa-bisa ia jadi office girl. Dan jangan lupakan fasilitas Dhea yang akan disita. s**t! Dhea tak masalah jika yang disita hanya berupa laptop, dompet beserta kartu debit dan kredit, tapi jika motor kesayangannya? No! Dhea tak mau.
“Tap—“
"Tidak ada bantahan! Mama benar-benar kecewa sama kamu" Ujar sang Mama yang berlalu begitu saja tanpa menatap Dhea sama sekali. Dhea hanya menatap punggung mamanya yang telah menjauh dengan perasaan bersalah.
"Puas lo?" Dhea menatap Regan yang duduk disofa dengan tatapan tajam.
"Sorry my little sister. Gue nggak bisa bujukin mama, tau sendiri kalo mama marah tuh nyeremin dan gue bukan kak Dy yang kayak ubin majid bisa langsung bikin mama adem. Sini gue obatin luka lo" Ucap Regan menepuk pucuk kepala Dhea dan menarik lengan adiknya menunju kamarnya untuk mengobati lebam-lebam diwajahnya.
Maafin Dhea, Ma.
***
“Hufftt...”
Dhea langsung menghembuskan nafas lega sesaat setelah turun dari angkutan umum yang penuh dan sesak itu. Karena motornya yang disita sang Mama, Dhea terpaksa menaiki angkot menuju alamat perusahaan kolega bisnis Papanya yang sudah mamanya berikan.
Seumur-umur Dhea baru pertama kali menaiki angkot karena terlalu sering mengendarai motor. Sebenarnya Dhea pernah menaiki angkutan umum seperti busway atau kereta yang meskipun dipenuhi penumpang ia masih bisa menikmati dinginnya AC. Bukan angkot yang kadang mesipun joknya sudah dipenuhi penumpang tetapi tetap saja supirnya memaksakan menaikkan penumpang lain hingga berdesakan dan berhimpitan. Yang lebih sialnya lagi, Dhea harus terhimpit di antara laki-laki berbadan kekar yang ketiaknya bau. Tidak hanya itu, ada penumpang yang membawa beberapa ayam hidup yang tidak dimasukkan ke dalam keranjang dan hanya diikat kakinya, juga tak lupa ayam-ayam itu yang mengeluarkan suara dan memberontak hingga bulu-bulunya bertebaran. Serta ada penumpang laki-laki yang merokok di tengah angkot yang berdesakan. Benar-benar tak ada akhlak!
Rasanya Dhea seperti kehabisan oksigen saat berada di dalam angkot karena kebanyakan menghirup karbon dioksida atau bisa disebut gas beracun. Untunglah perusahaan kolega papanya tidak begitu jauh dan hanya memakan waktu satu jam saat keadaan macet, bisa dibayangkan jika memakan waktu berjam-jam? Sepertinya Dhea bisa pingsan duluan.
Dhea memandang gedung perusahaan yang menjulang tinggi dan berdiri kokoh dihadapannya yang hampir sama besarnya dengan kantor papa yang kini dikelola kakaknya—Dylan.
‘DG Group’
Perusahaan yang bekerja dibidang proprti, pariwisata dan perhotelan. Termasuk kedalam jajaran perusahaan terbesar di Indonesia dengan cabang yang sudah merambah dibeberapa negara di Eropa—begitulah informasi yang Dhea baca pada salah satu majalah bisnis milik papanya. Tidak lucukan jika ia akan bekerja disuatu perusahaan tapi tidak mengetahui sedikitpun informasi mengenai perusahaan itu. Yeah, setidaknya Dhea sedikit tahu. Meskipun mengenai pemilik atau CEO perusahaan, Dhea tidak berminat mencari tahu. Pikirnya pasti CEO yang akan menjadi bossnya itu sudah seumuran papany, jadi ia terlalu malas mengorek informasi bapak-bapak yang sudah beristri.
Dhea memasuki gedung itu dan langsung menjadi pusat perhatian para karyawan yang sedang berlalu lalang. Dhea melihat penampilannya yang menurutnya tidak ada yang salah, ia merapikan rambutnya yang hari ini hanya ia kuncir kuda. Dengan cuek Dhea menghampiri meja resepsionis yang langsung disambut senyuman mbak resepsionis itu. Dalam hati ia menghela nafas lega setidaknya mbak resepsionis itu ramah dan tidak memandangnya aneh. Hell! Memangnya dia makhluk luar angkasa, semacam alien hingga di tatap aneh. Padahal ia tidak merasa bahwa penampilannya aneh dengan memakai kemeja, celana jeans dan sneakers kebanggannya.
"Ada yang bisa saya bantu hmm...?
"Dhea, panggil saya Dhea" Ucap Dhea sambil tersenyum melihat name tag mbak resepsionis—Sella.
"Oh iyah Dhea, Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya mau interview"
“Oh! Kamu pegawai baru itu. Langsung saja menuju lantai 24”
"Oke. Makasih, Mbak Sella"
Dhea lantas tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah Sella sebelum akhirnya memasuki lift. Sella tersenyum lantas terkekeh setelah Dhea pergi menurutnya Dhea gadis yang sangat cantik dan unik.
Ting
Dentingan suara lift menyadarkan Dhea yang sedari tadi melamun lantas membuatnya buru-buru keluar lift.
Dhea mengerutkan keningnya saat menginjakkan kakinya di lantai 24. Lantai 24 itu sangat sepi dan di sana hanya ada dua ruangan dengan pintu berwarna hitam dan cokelat. Bukankah seharusnya ia diinterview oleh HRD perusahaan, begitulah yang Dhea tahu saat hendak masuk ke sebuah perusahaan. Jangan bilang ia langsung bekerja tanpa interview? Pasti ini ulah mamanya. Oh my! Dhea hanya bisa pasrah saat melihat tulisan dengan ukiran cantik yang terpampang disebuah pintu berwarna hitam ‘CEO DG Group’.
Hingga Dhea dikagetkan oleh sosok laki-laki yang tiba-tiba keluar dari sebuah pintu bewarna cokelat yang langsung berdiri dihadapannya.
“Selamat siang. Perkenalkan saya Pandu, sekertaris CEO. Apakah anda Dhea Nathalia?”
Dhea hanya mengangguk pelan. Laki-laki dihadapannya ini tergolong memiliki paras tampan, tapi sayang sangat kaku dan juga datar. Sekertarisnya saja sudah sekaku ini, apalagi bosnya? Bisa saja kanebo kering.
“Silahkan masuk. Anda sudah ditunggu pak Dirga” Ucap laki-laki itu seraya membuka pintu dan mempersilahkan Dhea masuk.
“Baik, pak Pandu”
Dhea mengerjapkan matanya saat melihat laki-laki kaku itu pergi begitu saja setelah menutup pintu dari luar. Tidak adakah inisiatif laki-laki kaku itu untuk menemaninya? Tak tahukah bahwa Dhea sudah berkeringat dingin.
"Permisi, Pak. Saya ingin interview dengan bapak”
Dhea memandangi sekeliling ruangan yang didominasi warna hitam putih terlihat maskulin, belum lagi aroma parfum yang manly langsung menyambut aroma penciuman Dhea. Ruangannya saja nyaman, bagaimana yang punya ehh? Sepertinya Dhea perlu disadarkan agar tidak semakin gagal fokus. Mungkin akibat terlalu lama mencium bau keringat dan ketiak orang.
"Ekhem..." Deheman itu membuat Dhea mengalihkan pandangannya. Ia benar-benar malu akan ke tidak sopanan nya.
"Maaf, Pa—OM?” Dhea berteriak dan membelalak kedua matanya melihat pria yang entah sejak kapan sudah berdiri dihadapannya karena seingatnya, ketika ia masuk tidak ada orang sama sekali.
Pria itu sama terkejutnya seperti Dhea tetapi ia sudah menetralkan kembali raut wajahnya menjadi datar sebelum akhirnya duduk dan meletakan secangkir kopi dimejanya.
"Apakah kamu gadis yang akan menjadi asisten pribadi saya?”
“APA? ASISTEN?” Teriak Dhea toa tanpa memperdulikan pria dihadapannya yang sudah menatapnya dengan tajam.
Dhea benar-benar tidak menduga bahwa mamanya dengan begitu tega menyuruhnya bekerja menjadi asisten CEO yang sebutan halusnya dari kacung atau pesuruh.
“Kamu sepertinya terkejut menjadi asisten saya. Apakah kamu masih berharap ingin menjadi istri saya?” Pria itu memindai penampilan Dhea yang memakai kemeja lengan panjang yang tidak dikancingkan dengan tank top berwarna putih dan celana jeans. Gadis yang aneh dan benar-benar unik.
SHIT!
Dhea mengumpat dalam hati. Jika tahu akan bertemu kembali dengan om-om ganteng tapi galak dan songong itu pasti ia tidak akan mengucapkan kata-kata laknat itu yang pada akhirnya menjadi boomerang untuk dirinya. Benar-benar mempermalukan diri, terlebih saat pria itu kini menyeringai ke arahnya.
"Ngapain om liat-liat? Saya nggak sudi jadi istri om, lebih baik saya jadi asisten" Ucap Dhea sewot sambil mendelik tajam ke arah pria itu dan melirik papan nama yang berada di atas meja pria itu, Dirga Laksa Danuwarta.
"Baiklah, mulai hari ini kamu sudah bisa bekerja sebagai asisten pribadi saya" Ucap Dirga dengan penuh penekanan dan meletakkan setumpukan berkas pada Dhea yang mengernyit bingung.
“Kamu periksa dan pelajari berkas-berkas ini!”
Dhea berdecak, “Bukannya ini tugas sekertaris?”
“Terserah saya ingin memberikan tugas apapun. Bukankah kamu asisten pribadi saya? Dan sekertaris saya cuti mulai hari ini hingga satu minggu ke depan”
WHAT THE HELL!
Dhea membulatkan matanya dan dengan terpaksa mengambilnya. Ia mendengus dan mengumpat dalam hati.
"Bapak GILA!"
"Ingat saya atasan kamu, jangan membantah cepat kerjakan! Ruangan kamu ada disebelah ruangan saya" Perintah Dirga dengan tegas dan tidak terbantahkan.
Dengan malas Dhea berjalan keluar ruangan dan memasuki ruangannya, "Arghh! Nyebelin banget sih tuh Om-om!" Ucap Dhea dengan mencebikkan bibirnya kesal.
Ia memandangi ruangannya yang lebih kecil dari ruangan CEO tetapi cukup nyaman dengan adanya satu kamar mandi, sofa berukuran sedang yang terletak di ujung ruangan dan satu buah lemari berukuran sedang. Sepertinya ini ruangan sekertarisnya yang entah mengapa tiba-tiba bisa cuti, padahal tadi Dhea masih melihat laki-laki kaku itu.
Dhea mulai membaca dan membuka map itu. Hingga tak terasa telah masuk jam makan siang. Dhea merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku.
Kring..kring...
Dhea menatap telepon yang berada diatas meja kerjanya. Dengan malas ia mengangkat gagang telepon yang diletakan ditelinga nya.
"Hal—“
"Ke ruangan saya sekarang!"
Tutt..tutt..
Dhea menatap kesal sambungan telepon yang sudah terputus. Dengan sangat terpaksa Dhea melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan CEO tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu membuat Dirga menatapnya tajam.
"Ck! Kurang sopan apalagi kamu terhadap atasan?" Dirga berdecak.
Dengan cueknya Dhea duduk disofa yang berada diruangan CEO tanpa memperdulikan tatapan datar dan ucapan dari atasannya itu.
"Bapak bisa nggak sih langsung to the point? Nggak tau apa yah kalo saya tuh perlu makan"
"Buatkan saya kopi! Dan makan siang" Perintah Dirga dengan wajah datar.
"WHAT?" Teriak Dhea toa.
"Kamu tidak dengar? Buatkan saya kopi dan belikan saya makan!" Ulang Dirga dengan diktator.
Dengan malas Dhea mengangguk dan hendak ke luar ruangan sebelum Dirga kembali bersuara.
“Saya ingin makanan yang di restoran depan kantor, tidak pedas, berkuah tapi tidak panas—“
“Iyah, Pak. Tar saya beliin sop buntut yang kuahnya diganti air keran”
“Kamu ingin meracuni saya?”
Dhea memutar bola mata malas, “Mana mempan racunin orang pake air keran. Sekalian kalau racunin orang pake racun tikus atau sianida” Cibir Dhea yang langsung membuat Dirga melotot galak.
“DHEA!”
“Iyah, Pak. Saya pergi”
Dengan wajah ditekuk dan sesekali mengumpat Dhea langsung berjalan keluar ruangan Dirga, "Dasar om-om gila! dia pikir gue pembantu? Lagian mana mana mungkin kantor segede ini nggak ada OB nya?" Gerutu Dhea panjang lebar yang ternyata masih bisa terdengar oleh Dirga.
Dirga berdehem keras, "Kamu saya pekerjakan bukan untuk menggerutu!"
Dhea langsung menutup mulutnya dan mendelik kesal. Sebenarnya Dirga itu manusia jenis apa sih? Kanebo kering? Beruang pemarah? Atau om-om gila? Baru sehari bekerja saja sudah membuat ia kesal setengah mati, bisa-bisa ia darah tinggi untuk seminggu ke depan.
Sedangkan di ruangannya Dirga tengah menyeringai menatap sebuah berkas dengan map hijau yang tadi pagi diserahkan sekertarisnya. Dhea Nathalia Bramantha, benar-benar tak terduga pikir Dirga dalam hati. Awalnya ia hanya melihat nama asisten pribadinya yang baru atas permintaan Dylan—sahabatnya—yang merupakan adik Dylan, tapi ternyata saat melihat foto profilnya ternyata gadis itu adalah gadis barbar yang pernah ditemuinya. Benar-benar sebuah kejutan!