Dengan langkah gotai Dhea memasuki rumahnya. Tubuhnya benar-benar lelah terlebih lagi perasaannya. Padahal baru satu hari ia bekerja sebagai asisten sekalius sekertaris dadakan om-om arrogant itu, bagaimana seminggu ke depan. Pria itu diktator, arrogant, kanebo kering, beruang pemarah, banyak maunya, dan masih banyak lagi hal-hal menyebalkan dalam diri pria itu. Rasanya kepala Dhea nyaris ingin meledak mendengar laki-laki itu yang seharian terus berteriak memanggil namanya. “Dhea!” “Dhea! Saya mau dibuatkan kopi panas bukan kopi dingin!” “Dhea! Kamu mau membakar tenggorokan saya? Kopi ini terlalu panas! Ganti!” Dhea rasanya ingin menumpahkan kopi panas itu ke kepala Dirga, sekalian tidak hanya tenggorokannya saja yang terbakar tapi kepalanya juga. Tadi dibuatkan kopi yang hangat bilang

